Prof Tjipto: Sampai Kita Mati, tak Sanggup Bayar Utang

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Prof. Tjiptohadi Sawarjuwono
Prof. Tjiptohadi Sawarjuwono

i

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Jokowi  diprediksi akan mewariskan utang sebesar Rp10.000 triliun pada tahun 2024. Prediksi tersebut lantaran muncul tren kenaikan utang Indonesia yang naik 3 kali lipat dalam periode waktu 1 bulan. Demikian analisa dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Prediksi dari INDEF ini diamini oleh Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya Prof. Tjiptohadi Sawarjuwono.

Menurut Prof. Tjipto, tidak ada aturan rigid yang melarang suatu negara untuk berutang. Manakala terjadi defisit anggaran APBN maka salah satu upaya untuk menutupi pembiayaan tersebut adalah dengan melakukan pinjaman atau utang.

Hal ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah nomor 10 tahun 2021 tentang tata cara pengadaan pinjaman luar negeri dan hibah. Pasal 7 PP 10/2021 tersebut menyebutkan, penggunaan pinjaman luar negeri adalah untuk membiayai defisit APBN.

Data dari Kementrian Keuangan, hingga akhir Desember 2021, defisit APBN mencapai 4,65 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau sekitar Rp783,7 triliun.

"(Kenapa defisit) memang kita lihat pembangunan dimana-dimana, ada bangun jalan tol dimana-mana. Anggaran (pembangunannya) dari mana,  kalau bukan dari utang," kata Prof. Tjipto kepada Surabaya Pagi, kemarin.

Dilansir dari situs Direktorat Jendral Pembiayaan infrastruktur PUPR, setidaknya ada sekitar 12 proyek kerjasama pemerintah dan bandan usaha (KPBU) berupa jalan tol sepanjang tahun 2020-2021. Ke-12 proyek ini setidaknya menelan biaya investasi sebesar Rp 176 triliun.

Angka yang cukup besar bila dialihkan untuk pembiayaan kesehatan masyarakat. Mengingat, pertengahan 2021 lalu, Asian Infrastruktur Investment Bank atau AIIB dan Bank Dunia memberikan pinjaman kepada Indonesia sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,25 triliun. Pinjaman ini akan digunakan untuk memperkuat sistem kesehatan dalam menghadapi pandemi covid-19.

"Ini kan konyol. Boleh berutang, tidak ada yang larang. Hanya kalau ada anggaran yang bisa dipakai, ya kenapa harus berutang. Ditinggal dialihkan saja. Untuk sementara proyek-proyek yang tidak begitu mendesak, dihentikan. Sense of crisis atau kepekaan dari pemerintah itu yang dibutuhkan. Bukan ego ingin membangun, tapi tidak punya perioritas," katanya.

Tak hanya itu, Prof. Tjipto juga menyebut, keputusan negara ingin melakukan utang atau tidak harus dilandasi dengan hitung-hitungan terkait kemampuan membayar.

Indikator dalam mengukur kemampuan membayar negara terdapat pada income atau pendapatan negara. Salah satu sumber pendapatan negara adalah pajak.

"Jadi sebetulnya utang atau tidak tergantung pada income. Income itu antara lain dari pajak. Nah masalahnya kalau pajak dinaikan, akan menyusahkan masyarakat, pasti ribut semua. Padahal untuk menutup utang, incomenya harus balance," katanya.

Bila membandingkan rasio utang dan income negara terbilang sangat memprihatinkan. Data dari kementrian keuangan, hingga akhir Desember 2021 realisasi pendapatan negara mencapai Rp 2.003,1 triliun. Angka ini 3 kali lebih rendah dari utang negara yang telah menembus Rp 6.711,52 triliun. Atau secara rasio 1:3.

"Jadi harus dihitung income berapa, yang rutin ada pemasukan berapa. Selama itu ada pemasukan ya monggo. Kalau tidak ada income malah nambah utang. Istilahnya Gali lobang tutup lobang," katanya.

