Catcalling, Komunikasi Keji yang Tak Bisa di Tolerir!

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
ilustrasi pelecehan seksual berupa catcalling
ilustrasi pelecehan seksual berupa catcalling

i

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Semakin marak terjadi pelecehan seksual akhir-akhir ini. Pelaku pun tak disangka-sangka melangsungkan aksinya diruang publik yang penuh dengan keramaian. Bahkan media sosial juga menjadi salah satu jalan bagi pelaku untuk menggerakkan aksi kejinya tersebut. Rabu (23/2/22).

Pelecehan seksual memang sedang marak terjadi di berbagai daerah. Perlahan, beragam kasus demi kasus mulai terungkap. Meski demikian, terungkapnya kasus keji tersebut tak juga membuat jera pelaku pelecehan seksual. Ironisnya, pelaku pelecehan seksual tak pandang bulu siapa korban yang akan di mangsa. Anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia sekalipun dapat menjadi sasaran bagi pelaku.

Tanpa di sadari, fenomena pelecehan seksual nyatanya sangat dekat dengan masyarakat. Keramaian dan ruang publik seakan tidak menjadi penghalang bagi pelaku yang ingin melangsungkan aksi kejamnya. Berbicara tentang keramaian dan ruang publik, street harassment berupa catcalling menjadi salah satu perilaku menjijikkan yang kerap kali terjadi. Namun sayangnya, tindakan keji tersebut seakan dilumrahkan oleh masyarakat sekitar.

Tak heran jika fenomena pelecehan seksual ini mengundang suara dari beberapa pakar komunikasi. Seperti Dhimam Abror dari Universitas Padjajaran, kemudian Rachmah Ida dan Suko Widodo dari Universitas Airlangga. Ketiga pengamat komunikasi ini sepakat bahwa edukasi sosial harus lebih ditingkatkan pada masyarakat mengenai pelecehan seksual.

 

Ketimpangan Budaya Komunikasi Antar Gender

Dhimam Abror menilai bahwa, "Catcalling itu cerminan dari budaya komunikasi antar gender yang timpang. Budaya jawa dan indonesia pada umumnya didominasi oleh budaya patriaki yang memberi posisi dominan laki-laki atas perempuan. Laki-laki menganggap perempuan sebagai 'konco wingking' yang tugasnya hanya masak, macak, dan manak," ujarnya saat di wawancara melalui sambungan telepon.

Lebih lanjut, mantan Ketua PWI Jatim itu menuturkan bahwa dengan kondisi dan situasi budaya seperti yang dijelaskan olehnya, maka terjadi dominasi maskulin dalam budaya Indonesia yang kemudian tercermin dalam budaya komunikasi gender. Akan tetapi, catcalling bukan berarti tak dapat di antisipasi. "Untuk mengantisipasi dampak buruk catcalling, harus ada penyadaran pada masyarakat terhadap kesetaraan gender dalam tata sosial publik. Yakni perempuan sama sejajar dengan laki-laki dalam hal respect dari satu dengan lainnya," ungkapnya.

Selain edukasi sosial, keterlibatan agama juga sangat dibutuhkan dalam memberantas kejahatan ini. "Peran agama juga penting untuk menyadarkan publik bahwa dalam agama, perempuan mempunyai posisi yang mulia sebagai ibu yang melahirkan dan mendidik generasi baru, dan karena itu perempuan harus diberi respek atas perannya," pungkas Dhimam Abror.

 

Tak Ada Toleransi Untuk Pelaku

Senada dengan Dhimam Abror, komentar selanjutnya datang dari Pakar Komunikasi Universitas Airlangga, yakni Rachmah Ida. Guru Besar Media pertama di Indonesia itu menilai bahwa catcalling muncul di permukaan ketika masyarakat mulai mengenal media sosial. "Kejahatan ini (catcalling) marak di era media sosial. Seseorang dapat dengan leluasa menyampaikan apa yang dia inginkan melalui jejaring sosial," kata Rachmah Ida.

Terlebih lagi, korban sering kali merasa malu dan merasa bingung harus dilaporkan kepada siapakah kekejian tersebut. "Sebagai korban, terkadang ada rasa malu dan tidak tahu harus melapor kepada siapa. Jika perilaku tersebut dilakukan melalui media sosial mungkin masih ada buktinya, namun jika dilakukan secara langsung agak susah menunjukkan bukti," urainya saat dihubungi melalui telepon. Maka dari itu, menurut Rachmah Ida, masyarakat harus dibekali lebih banyak edukasi sosial agar tidak sampai menjadi korban maupun pelaku catcalling.

Mengingat bahwa catcalling juga marak di media sosial, lanjut Rachmah Ida, "Penanganan pelecehan seksual semacam catcalling juga dapat digerakkan melalui media sosial. Masyarakat dapat membuat 'Gerakan Anti Pelecehan Seksual' di media sosial hingga trending dan menjadi fokus dari netizen," tutur Rachmah Ida.

