SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Saya prediksi kemacetan di daerah Pasar Kembang - Jalan Pandegiling Surabaya, tidak bisa diselesaikan hanya dengan rekayasa lalu lintas saja. Persoalannya sudah semakin kompleks.
Misal pembangunan jembatan layang (fly over) Jalan Diponegoro hingga Pasar Kembang, sejak tahun 2015, makin membuat semrawut. Padahal flyover ini dibangun dengan dana APBN sebesar Rp 122 miliar.
Kawasan ini unik. Ya. Bukan sekedar perempatan jalan Pandegiling dan Jalan Pasar Kembang. Ada pertigaan Pasar Kembang - Jalan Banyu Urip - Jalan Diponegoro juga. Juga ada perempatan Girilaya - Jalan Banyu Urip - Jalan Pasar Kembang dan Jalan Diponegoro.
Juga ada tempat "ngetem" angkot dan beberapa ojol yang ngiup di tikungan Jl Banyu Urip-jl Pasar Kembang. Dan tak kalah semrawutnya Pasar Bunga, Toko Emas, Toko Hape, Jajanan dan kalender di ujung Pasar Kembang-Diponegoro. Uniknya, di kemacetan Pasar Kembang-Pandegiling Surabaya, ada jalan memutar dari Banyu Urip dan Pasar Kembang.
Bahkan, menjelang tikungan Jalan Pandegiling- Jalan Pasar Kembang, ada Pos Polisi Lalu Lintas Polsek Tegalsari. Tetapi tidak pernah kelihatan mengatur kesemrawutan wilayah itu. Padahal 3-4 tahun lalu, sempat ada petugas Polisi Lalu Lintas yang ikut mengatur. Saya pun pernah kena semprit saat itu, karena saat itu, setiap pagi mulai pukul 06:00 s/d 10:00 dan 16:00 s/d 18:00, hanya dibuat satu arah dari arah Pandegiling menuju Pasar Kembang. Sedangkan, dari Pasar Kembang menuju Pandegiling, tak boleh. Tapi kini sudah diperbolehkan. Dan makin semrawut. Petugas pun tak tampak.
Selain itu, sepanjang Jalan Pandegiling hingga ujung Pasar Kembang-Jl Diponegoro, tak ada tempat parkir. Disepanjang jalan ini kini diramaikan gerobak rujak buah. Padahal sebelumnya sudah sesak dengan rombong toko obat. Apalagi kini di sepanjang Jalan Pandegiling, makin banyak depot-depot atau jajanan kekinian yang buka. Akhirnya semakin menambah kemacetan.
Mulai pagi hingga tengah malam, ketika saya pulang kerja pun tetap padat dan semrawut.
Kemacetan Pandegiling Hampir Setiap Saat
Dulu, Flyover Pasar Kembang itu dibangun untuk membantu mengurangi volume kendaraan di Pasar Kembang-Banyu Urip-Girilaya.
Juga rekayasa yang dilakukan di Jalan Pandegiling sejak Selasa 5 Mei 2015 lalu untuk mengurai kemacetan di Jalan Pasar Kembang.
Saat itu, Jalan Pandegiling hanya boleh dilewati kendaraan roda empat dengan satu arah, dari barat ke timur atau dari Jalan Pasar Kembang ke Raya Darmo.
Juga sebelum jembatan layang dibangun ruas Jalan Diponegoro hingga Pasar Kembang rawan macet. Pemicunya, penyempitan jalan ke Pasar kembang.
Survei saat itu, jembatan layang ini bakal bisa mengurai kemacetan di sekitar pertigaan Pasar Kembang-Diponegoro.
Selain itu, juga untuk mengurai arus kendaraan dari Jalan Pandegiling.
Pemkot Surabaya juga melakukan usaha lain untuk memperlancar arus lalu lintas di simpang ini. Diantaranya, relokasi LPS (Lahan Pembuangan Sampah) yang berada di sudut sisi timur Jl. Pandegiling, pembangunan jalur pedestrian dan penataan PKL yang berada di sekitaran simpang.
Sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) yang biasa berjualan di sepanjang Jalan Pasar Kembang, merasa keberatan terhadap relokasi ke Pasar Kupang. Alasannya, kondisi Pasar Kupang yang berada di Jalan Pandegiling sangat kumuh dan tidak terawat.
Juga pernah ada wacana beberapa toko emas di Jalan Pasar Kembang atau depan Pasar Kupang akan digusur ke belakang untuk memperlebar jalan. Nantinya akan ada penataan yang strategis antara toko emas dan buah dengan pedagang bunga Pasar Kembang. Ini wacana.
