SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pemerintah tengah menggencarkan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Namun sayangnya, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi untuk mewujudkan elektrifikasi di sektor transportasi.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, salah satu tantangannya adalah industri manufaktur untuk kendaraan listrik di Indonesia.
“Industri manufakturnya masih relatif baru di Indonesia,” kata Luhut dalam acara virtual Himpuni, Selasa (25/20/2022).
Selain itu, lanjut Luhut, tantangan lainnya adalah harga kendaraan listrik yang masih relatif lebih tinggi dari kendaraan konvensional dengan BBM. Ditambah lagi infrastruktur pendukung seperti pengisian energi dan fasilitas masih belum masif di Indonesia termasuk insentif keuangan.
"Harga kendaraan listrik yang masih relatif tinggi dari kendaraan Bahan Bakar Minyak atau BBM konvensional, dan infrastruktur pendukung seperti pengisian energinya juga fasilitas atau insentif keuangan yang masih belum masif," ujarnya.
Leboh lanjut, Luhut menambahkan, elektrifikasi sektor transportasi ini diharapkan menjadi solusi untuk mengatasi tantangan tingginya jumlah subsidi energi terutama untuk BBM dan tingginya emisi karbon yang menyebabkan pencemaran udara.
Menurutnya, teknologi elektrifikasi pada sisi transportasi sudah dapat dibuktikan handal di seluruh dunia. Indonesia juga memiliki pasokan listrik yang berlimpah di pulau jawa dan masih banyak lagi potensi EBT di masa berikutnya.
"Selain itu, terdapat pengurangan emisi yang signifikan dalam penggunaan kendaraan listrik, walaupun sumber listriknya masih beremisi untuk saat awal ini,” tuturnya..
Kendati ada banyak tantangan, Luhut optimistis dengan perkembangan teknologi dari waktu ke waktu pasti Indonesia akan bisa melakukan perbaikan. Menurutnya, semua stakeholder harus bekerja sama mulai dari pemerintah hingga institusi pendidikan yang semakin baik untuk menghadapi tantangan tersebut.
Ia menganggap bahwa tantangan tersebut hanya soal populasi. Menurut Luhut, jika populasi kendaraan yang signifikan dan terus tumbuh maka tantangan tersebut akan dipecahkan.
“Oleh yang namanya mekanisme pasar,” ucap dia.
Luhut menuturkan, pemerintah terus berkomitmen untuk mencari dan mendorong untuk memecahkan masalah populasi tersebut. Terlebih lagi, pemerintah saat ini juga telah mengeluarkan Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.
Ia akan mendorong implementasi Perpres ini untuk memberikan berbagai insentif kepada industri dan pengguna Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).
“Selain itu pemerintah dan BUMN juga akan menjadi early adopter EV lewat Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2022 dan peraturan menteri BUMN,” ucapnya.
Mengingat strategisnya pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, Luhut meminta dukungan dan masukkan seluruh pihak demi suksesnya program KBLBB ini. jk
Editor : Redaksi