SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Aktivitas penumpang kapal di Pelabuhan Tanjung Perak selama seminggu terakhir mulai membaik, sejak sebelumnya tak beroperasi akibat larangan mudik Lebaran 2021.
Dari pantauan di lapangan, ratusan calon penumpang kapal mulai memadati pelabuhan sejak pukul 09:45 WIB. Tujuan keberangkatan pun beragam. Rerata penumpang menuju ke wilayah timur Indonesia seperti Banjarmasin, Balikpapan, Lombok, Bau-Bau, hingga Papua.
Bahkan data dari Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), kapasitas penumpang per kapal mulai meningkat dari 200 penunpang ke 350 penumpang.
Naiknya jumlah penumpang di pelabuhan Tanjung Perak berdampak pada UMKM yang berada di ruang tunggu sementara terminal penumpang Gapura Surya Nusantara (GSN). Beberapa pelaku UMKM makanan yang ditemui Surabaya Pagi mengaku, pendapatan harian mereka sejak 20 Mei kemarin mengalami sedikit peningkatan.
Salah satu pengakuan datang dari Bu Lili (53). Menurutnya, hingga saat ini omzet per harinya bisa mencapai Rp750 atau naik 2 kali lipat dari biasanya.
"Biasanya hanya 300, 350 sekarang lumayan meningkat, berkah setelah Lebaran," kata Lili melepas tawa, Senin (24/05/2021).
Kendati meningkat, Lili mengaku bila dibandingkan dengan omzet sebelum pandemi covid-19 sangat jauh berbeda. Sebelum pandemi, omzet per hari bisa mencapai Rp2 juta hingga 3 juta untuk hari biasa. Namun ketika arus balik mudik berlangsung seperti sekarang, pendapatannya bisa menyentuh angka Rp5 juta per hari.
"Karena dulu di sini penuh mas, sampai gak seperti sekarang. Apalagi arus balik, itu kita kuat-kuatan saja. Bahkan gak bisa duduk, satu orang datang, belum selesai layani satu lagi datang," katanya.
Pedagang lainnya seperti Nusya (42) juga mengaku serupa. Omzet pasca lebaran mulai sedikit membaik. Bila biasanya ia hanya membawa pulang Rp500 ribu, sejak 20 Mei lalu omzetnya berada dikisaran Rp850 ribu hingga Rp1,2 juta.
"Ya lumayan mas, mungkin karena arus balik ya. Tapi kalau dibandingkan dengan dulu, masih sangat jauh," kata Nusya.
Nusya telah berjualan di Pelabuhan Perak sejak 2016 lalu. Biaya sewa stan miliknya per bulan sebesar Rp1 juta. Namun untuk menempati stan tersebut ia harus membayar tunai 2 tahun atau sekitar Rp24 juta.
"Ini beruntung kita sudah bayar lunas mas, jadi tidak mikir lagi biaya sewa. Hanya air dan listrik saja," ucapnya
Ia pun berharap agar pengelela terminal dapat meringankan biaya listrik seperti yang dilakukan pada tahun 2020 lalu.
"Ya pandemi begini semua merugi, kalau bisa Pelindo bantu dong. Kayak tahun lalu itu ada diskon listrik 50%," ucapnya berharap. Sem
Editor : Redaksi