SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Suami jurnalis Najwa Shihab, Ibrahim Sjarief bin Husein Ibrahim Assegaf, meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Mahar Mardjono, Jakarta, Selasa (20/5).
Banyak pejabat yang mengenang kisah atau hubungannya dengan almarhum suami presenter TV papan atas.
Terpantau Seskab Teddy Indra Wijaya, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Mendagri Tito Karnavian hadir melayat ke rumah duka. Terlihat juga Eks Menteri Parekraf Sandiaga Uno. Juga mantan Wapres Budiono.
Saya masih ingat presenter sekaligus Jurnalis senior, Najwa Shihab, membagikan pengalaman dan wawasan yang mendalam mengenai peran penting jurnalisme dalam membentuk opini publik. Termasuk dalan menggerakkan perubahan sosial.
Saya dengar dari beberapa host TV bagi pekerja perempuan, mereka biasanya ditempatkan sebagai presenter studio yang adem, atau sebagai redaktur yang duduk manis di belakang seperangkat komputer. Dalam industri televisi, pekerja perempuan biasanya lebih dekat ke peralatan kecantikan (make-up) ketimbang ke peralatan liputan, dimana profesi sebagai presenter dianggap lebih prestisius dibandingkan jurnalis perempuan di lapangan.
Sisterhood dan Pengorganisasian Perempuan, tempat
jurnalis perempuan berkelompok dan membentuk solidaritas profesi. Terutama bagi perbaikan kondisi kerja dan kesejahteraan jurnalis perempuan secara umum. Dimulai dengan memperbanyak jumlah jurnalis perempuan, mengangkat berbagai isu perempuan secara profesional dan beretika, membangun kesadaran bersama tentang berbagai masalah antar jurnalis perempuan, sampai memperkuat serikat-serikat kerja media bagi kesejahteraan jurnalis secara umum.
Pesan yang saya serap perlu ada perlindungan hukum yang lebih kuat untuk jurnalis perempuan, termasuk penanganan kasus kekerasan yang lebih serius.
Perusahaan media perlu menyusun aturan detail tentang pelindungan jurnalis, khususnya perempuan, dan menciptakan ruang aman bagi mereka.
Perlu ada upaya untuk mewujudkan kesetaraan gender di dalam organisasi media dan mendorong perubahan perilaku yang mendukung kesetaraan
***
Hasil survei Divisi Perempuan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia 2012, menunjukkan, dari 10 jurnalis, hanya ada 2 sampai 3 jurnalis perempuan. Atau dari 1000 jurnalis, 200-300 adalah perempuan, selebihnya jurnalis laki-laki. Mungkin hanya di Jakarta komposisi jurnalis perempuan dan laki-laki mencapai 40 berbanding 60. Di luar kota Jakarta, terutama di kota-kota madya, ketimpangan jumlah jurnalis perempuan dan laki-laki sangat terasa dan memprihatinkan.
Begitupun dengan status kekaryawanan. Data survei AJI menunjukkan, sekitar 60 persen jurnalis perempuan bekerja sebagai pekerja kontrak, sisanya atau 40 persen berstatus karyawan tetap. Yang mengejutkan, jumlah pekerja perempuan bestatus kontrak justru lebih banyak (60-65 persen) di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar.
Jumlah sumber daya manusia yang tertinggal berdampak kepada kedudukan jurnalis perempuan di ruang redaksi atau newsroom. Data survei AJI menunjukkan, hanya 6 persen jurnalis perempuan yang duduk sebagai petinggi redaksi. Artinya 94 persen atau mayoritas jurnalis perempuan bekerja sebagai reporter atau bukan pengambil keputusan redaksional. Kecilnya jumlah jurnalis perempuan dalam redaksi, membuat banyak kebijakan media kurang ramah terhadap kebutuhan perempuan, termasuk dalam tugas peliputan dan masalah pengupahan.
Dari survei ini ditemukan, banyak jurnalis perempuan belum menikah agar kesejahteraannya bisa setara dengan jurnalis laki-laki. Di luar itu, kesadaran tentang kesetaraan gender di kalangan jurnalis perempuan pun masih rendah. Yakni hanya 17 persen jurnalis perempuan yang pernah mengikuti pelatihan isu gender.
Dari gambaran di atas muncul kesan, dunia media dan profesi jurnalistik itu macho alias dunianya kaum laki-laki.
Kini, meskipun jurnalis perempuan telah menunjukkan keberhasilan di berbagai media, seperti Najwa Shihab, masih banyak tantangan yang dihadapi, seperti diskriminasi gender dan kekerasan seksual.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengungkapkan bahwa sekitar 82,6% jurnalis perempuan Indonesia mengalami kekerasan seksual dalam berbagai bentuk.
Menurut saya, dalam praktik, jurnalis perempuan memainkan peran penting dalam menyuarakan isu-isu yang seringkali tidak disuarakan oleh media arus utama. Mereka juga dapat membantu memperluas perspektif dan mewakili suara yang berbeda di dunia jurnalistik.
Saya berharap ada kesadaran tentang kesetaraan gender di kalangan jurnalis perempuan.
Saya juga berharap ada organisasi jurnalis perempuan yang berfokus pada jurnalis perempuan di Indonesia.
Pertanyaan klasik, apakah perempuan menghadapi perubahan identitas setelah suami meninggal dunia? Secara fisikal seorang perempuan bisa menjadi lajang. Kita mungkin merasa sakit hati karena kehilangan impian masa depan. Mungkin menghadapi kesulitan keuangan. Seorang perempuan mungkin memiliki tanggung jawab keluarga dan rumah tangga yang meningkat.
Ada efek melemahkan dari perasaan benar-benar sendirian dan tidak lengkap . