General Motors Didenda Rp 2,3 Triliun Buntut Masalah Emisi Gas

author surabayapagi.com

- Pewarta

Kamis, 11 Jul 2024 10:08 WIB

General Motors Didenda Rp 2,3 Triliun Buntut Masalah Emisi Gas

i

Dua anak perusahaan General Motors (GM), Chevrolet dan Cadillac, berencana memproduksi SUV lagi. SP/ JKT

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Baru-baru ini General Motors (GM) tersandung masalah aturan emisi gas buang berdasarkan laporan dari Environmental Protection Agency (EPA), dikutip Kamis (11/07/2024). Sehingga, buntut masalah tersebut, kini GM harus membayar denda sebesar US$ 145,8 juta atau setara sekitar Rp 2,3 triliun.

Selain membayar denda lebih dari Rp 2,3 triliun tersebut, GM secara sukarela telah menarik sekitar 50 juta ton kredit polusi karbondioksida yang dibelinya sekitar satu dekade lalu dengan harga sekitar US$ 100 juta atau setara Rp1,6 triliun.

Baca Juga: Daihatsu Cetak Rekor Muri, Servis Serentak 1.000 Km di Seluruh Indonesia

Diketahui, sebelumnya jika pabrikan asal Amerika Serikat ini menjual sekitar 4,6 juta unit kendaraan pada 2012 hingga 2018, yang telah mengeluarkan emisi CO2 lebih dari 10 persen dan lebih tinggi daripada yang diklaim oleh pihak perusahaan.

Sementara itu, pabrikan asal Negeri Paman Sam ini belum mengakui kesalahan apapun, dan mengatakan semua kendaraannya mematuhi peraturan sertifikasi polusi dan jarak tempuh. Pasalnya, masalah tersebut bermula dari perubahan prosedur pengujian EPA yang terjadi pada 2016, menurut juru bicara GM, Bill Grotz.

"Kami yakin ini adalah tindakan terbaik untuk segera menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan dengan pemerintah federal terkait masalah ini," kata produsen mobil itu dalam sebuah pernyataan, Kamis (11/07/2024).

Baca Juga: Makin Berani, Mitsubishi Incar 60 Persen Pangsa Pasar Triton Baru

Sebagai informasi, model GM yang terkena dampak emisi ini, adalah yang dilengkapi mesin 2,4 liter, 5,3 liter, 6,2 liter, dan 4,3 liter, dan meliputi Chevrolet Equinox, Chevrolet Silverado, GMC Sierra, Cadillac Escalade, dan GMC Yukon.

Pasar mobil China memang jadi yang terbesar di dunia. Menurut data Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA), sepanjang 2023, sebanyak 21 juta unit lebih mobil baru terjual di Negeri Tirai Bambu ini.

Baca Juga: Tawarkan Kemewahan Berkelas, Mazda CX-60 Pro Dibanderol Rp 700 Jutaan

Namun, dengan kondisi persaingan yang ketat antar produsen global dan lokal Tiongkok, produsen mobil lama Amerika Serikat (AS) seperti Ford dan General Motors (GM) disarankan untuk meninggalkan pasar China. Hal tersebut, untuk menjaga modal di tengah transisi kendaraan listrik yang semakin tinggi.

Sementara itu, lebih lanjut Menurut Analis Bank of America Securities, John Murphy, dua jenama AS ini memang perlu mengambil langkah yang lebih drastis untuk memotong anggaran agar bisa lebih kompetitif di era elektrifikasi. "Loyalitas konsumen di dalam negeri terhadap produk atau merek lokal begitu kuat. China tidak ramah untuk produsen luar," kata Murphy. jk-02/dsy

Editor : Desy Ayu

BERITA TERBARU