Tapi setelah jembatan layang atau fly over jadi, apa yang direncanakan untuk mengurai kemacetan masih belum mengurai.
Bahkan, saat keluar dari Jalan Pandegiling menuju Jl. Pasar Kembang-Banyu Urip-Diponegoro, jam berapa pun, macet. Dari pagi hingga malam. Apalagi kalau pedagang eks Pasar Keputran paska digusur, saat buka lapaknya di dekat Jalan Pandegiling, diatas jam 21:00 WIB malam. Tambah semrawut.
Bongkar muat sayur mayur nyaris memakan setengah badan jalan. Hal ini sering dikeluhkan pengendara baik driver online, taksi ataupun pengemudi pribadi.
Yang paling sering "merugi" yakni driver online dan taksi. Pernah saya menggunakan jasa driver online, pulang kerja, sekitar jam 22:00 WIB, sejak tikungan dari Banyu Urip hendak ke arah lampu merah dibawah fly over Pasar Kembang, sudah padat merayap.
Sopir driver online itu ngedumel. "Makanya saya males pak kalau lewat sini (Jalan Pasar Kembang-Jalan Pandegiling) malam gini. Pasar dadakan malam itu bikin macet. Gini khan bikin habis-habisin bensin. Sementara, yang didapat dari operator sekarang gak seberapa," keluh driver online yang mengantar saya pulang kerja minggu lalu itu.
Belum lagi kalau sore hari dan pagi hari. Saat berangkat kerja dan pulang kerja. Dan disetiap menjelang akhir pekan, hari Jumat. Saut-menyaut klakson kendaraan roda dua, mobil, saling membaur. Bahkan, truk colt, hingga truk engkel pun saling serobot.
Maklum, di mulut jalan Pandigiling, terjadi tumpukan kendaraan dari berbagai arah. Padahal, kendaraan dari Banyu Urip, yang akan ke Jl. Pandigiling sudah dicegat "traffic light" di tikungan bawah flyover.
Ujung Jl. Pandigiling, mirip bottle neck. Maklum di kanan-kiri jalan (hok) ada kios gerabah dan koran serta soto ayam. Kios kios ini tak punya parkiran.
"Kalau mau gusur, siapa yang mau kasih ganti rugi," kata wanita penjual gerabah.
Selain itu, tak ada tempat parkir, juga semakin bikin macet. Toko Hape yang buka di Jalan Pandegiling juga mengakui.
"Kadang disini sulit parkir, mas. Makin padet. Itu ada pos polisi, tapi yah gak berfungsi juga. Gak pernah keliatan," celetuk SPG toko HP saat saya temui.
Tak hanya itu, beberapa jajanan kekinian yang buka, dan membuat viral di media sosial itu juga kerap bikin macet. Mulai dari depot cuanki, gerai Suegeerrr, dan beberapa warung Usus Goreng yang setiap malam ramai ini, juga kesulitan parkir.
Kini, sejak flyover sudah jadi, hingga kini, bagaimana Pemkot, Dinas Perhubungan dan Satlantas bisa mengurai kemacetan di wilayah itu.
Soalnya, Lalu lintas di jl. Pasar Kembang- Diponegoro-Pandigiling-Banyu Urip dibawah flyover, adalah kawasan macet paling krusial di wilayah barat.
Tidak hanya saat jam berangkat- pulang kerja. Hampir tidak jam, kepadatan kendaran, parkir di mulut trotoar dan pedagang PKL pemandangan yang membikin sepet mata.
Darimana, pertama mengudari kemacetan di kawasan ini.? Melakukan rekayasa lalu lintas tak semudah menata kemacetan Jl. Pandigiling-Jl.Imam Bonjol. Lalu apa mesti memperlebar bangunan di sepanjang Jl. Pasar Kembang? Ini butuh dana yang tidak kecil. Mengingat akan menyentuh stan stan di perempatan Jl. Pasar Kembang-Jl.Pandigiling. Ada aspek kemanusiaannya. Disana, orang kecil mengais rejeki. Inilah potret kota Surabaya masa kini.
Bila kemacetan di kawasan flyover Pasar Kembang tak segera dipecahkan, saya prediksi bakal timbulkan kemacetan tambahan di Banyu Urip. Mengingat, sedikitnya sudah tiga tahun, Jl. Banyu Urip menjadi jalan alternatif "atasi " kemacetan di Jl. Mayjen Sungkono ke arah pemukiman elite di Surabaya Barat. Mas Wali Kota Eri atau Cak Ji harus turun sendiri memecahkan masalah ini. Karena kalau tidak diatasi, apa mau Kota Surabaya tetap dianggap sebagai kota Termacet di Indonesia? ([email protected])
Editor : Desy Ayu