Komoditas Udang Diandalkan Prabowo

author surabayapagi.com

- Pewarta

Senin, 03 Jun 2024 20:06 WIB

Komoditas Udang Diandalkan Prabowo

i

Presiden Jokowi saat bersama Prabowo Subianto dan Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono meninjau Budidaya Tambak Udang, di Jawa Tengah, baru-baru ini.

Banyuwangi Punya Potensi Besar di Bidang Perikanan Air Tawar Khususnya Udang

 

Baca Juga: Duet Khofifah-Emil, Digoyang PDIP

SURABAYAPAGI.COM, Banyuwangi - Pemerintahan Prabowo-Gibran, punya cita-cita besar yaitu Indonesia  bisa punya bursa perikanan sendiri. Salah satu komoditas yang dapat menjadi andalannya adalah udang.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono optimistis industri perikanan bisa menjadi mesin penggerak ekonomi Indonesia menuju pertumbuhan di atas 8%, seperti yang ditargetkan presiden terpilih Prabowo Subianto. Hal ini didukung dengan penerapan modeling Penangkapan Ikan Terukur (PIT).

"Kalau saya bilang, suatu saat Indonesia itu harus bisa menjadi bursa perikanan. Contohnya begini, di Arafura ini kan terkenal udang laut," kata Trenggono di Kota Tual, Minggu (2/6/2024).

 

Potensi Besar Banyuwangi

Informasi yang berhasil dikumpulkan wartawan Surabaya Pagi, Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi besar di bidang perikanan. Bukan hanya perikanan tangkap, kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini punya potensi sangat besar di bidang perikanan air tawar dan air payau, khususnya udang.

Jumlah produksi udang di Banyuwangi pada tahun 2018 lalu nyaris mencapai 20 ribu ton, tepatnya 19.900 ton. Dengan total produksi sebesar itu, Banyuwangi menjadi daerah dengan total produksi udang terbesar di Jatim. Di sisi lain, Jatim merupakan provinsi penghasil udang tertinggi di tingkat nasional.

Tapi sejak tahun 2023, sebanyak 78.000 hektar tambak udang di sepanjang Pantai Utara Jawa (Pantura), mulai Serang, Banten dampai Banyuwangi, Jawa Timur tidak terpakai alias nganggur.

Menurut Presiden Joko Widodo jika ada sekitar 78.000 hektar tambak udang yang tidak terpakai atau idle, di sepanjang Pantura Jawa.

Informasi ini diperoleh dari Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, Senin (3/6).

Orang nomor satu di Republik Indonesia ini menyebutkan setelah dihitung-hitung, alih fungsi tambak udang menjadi budi daya lain yang bernilai ekonomi seperti tambak nila salin memakan biaya hingga Rp 13 triliun.

Dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, BUBK Kebumen Senin (3/6) masih merupakan tambak udang modern terbesar di Indonesia dengan luasan lahan potensial mencapai 100 hektare.

Baca Juga: Final, Gerindra Jatim All Out Kawal Restu Prabowo Menangkan Khofifah-Emil di Pilgub

Selain beberapa daerah penghasil utama produksi udang Jatim, yakni Sidoarjo, Banyuwangi, Situbondo, Surabaya, dan Sampang.

Secara geografis, lokasi Kabupaten Sidoarjo dapat dikategorikan sebagai dataran delta. Ini menjadi alasan kenapa Kabupaten Sidoarjo bisa memiliki banyak tambak seperti tambak ikan bandeng atau tambak udang. Dan ini  menjadi ikon kabupaten ini.

 

Indonesia Peringkat Keenam

Berdasarkan data dari International Trade Center (trademap.org), nilai ekspor Perikanan (HS 03 dan 1603-1605) dunia di pasar global pada tahun 2021 mencapai US$164,24 miliar atau naik 15,34 persen year on year (yoy)

Khusus untuk produk udang dan olahannya, Indonesia mampu menempati peringkat keenam setelah India, Ekuador, Tiongkok, Kanada dan Vietnam," jelas Kepala Divisi IEB Institute, Rini Satriani, tahun 2022.

Trenggono mengatakan, Indonesia punya potensi yang begitu besar di sektor perikanan dan kelautan, namun banyak yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Apabila bisa dimaksimalkan, menurutnya pertumbuhan ekonomi di atas 8% bukan sesuatu hal yang mustahil.

Baca Juga: Amien Rais Soroti Seseorang yang tak Ngerti Demokrasi

"Kalau presiden terpilih misalnya ingin menaikkan pertumbuhan kita menjadi 8% misalnya di tahun-tahun yang ternyata sangat mudah dan sangat bisa karena potensi kita itu yang belum terkendali dengan baik itu di seluruh yang besar banyak sekali di sektor perikanan, kelautan perikanan banyak sekali," tambah Trenggono.

 

Jalan Penuh Rintangan

Bahkan menurut Trenggono, optimalisasi satu komoditas kelautan sudah mampu untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia mencontohkannya dengan yang terjadi di Norwegia. Di sana, budi daya ikan salmon menjadi sumbangsih ekonomi nomor dua setelah minyak di Afrika.

"Komoditi risetnya (Norwegia) 50 tahun dan dia sudah mendunia. Kita komoditinya itu macem-macem, tropical. Tropical ini kan banyak sekali, nah kita analisis kira-kira dari sekian banyak itu mana yang punya value paling tinggi itu kita ambil," ujarnya.

Namun Trenggono tak memungkiri bahwa industri perikanan dan kelautan Indonesia menemui jalan penuh rintangan. Salah satunya, Indonesia masih kalah jauh dalam penerapan teknologi penangkapan ikan, di mana nelayan Indonesia kebanyakan masih menggunakan metode konvensional.

Meski begitu, ia optimistis Indonesia masih punya kesempatan untuk mendorong industri perikanannya. Salah satu upayanya ialah melalui implementasi modeling Penangkapan Ikan Terukur (PIT). Modeling PIT perdana diimplementasikan di dua wilayah zona 3 perikanan, antara lain Kota Tual dan Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. n erc/jk/bay/rmc

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU