SURABAYAPAGI.com, Trenaggalek - Komitmen mendukung program Net Zero Carbon sekaligus upaya pelestarian lingkungan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek, Jawa Timur, menanam 750 bibit mangrove di kawasan Pancer Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Trenggalek Mulyahandaka menjelaskan kegiatan tersebut melibatkan ratusan ASN di lingkup Setda Trenggalek, yang mana kegiatan tersebut bertujuan menjaga ekosistem mangrove yang memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim.
"Mangrove mampu menyerap dan menyimpan karbon hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan dataran tinggi tropis. Selain itu, tanaman ini juga dapat menyaring polutan, mengendalikan aliran air, serta mencegah erosi," ujar Mulyahandaka, Minggu (09/02/2025).
Diketahui, Hutan Mangrove di kawasan Pancer Cengkrong telah ada sejak era kolonial Belanda. Namun, pada 2002–2003 terjadi krisis lingkungan yang menyebabkan masyarakat terpaksa menebang mangrove akibat kesulitan ekonomi.
Lebih lanjut, akibat kerusakan tersebut, biota laut seperti kepiting dan kerang hampir punah. Berkat dukungan Dinas Kelautan dan Perikanan, Pokmaswas kemudian dibentuk untuk menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove.
Sebagai informasi, untuk luasnya, kawasan mangrove di Pantai Cengkrong mencakup lebih dari 100 hektare dan berpotensi diperluas yang memiliki 55 jenis tanaman, didominasi Rizophora, Sonneratia, dan Api-api.
Pasangan mangrove jenis Rizophora dipilih dalam kegiatan penanaman kali ini karena memiliki akar yang kuat untuk menahan banjir dan abrasi serta mampu menyaring sampah yang terbawa aliran air sebelum mencapai laut.
Beruntungnya, saat ini hutan mangrove di Pancer Cengkrong menjadi hijau kembali sehingga melimpah keberadaan kerang, siput dan juga kepiting bakau. Ada ratusan ton kerang dan kreco, ini tidak akan habis karena mangrove sebagai rumah biota tersebut terjaga. tr-01/dsy
Editor : Desy Ayu