SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pada tahun 2023 ini, Malam 1 Suro diperingati pada Rabu (19/07/2023) sementara dalam kalender Jawa bertepatan dengan 1 Muharram 1444 H dan diyakini sebagai waktu di mana energi spiritual yang kuat mengalir dan dunia gaib berdekatan dengan dunia manusia.
Malam Satu Suro sendiri merupakan malam tahun baru yang ada di dalam kalender Jawa dan menjadi pertama dalam bulan Suro. Masyarakat Jawa tradisional percaya, jika Malam Satu Suro merupakan malam keramat, terlebih jatuhnya tepat pada hari Jumat.
Masyarakat Jawa percaya bahwa Malam Satu Suro memang dianggap begitu keramat. Pada malam yang penuh tantangan ini orang-orang dilarang bepergian, kecuali berdoa atau kegiatan ibadah lainnya.
Selain untuk melakukan ibadah, masyarakat di tanah Jawa dilarang untuk keluar rumah. Pasalnya, banyak energi negatif yang bergentayangan. Di mana energi negatif tersebut nantinya bisa mencelakai diri sendiri.
Malam Satu Suro kerap diperingati di malam hari, tepatnya ba'da Magrib pada hari sebelum tanggal satu. Hal tersebut dilakukan karena adanya pergantian hari Jawa yang dimulai pada saat matahari terbenam, bukan pada tengah malam.
Masyarakat Jawa tradisional juga mempercayai bahwa tiga pemilik weton di bawah ini akan terkena sial jika nekat keluar rumah pada Malam Satu Suro. Beberapa di antaranya, Sabtu Pahing, Selasa Pon, dan Minggu Legi.
Bagi masyarakat Jawa, tradisi Malam Satu Suro sangat beragam, semua tergantung dari daerah yang ditempatinya. Beberapa di antaranya ada yang melakukan Tapa Bisu atau mengunci mulut tanpa berbicara sedikitpun selama ritual. Dimana tradisi tersebut dimaknai sebagai sebuah upacara untuk mengintropeksi diri, berkaca pada diri dengan apa yang pernah dilakukannya selama setahun penuh.
Makna Perayaan Malam Satu Suro
Selain diyakini penuh mistis dan malam keramat, terdapat satu aspek penting dari perayaan ini adalah meningkatkan kesadaran spiritual. Malam Satu Suro menjadi momen yang tepat untuk merenungkan arti kehidupan, menggali lebih dalam nilai-nilai spiritual yang ada dalam diri, dan menjalankan praktik-praktik yang memperkuat hubungan dengan Tuhan.
Individu dapat melakukan meditasi, dzikir, atau doa-doa khusus untuk menghubungkan diri dengan dimensi gaib dan mencari peningkatan spiritual.
Selain itu, Malam Satu Suro juga melibatkan penghormatan kepada leluhur dan arwah yang telah meninggalkan dunia ini. Dalam tradisi Jawa, orang-orang percaya bahwa leluhur memiliki peran penting dalam kehidupan mereka.
Malam Satu Suro menjadi kesempatan yang berharga untuk berkomunikasi dengan leluhur melalui doa, sembahyang, atau ritual tertentu. Dalam momen ini, individu bisa merenungkan jasa leluhur dan meneruskan warisan mereka.
Misteri Malam Satu Suro Menurut Islam
Dalam ajaran Islam sendiri, mencela waktu termasuk bulan hukumnya adalah haram, ini merupakan kebiasaan orang-orang kafir jahiliyah.
Mereka menganggap bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini. sebegaimana pernah dijelaskan dalam firmanNya,
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah [45] : 24).
Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang harus dihindari setiap mukmin.
Begitu juga dalam berbagai hadits nabawi disebutkan tentang larangan mencela waktu. Dalam shohih Muslim, dibawakan Bab khusus dengan judul ‘larangan mencela waktu (ad-dahr)’.
Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim)
Dalam lafadz yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَإِنِّى أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ‘Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan ‘Ya khoybah dahr’ (dalam rangka mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.” (HR. Muslim)
Sementara itu, apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla.
Perlu diketahui bahwa mencela waktu bisa membuat kita terjerumus dalam dosa bahkan bisa membuat kita terjerumus dalam syirik akbar (syirik yang mengekuarka pelakunya dari Islam).
Perhatikanlah rincian Syaikh Muhammad bin Sholih dalam kitab Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid berikut. Mencela waktu itu terbagi menjadi tiga macam:
Pertama: jika dimaksudkan hanya sekedar berita dan bukanlah celaan, kasus semacam ini diperbolehkan.
Misalnya ucapan, “Kita sangat kelelahan karena hari ini sangat panas” atau semacamnya.
Hal ini diperbolehkan karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Hal ini juga dapat dilihat pada perkataan Nabi Luth ‘alaihis salam,
هَـذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ
“Ini adalah hari yang amat sulit.” (QS. Hud [11] : 77)
Kedua: jika menganggap bahwa waktulah pelaku yaitu yang membolak-balikkan perkara menjadi baik dan buruk, maka ini bisa termasuk syirik akbar.
Karena hal ini berarti kita meyakini bahwa ada pencipta bersama Allah yaitu kita menyandarkan berbagai kejadian pada selain Allah.
Barang siapa meyakini ada pencipta selain Allah maka dia kafir. Sebagaimana seseorang meyakini bahwa ada sesembahan selain Allah, maka dia juga kafir.
Ketiga: jika mencela waktu karena waktu adalah tempat terjadinya perkara yang dibenci, maka ini adalah haram dan tidak sampai derajat syirik. Tindakan semacam ini termasuk tindakan bodoh (alias ‘dungu’) yang menunjukkan kurangnya akal dan agama. dsy
Editor : Desy Ayu