Saya menilai, debat kelima Pilpres 2024 berjalan tak sepanas biasanya. Debat terakhir sebelum pemungutan suara menampakkan semangat rekonsiliasi. Debat kelima mengisyaratkan spirit politik rekonsiliasi. Faktanya tidak seperti debat-debat sebelumnya yang sarat dengan intensitas serangan panas. Debat kelima ini justru menunjukkan sejumlah sikap yang cukup simpatik di antara para kontenstan.
Menurut saya, meski tak sepanas biasanya, debat kelima tetap dihiasi serangan seperti soal distribusi bansos hingga ketimpangan.
Namun, serangan ini tidak sekeras debat sebelumnya.
Takaran serangannya, tidak sekuat debat-debat sebelumnya. Karena itu, debat pamungkas ini seolah memberikan pesan tentang proses pendinginan (cooling down), sehingga politik pecah belah tidak berkembang jelang Pemilu 14 Februari.
Saya menyebut Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo kembali menunjukkan kekompakan dengan mencoba saling memancing Prabowo. Menurut saya, Prabowo kali ini lebih siap dalam menghadapi serangan-serangan di debat kelima.
Namun penampilan Prabowo kali ini tampaknya lebih siap dibanding debat sebelumnya yang tampak hanya pasrah menikmati serangan rival. Di debat pamungkas ini, sejumlah poin-poin penting dan detail argumen solutif bisa ia paparkan. Sehingga ruang serangan terhadap capres 02 relatif tidak sekuat debat-debat sebelumnya.
Dalam debat pamungkas, Prabowo cukup diuntungkan dengan diberikan kesempatan pertama untuk memaparkan visi misi, sehingga dirinya bisa menghindari kegusaran akibat preemtive attack yang dilakukan oleh lawannya di momentum serangan awal.
Saya lihat tema pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia (SDM), memang relevan dengan Anies. Dab Anies mampu menghadirkan sejumlah argumen filosofis tentang pentingnya investasi SDM, yang akhirnya disetujui oleh dua paslon lainnya.
Sayang, Ganjar dan Prabowo juga tampak mampu mengimbangi dengan jawaban yang berbasis pengalaman lapangan masing-masing.
Jadi debat kelima ini, ada paslon yang mencoba menggunakan sejumlah narasi dan argumen untuk dioptimalkan guna mengonsolidasikan basis dukungan elektoral. Umam menyoroti strategi Anies dan juga Prabowo.
Misalnya, Anies sering menggunakan terminologi Jawa, untuk mengonsolidasikan basis pemilih dari segmen Jawa. Anies juga beberapa kali menggunakan argumen Islam moderat, yang bisa diarahkan untuk mengonsolidasikan dukungan Nahdliyin yang saat ini terfragmentasi. Sementara itu, janji Prabowo untuk membantu keraton-keraton kerajaan dan kesultanan, berpotensi mengonsolidasikan basis pemilih adat dan para raja-raja di tingkat lokal yang juga masih punya pengaruh dan akar sosial-politik di wilayah masing-masing. n rmc
*) Disampaikan Ahmad Khoirul Umam dalam keterangan tertulis yang dikirimkan kepada redaksi, Senin (5/2/2024).
Editor : Moch Ilham