Fadhilah Ramadhan (15): Puasa Mutih

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

Saya adalah orang Jawa. Menurut mama saya, sebagian masyarakat Jawa (kejawen) memiliki berbagai jenis puasa. Ini tentu ouasa-puasa di luar perintah agama. Dan t bukan tanpa tujuan. Mereka yang mempercayai, dengan menjalani laku prihatin berupa puasa yang terdapat beberapa varian. Artinya jika berhasil melaksanakan, mereka yakin akan memperoleh energi spiritual atau gaib.

Bentuk kekuatan gaib tersebut bermacam-macam. Tergantung apa yang diinginkan. Doa apa yang dipanjatkan serta jenis puasa apa yang dijalankan. Ada yang ingin agar memiliki ilmu kesaktian, kekebalan, kewibawaan, pengasihan, kesuksesan serta berbagai keinginan lain.

Menurut kepercayaan, untuk memeroleh ilmu tertentu, harus ditebus dengan laku prihatin khusus, di antaranya puasa sambil membaca mantera selama menjalani ritual. Jenis-jenis puasa yang kerap dilakukan sebagai tebusan untuk memeroleh ilmu supranatural, ada beberapa macam.

Puasa mutih dilakukan oleh mereka yang ingin memilki ilmu gaib dan memeroleh keberhasilan dalam berusaha. Seperti namanya, dalam ritual ini seseorang yang menjalaninya dilarang untuk mengonsumsi apa pun selain yang berwarna putih. Biasanya, para pelakunya hanya akan makan nasi dan air putih.

Puasa mutih biasanya dimasukkan dalam salah satu bagian dari sebuah ritual panjang. Tujuannya sendiri macam-macam. Pada umumnya untuk menguasai ilmu-ilmu gaib tertentu. Ada juga yang melakukannya untuk tujuan keberhasilan.

Puasa ini tak terikat waktu, bisa hanya 3 hari atau bahkan 40 hari. Lazimnya saat menjalani puasa mutih didampingi guru spiritual.

Mahapatih Gajah Mada pernah secara lantang menyerukan sumpahnya pada sebuah pertemuan yang dihadiri pada pejabat tinggi Majapahit. Dirinya berkata akan melakukan amukti palapa sampai Majapahit bisa menaklukkan Nusantara.

Praktis, tidak ada yang bisa memastikan apa maksud dari amukti palapa. Namun ada yang menafsirkan, Gajah Mada ketika itu sedang bernazar. Dirinya akan melakukan puasa mutih demi tercapai angan-angannya.

“Ada yang menafsirkan amukti palapa sebagai tindakan makan nasi saja, tanpa lauk, tanpa perasa, santan. Ada yang menafsirkan begitu,” ujar Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang yang disadur dari Historia, Minggu (3/4/2022).

Filolog dan sejarawan Slamet Muljana dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit menyebut amukti palapa sama halnya dengan bertapa. Orang yang sedang ngalapa, katanya, bisa dikatakan sedang mutih karena makan nasi tanpa perasa apapun.

Hal yang dilakukan oleh Gajah Mada ini masih bisa ditemui oleh masyarakat Jawa khususnya penghayat Kejawen. Puasa mutih, biasanya dilakukan ketika ingin menggapai keinginannya, saat itu pantang mengkonsumsi apapun selain nasi putih dan air putih.

Puasa mutih juga hanya salah satu di antara banyak jenis puasa yang dikenal orang Jawa. Ada puasa ngebleng, tidak makan-minum selama 24 jam penuh selama tiga hari dengan harapan bisa menguatkan sukma para pelakunya. Semoga bermanfaat. ([email protected])

 

 

Oleh:

Hj Lordna Putri

Berita Terbaru

Berakhir di Balik Jeruji — Tersangka Dugaan Pungli ESDM Jatim Oni Setiawan Meninggal Usai Alami Serangan Jantung

Berakhir di Balik Jeruji — Tersangka Dugaan Pungli ESDM Jatim Oni Setiawan Meninggal Usai Alami Serangan Jantung

Sabtu, 19 Sep 2026 12:16 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 12:16 WIB

SURABAYA0AGI.com, Surabaya — Kabar duka datang dari penanganan perkara dugaan tindak pidana korupsi berupa pungutan liar (pungli) di lingkungan Dinas Energi d…

Benahi Profesi dari Dalam — Ketua Umum AAI Tjandra Sridjaya Dorong Advokat Perkuat Kompetensi dan Kebersamaan

Benahi Profesi dari Dalam — Ketua Umum AAI Tjandra Sridjaya Dorong Advokat Perkuat Kompetensi dan Kebersamaan

Sabtu, 19 Sep 2026 12:15 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 12:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya — Pembenahan profesi advokat tidak cukup hanya dengan memperkuat organisasi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), k…

Kick Off Hari Santri di Lamongan, Diawali Jelajah Santri Sako Pramuka Pandu Ma’arif

Kick Off Hari Santri di Lamongan, Diawali Jelajah Santri Sako Pramuka Pandu Ma’arif

Sabtu, 19 Sep 2026 10:57 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 10:57 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan – Kick off peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Lamongan, diawali dengan kegiatan Jelajah Santri Sako Pramuka P…

Puluhan Ribu Alumni Gontor Padati Pondok Jelang Peringatan 100 Tahun

Puluhan Ribu Alumni Gontor Padati Pondok Jelang Peringatan 100 Tahun

Sabtu, 19 Sep 2026 10:44 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 10:44 WIB

SURABAYA PAGI, Ponorogo- Puluhan ribu alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) dari berbagai penjuru dunia memadati kawasan pondok untuk mengikuti…

Minat Investasi Emas Menguat, HSBC Indonesia Hadirkan Reksa Dana Saham Syariah

Minat Investasi Emas Menguat, HSBC Indonesia Hadirkan Reksa Dana Saham Syariah

Sabtu, 19 Sep 2026 09:29 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 09:29 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Meningkatnya perhatian investor terhadap emas sebagai bagian dari diversifikasi portofolio mendorong PT Bank HSBC Indonesia (HSBC I…

Gugatan Sengketa Lahan Tidak Diterima, Kiagus : Silahkan Ambil Lahan, Ganti Investasi Kami

Gugatan Sengketa Lahan Tidak Diterima, Kiagus : Silahkan Ambil Lahan, Ganti Investasi Kami

Jumat, 18 Sep 2026 21:41 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 21:41 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun — Direktur PT Jatim Parkir Center (JPC), Kiagus Firdaus, membuka peluang penyelesaian sengketa lahan melalui negosiasi setelah Pen…