Kata Psikolog dan Pakar Sosiologi

Awas Bisnis Keluarga! Materi Sering Picu Konflik

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes., Psikolog
Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes., Psikolog

i

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Kasus konflik dalam keluarga adalah hal yang biasa terjadi. Namun, yang terjadi dalam konflik keluarga Liek Muljanto beserta anaknya Royce Muljanto, pemilik diler Showroom Toyota Liek Motor menjadi situasi yang berbeda. Apalagi bila sudah menyangkut soal materi.

Konflik keluarga ini pun menjadi perhatian beberapa psikolog dan pakar sosilogi dari Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Negeri Surabaya. Diantaranya, psikolog dari Unair yakni Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si, Psikolog., dan Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes., Psikolog. Serta Pakar Sosiologi Unesa Dr. Agus Mahfudz Fauzi, M.Si, yang dihubungi Surabaya Pagi secara terpisah, Senin (15/2/2021).

Dewi Retno Suminar, menilai, kasus konflik keluarga sebetulnya hal biasa. Namun, untuk soal konflik akibat materi, bisa dikatakan, turun menurun dari keluarga itu sendiri. "Kasus konflik yang terkait materi banyak terjadi karena keterikatan emosi antara anggota keluarga menurun," ujar Dr Dewi Retno Suminar, M.Si. Psikolog, Senin (15/2/2021).

Didalam sebuah keluarga, tentunya terjadi komunikasi antara anggota keluarga. Pengasuhan orang tua akan tercermin dari perkembangan anak.

Dosen Unair itu memaparkan, ketika pengasuhan dalam keluarga hanya bersifat apa yang diberi dan apa yang didapat, maka disitulah mulai berkembang interaksi yang mengarah pada materi. “Jadi, orang tua berkata sudah membiayai anak dan anak merasa hutang budi lalu kemudian terjadilah perhitungan disini. Perhitungannya macam-macam,” paparnya.

Untuk itu, Dewi memberikan himbauan, agar dalam kasus konflik keluarga sebaiknya dalam pola interaksi keluarga tidak hanya secara biologi, fisik saja, namun perlu dikembangkan pola interaksi berdasar kelekatan emosi antara anggotanya.

“Misalnya seberapa sering anak memeluk  memperhatikan ayahnya dan juga sebaliknya seberapa sering orang tua memeluk anaknya,  apakah orang tua pernah mengasuh dengan menyampaikan bahwa kakak dan adik adalah saudara yang harus saling membantu," terangnya.

Pengasuhan orang tua yang hanya memperhatikan kecukupan materi namun tidak mengajari bagaimana membangun kelekatan antara anak anaknya bahkan ke orang tuanya juga tidak dibenarkan. "Namun kalau mau ditelusuri maka orang tua yang lebih dewasa yang harusnya berbenah. Bagaimanapun perilaku anak adalah cerminan bagaimana orang tua mengasuh anaknya," pungkasnya.

Hal senada juga diungkapkan Dr. Nurul Hartini, psikolog dari Unair, yang menilai dalam sebuah konsep psikologi, relasi anak dan orang tua memang sangat berpengaruh besar terhadap pola asuh. Untuk itu, keduanya harus saling membangun kedekatan. "Seyogyanya, relasi dalam keluarga bisa dibungkus dengan baik dan benar," ujar lulusan Universitas Padjajaran Bandung itu.

Meski pada hakikatnya hubungan antara anak dan keluarga harus dibangun secara harmonis, namun memang tidak menutup kemungkinan jika hasil yang diharapkan tidak sesuai. "Itu semua harus di gali. Terkhusus pada histori (konflik interpersonal) dari keseharian mereka. Atau bisa jadi ada histori lain,” kata Nurul Hartini.

Untuk itu, seiring berjalannya waktu, kedewasaan seorang anak akan tumbuh. Ia pun mengatakan, orang tua harus mengikuti perkembangan pada anaknya. Apalagi ketika anak nya sudah dewasa. "Secara psikolog, dewasa pada seseorang dapat dilihat dari sisi psikologis dan sosial," tambahnya.