"Ya mungkin prediksi pak Didik itu betul. Saya tidak melihat detail seperti itu. Tetapi siapa saja pemimpinnya, harus benar-benar mengatur pengeluaran negara itu berdasarkan pemasukan. Lalu selebihnya untuk utang, kalau seperti yang dikatakan Pak Didik benar, ya sampai kita mati pun masih tidak bisa bayar utang, justru nambah utang," tambahnya.

Terkait pajak sendiri, ia pun memberikan kritikan khusus. Selama ini, masih terjadi ketidakadilan dalam pembayaran pajak. Bagi perusahaan besar, dapat memanipulasi pembayaran pajak dengan sejumlah permainan di pemerintahan. Sementara bagi pelaku UMKM diberikan beban pajak.

"Masalah kemerdekaan membayar. Perusahaan gede selalu bermain, seharusnya membayar pajak dengan x rupiah tapi dengan bermain, dia hanya membayar lebih rendah.Malah yang kecil-kecil ini seperti UMKM termasuk saya, membayar apa adanya. Itu tidak adilkan. Jadi negara harus benar-benar melihat ini. Supaya income kita bertambah," katanya. sem

Berita Terbaru

Kesehatan Gigi Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak, Ketua TP PKK Madiun Ingatkan Peran Ibu

Kesehatan Gigi Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak, Ketua TP PKK Madiun Ingatkan Peran Ibu

Sabtu, 27 Jun 2026 20:14 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 20:14 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun - Kesehatan gigi dinilai menjadi salah satu faktor penentu untuk mencegah stunting dan mendukung tumbuh kembang anak. Karena itu K…

Komisi D Segera Turun Tangan Atasi Kelangkaan Solar di Tingkat Petani dan Nelayan

Komisi D Segera Turun Tangan Atasi Kelangkaan Solar di Tingkat Petani dan Nelayan

Sabtu, 27 Jun 2026 19:45 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 19:45 WIB

SURABAYAPAGI.COM, SURABAYA – Komisi D DPRD Jawa Timur memastikan akan turun tangan menyikapi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Solar yang t…

KAI Daop 7 Madiun Pastikan Jalur Aman dan Operasional Normal Pasca-Gempa Pacitan

KAI Daop 7 Madiun Pastikan Jalur Aman dan Operasional Normal Pasca-Gempa Pacitan

Sabtu, 27 Jun 2026 19:02 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 19:02 WIB

SURABAYAPAI.com, Blitar – Gempa berskala 5.6 SR di Pacitan sore tadi ( Sabtu 27 Juni 2026), pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun p…

Kode "PWL" Terungkap di Sidang, Saksi Sebut Proyek PL Dikonsultasikan ke Maidi

Kode "PWL" Terungkap di Sidang, Saksi Sebut Proyek PL Dikonsultasikan ke Maidi

Sabtu, 27 Jun 2026 16:33 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 16:33 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Sidang dugaan korupsi berkedok CSR yang menjerat Wali Kota Madiun nonaktif Maidi mengungkap adanya kode “PWL” atau Petunjuk Pak Wali…

Rochim Kerjakan Urugan TPA Tanpa Kontrak, Saksi Sebut Atas Petunjuk Maidi

Rochim Kerjakan Urugan TPA Tanpa Kontrak, Saksi Sebut Atas Petunjuk Maidi

Sabtu, 27 Jun 2026 15:27 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 15:27 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Maidi disebut memberi petunjuk langsung terkait pengerjaan urugan di TPA Winongo senilai Rp600 juta yang diklaim sebagai CSR dari PT…

DPRD Jatim Soroti Serapan APBD Tidak Maksimal di Proyek Infrastruktur dan BTT

DPRD Jatim Soroti Serapan APBD Tidak Maksimal di Proyek Infrastruktur dan BTT

Sabtu, 27 Jun 2026 12:01 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 12:01 WIB

SURABAYAPAGI.COM, SURABAYA – DPRD Jawa Timur menyoroti masih adanya anggaran daerah senilai Rp2,05 triliun tidak terserap hingga akhir Tahun Anggaran 2025. R…