Perlu disadari, karena fenomena catcalling telah melekat di kehidupan sosial, maka effort untuk melakukan antisipasinya juga membutuhkan konsistensi dan keteguhan. "Laporkan siapa saja yang melakukan meskipun si pelaku adalah orang yang dikenalnya. Apa yang telah dia lakukan merupakan simbol dari kejahatan. Dalam ruang lingkup pertemanan juga ada etikanya. Kejahatan semacam ini tidak dapat ditolerir lagi," tegasnya di akhir wawancara.

 

Tanamkan Edukasi Sejak Dini

Lebih lanjut, yakni Suko Widodo ikut memberikan komentar terkait kasus pelecehan seksual dalam bentuk catcalling. Doktor Ruang Publik pertama di Universitas Airlangga itu menilai bahwa pelaku dari kekejian tersebut merupakan cerminan dari masyarakat yang sangat minim pemahamannya mengenai gender.

Karena yang menjadi pelaku dan korban berasal dari semua kalangan umur termasuk anak-anak, Suko Widodo menghimbau untuk menanamkan edukasi kepada masyarakat sejak dini. "Lebih baiknya, edukasi dapat dimasukkan dalam kurikulum. Anak-anak dapat di edukasi sejak dini, sejak SD bahkan. Agar kelak dia bertumbuh akan lebih bisa menjaga diri," tukas Suko Widodo.

Sebelum wawancara ditutup, Suko Widodo menyampaikan jika, "Peradaban harus semakin berkembang. Mari kita bersihkan kriminalitas semacam ini. Kerugiannya sangat banyak, terlebih lagi bagi kesehatan mental korban," tutupnya. mbi

Berita Terbaru

Gandeng UMKM Organisasi Keagamaan, Bulog Siapkan 30 Outlet RPK Perkuat Ketahanan Pangan

Gandeng UMKM Organisasi Keagamaan, Bulog Siapkan 30 Outlet RPK Perkuat Ketahanan Pangan

Selasa, 30 Jun 2026 18:33 WIB

Selasa, 30 Jun 2026 18:33 WIB

SurabayaPagi, Surabaya - Perum BULOG terus memperluas jaringan distribusi pangan dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Melalui program Tanggung Jawab…

Pasar Murah di Singosari Malang, Gubernur Khofifah Tegaskan Komitmen Kendalikan Inflasi dan Jaga Daya Beli Masyarakat

Pasar Murah di Singosari Malang, Gubernur Khofifah Tegaskan Komitmen Kendalikan Inflasi dan Jaga Daya Beli Masyarakat

Selasa, 30 Jun 2026 18:29 WIB

Selasa, 30 Jun 2026 18:29 WIB

SurabayaPagi, Malang – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggelar Pasar Murah ke-77 Tahun 2026 di Halaman Pentungan Sari Waterpark, Desa Toyomarto, …

Polda Jatim Bongkar Tiga Kasus Penyelundupan Satwa Liar dan SDA di Bandara Juanda

Polda Jatim Bongkar Tiga Kasus Penyelundupan Satwa Liar dan SDA di Bandara Juanda

Selasa, 30 Jun 2026 18:26 WIB

Selasa, 30 Jun 2026 18:26 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Timur mengungkap tiga kasus penyelundupan satwa liar dan sumber daya a…

Grand Final HGI City Cup 2026, 32 Pemain Domino Terbaik Indonesia Berlaga di Surabaya

Grand Final HGI City Cup 2026, 32 Pemain Domino Terbaik Indonesia Berlaga di Surabaya

Selasa, 30 Jun 2026 18:24 WIB

Selasa, 30 Jun 2026 18:24 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Higgs Games Island (HGI), salah satu platform gaming strategi digital berbasis komunitas terbesar di Indonesia beberapa waktu lalu m…

Kemnaker dan Sampoerna Perkuat Hubungan Industrial Pancasila

Kemnaker dan Sampoerna Perkuat Hubungan Industrial Pancasila

Selasa, 30 Jun 2026 16:39 WIB

Selasa, 30 Jun 2026 16:39 WIB

Direktur PT HM Sampoerna Tbk., Rianto Probo Hartono, menegaskan bahwa hubungan industrial yang harmonis dibangun melalui kepercayaan, dialog, dan kolaborasi…

2 BUMD Perbankan Siap Kolaborasi dengan PT Jamkrida Jatim Perluas Akses Pembiayaan UMKM

2 BUMD Perbankan Siap Kolaborasi dengan PT Jamkrida Jatim Perluas Akses Pembiayaan UMKM

Selasa, 30 Jun 2026 16:11 WIB

Selasa, 30 Jun 2026 16:11 WIB

SURABAYAPAGI.COM, SURABAYA – Dua BUMD perbankan milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Bank Jatim dan Bank UMKM Jawa Timur, menyatakan kesiapannya memperkuat k…