Selain para Psikolog, pertikaian antara Royce dan Muljanto juga menjadi sorotan bagi pakar Sosiologi Unesa Dr. Agus M. Fauzi, M.Si. Dirinya mengungkapkan bahwa, konflik keluarga Liek Muljanto dan Royce berkutat pada cara komunikasi yang kurang baik. Bahkan, pada diri Royce, Agus menilai dirinya ingin lebih mandiri dan melepas dari bayang-bayang keluarganya.

"Saya lihat, terlepas siapa salah benar, cara berkomunikasi Royce memang kurang benar. Namun respon yang diberikan oleh Muljanto juga kurang baik," kata Agus.

Seiring bertambahnya waktu dan usia, orang tua perlu mengikuti pola pikir yang ada dalam diri anaknya. Mindset orang tua juga harus mengikuti perkembangan yang ada. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh orang tua kepada anaknya adalah dengan memanfaatkan media sosial. Media sosial memang erat kaitannya dengan anak milenial. “Maka dari itu, orang tua bisa menjadikan media sosial sebagai alat untuk mengikuti perkembangan anaknya, asalkan tidak menyalahgunakan media sosial," terangnya.

Selain itu, dirinya juga menurutkan jika, "Dalam dunia bisnis, meski itu bisnis keluarga, harus ada regulasi secara hukum. Nantinya itu akan menjaga satu sama lain," pungkasnya. mbi/cr2/rmc

Berita Terbaru

Baksos Warnai Rangkaian HUT ke-81 TNI di Lamongan

Baksos Warnai Rangkaian HUT ke-81 TNI di Lamongan

Minggu, 20 Sep 2026 17:54 WIB

Minggu, 20 Sep 2026 17:54 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Masih dalam Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Lamongan, sejumlah…

Empat Wakil Indonesia Berebut Gelar FFWS SEA 2026 Fall di Surabaya

Empat Wakil Indonesia Berebut Gelar FFWS SEA 2026 Fall di Surabaya

Minggu, 20 Sep 2026 17:48 WIB

Minggu, 20 Sep 2026 17:48 WIB

SurabayaPagi, Surabaya — Sebanyak 12 tim dari Indonesia, Thailand, dan Vietnam bertarung dalam Grand Finals Free Fire World Series Southeast Asia (FFWS SEA) 2…

Ranting NU Sugihan Bedah Rumah, Wujud Nyata Membersamai Warga

Ranting NU Sugihan Bedah Rumah, Wujud Nyata Membersamai Warga

Minggu, 20 Sep 2026 17:24 WIB

Minggu, 20 Sep 2026 17:24 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan – Kepedulian terhadap warga yang membutuhkan kembali ditunjukkan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Sugihan, Kecamatan S…

Janji Dana BKK Desa Sentul Bakal Turun Perbaiki TPS Sampah

Janji Dana BKK Desa Sentul Bakal Turun Perbaiki TPS Sampah

Minggu, 20 Sep 2026 16:51 WIB

Minggu, 20 Sep 2026 16:51 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo – Janji Pemkab Sidoarjo untuk memberikan dana Bantuan Khusus Keuangan (BKK) Desa Sentul, Kecamatan Tanggulangin, masuk tahap r…

Harga Daging Sapi di Situbondo Meroket Tembus Rp160 Ribu per Kilogram

Harga Daging Sapi di Situbondo Meroket Tembus Rp160 Ribu per Kilogram

Minggu, 20 Sep 2026 15:24 WIB

Minggu, 20 Sep 2026 15:24 WIB

SURABAYAPAGI.com, Situbondo - Harga daging sapi yang biasanya berada di kisaran Rp120.000 per kilogram, kini di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, menyentuh…

Lanjutkan Proyek JLS Ruas Munjungan-Prigi, Pemkab Trenggalek Mulai Bebaskan Lahan

Lanjutkan Proyek JLS Ruas Munjungan-Prigi, Pemkab Trenggalek Mulai Bebaskan Lahan

Minggu, 20 Sep 2026 15:20 WIB

Minggu, 20 Sep 2026 15:20 WIB

SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Menindaklanjuti progres proyek Jalur Lintas Selatan (JLS) ruas Munjungan-Prigi yang kini terus dikebut, Pemerintah Kabupaten…