SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Gibran, sejauh ini sepertinya "dipaksa paksakan" jadi Cawapres. Terbaru pada rakernas relawan Projo di GBK, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (14/10/2023), Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Wali Kota Surakarta (Solo) Gibran Rakabuming Raka, dideklarasikan sebagai bakal capres Pilpres 2024. Juga Gibran, diutak atik akan dampingi Prabowo Subianto? Padahal usia Gibran, belium penuhi syarat maju cawapres. Sebab gugatan syarat minimal usia cawapres belum diputus MK.
Ini catatan jurnalisme saya sejak anak sulung Jokowi dipaksa jadi Wali Kota Solo, 26 Februari 2021.
Proses masuknya Gibran ke dalam gelanggang kontestasi Pilkada disertai proses politik yang pro-kontra. Tahun 2021 lalu menjadi perbincangan hangat di masyarakat Solo.
Gibran Rakabuming Raka mengungkap alasan ia mau menjadi Wali Kota Surakarta. Putra Presiden Joko Widodo itu mengaku ingin berkontribusi kepada kota kelahirannya. "Ini bukan masalah pengen dan nggak pengen. Ini masalah pengabdian mungkin ya,"kata Gibran.
Ketua Bapilpres Projo, Panel Barus, bicara mengenai capres pilihan Presiden Jokowi. Ia menyebut capres pilihan rakyat pasti jadi pilihan Jokowi.
.Pilihan rakyat, pasti pilihan pak Jokowi dan pasti pilihan Projo," ujar Panel di acara Adu Perspektif yang disiarkan detikcom berkolaborasi dengan Total Politik, Rabu (11/10/2023).
Ia berpendapat Pemilu 2024 adalah pestanya anak muda. Sebanyak 52% pemilih dari golongan anak muda.
"Pilpres 2024 itu juga menjadi kickoff kepemimpinan muda Indonesia," terang Panel.
Siapa yang dimaksud, Gibran.
***
Saya pernah mengikuti pelatihan kepemimpinan saat kuliah. Diajarkan oleh beberapa politisi.
Menurut mereka, kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam Negara.
Terungkap, sebagian besar keberhasilan dan kegagalannya bergantung pada kepemimpinan tersebut. Pemimpin mempunyai tanggung jawab, baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.
Bagi saya Soekarno itu seorang pemimpin. Soekarno, dalam memimpin negara Indonesia yang sangat luas dan beragam ini, tidak hanya berkharisma dan berwibawa, tetapi ia juga seorang cendekiawan dan ideolog. Apalagi dari gaya kepemimpinannya, tidak diragukan lagi kalau Soekarno masuk dalam golongan pemimpin bergaya kharismatik, yang memiliki daya tarik, berwibawa serta energi yang luar biasa sehingga mampu mempengaruhi orang lain untuk menjadi pengikutnya. Bahkan Soekarno sangat ahli dalam mengubah presepsi orang lain sehingga mampu membuat mereka mau mengikuti perintah dan keinginannya dengan senang hati.
Bagaimana dengan gaya kepemimpinan Gibran.?
Gibran yang kental dengan jiwa entrepreneurship, tiba-tiba menjadi pemimpin sektor publik. Tidak heran, banyak pihak yang meragukan potensi dan kemampuan Gibran dalam memimpin. Tanpa banyak bicara, Gibran pun membuktikan kemampuan kepemimpinan melalui hasil kinerjanya.
Gibran, tampaknya adopsi Ahok dan Joko Widodo, sapa saja bisa menjadi tokoh nomor satu dalam pentas politik di Indonesia. Gibran, Ahok dan Joko Widodo, tidak pernah menjadi Ketua Partai politik.
Ahok bersama Joko Widodo, terbukti menjungkirbalikkan tatanan pemahaman—norma bagi mereka yang layak tampil sebagai tokoh pimpinan perpolitikan di Indonesia.
Keduanya tidak perlu mengait-ngaitkan diri dengan nama keluarga besar. Keduanya tidak menunjukkan kocek maha tebal. Keduanya tidak bertampang dan berperawakan layaknya pangeran dari Hollywood. Apa adanya, dari latar belakang sosial yang justru lebih banyak kurangnya dari lebihnya.
Justru yang mereka tampilkan, track record mereka selama ini, adalah kemauan untuk kerja keras, kejujuran, dan berani menjalankan kebijakan yang mereka anggap baik untuk masa depan rakyat.
Oleh sebab itu, Gibran, meski kini kader PDIP dapat menentukan pilihannya sendiri untuk bergabung ke Prabowo, yang beda partai.
Namanya mulai meliuk- liuk dimainkan sejumlah relawan. Gibran, cenderung dipolitisasi.
Padahal, kata “politisasi” kerap mengandung konotasi negatif. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan cara-cara berpolitik yang tidak etis dan sangat pragmatis.
Kesan saya, seolah ada kesepakatan umum, termasuk para politisi, untuk memusuhi kata “politisasi”. Padahal tidak ada jaminan juga semua politisi benar-benar bebas dari politisasi.
Politik akhirnya diupayakan untuk membersihkan diri dari kotoran-kotoran politisasi. Setidaknya, untuk mewujudkan politik yang beretika dan santun. Tapi, upaya ini sangat tidak mudah dilakukan. Problemnya, bagaimana bisa mengetahui dan membedakan suatu hal itu murni politik, ataukah ia sebenarnya hanya politisasi?
Kini, meski masih berbentuk wacana, isu Gibran, bakal cawaprea sudah sangat liar dan ditarik ke segala arah yang memiliki kepentingan-kepentingan setidaknya untuk pilpres 2024. Lalu, ramailah diskusi di media apakah soal Gibran, layak cawapres secara kemampuan atau karbitan.
Berdasarkan catatan jurnalistik saya, soal pencawapresan Gibran,bisa merupakan politisasi inspirasi elite politik. Bisa juga murni aspirasi masyarakat.
Aspirasi masyarakat adalah harapan dari masyarakat untuk keberhasilan pada masa yang akan datang. Tentu berkaitan dengan hajat hidup mereka, baik secara individu maupun secara kelompok.
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka akankah menjadi pendamping Prabowo Subianto sebagai Calon Wakil Presiden? Bila benar? siapa yang diuntungkan?. Pertama, secara biologis Jokowi dan Iriani, istrinya. Kedua, Keluarga Jokowi. Ini terkait politik dinasti. Ketiga Jokowi, karena ia bisa raih MURI. Keempat , masih Jokowi, karena Gibran bisa teruskan dan kawal proyek Jokowi IKN. Kelima, memperhitungkan pemilih muda yang jumlahnya 52�ri total pemilih. Poin lima ini belum bisa diketahui, kaena belum ada lembaga survei independen yang melalukan penelitian benarkan pemilih muda tertarik dengan performance Gibran selama ini?. ([email protected])
Editor : Moch Ilham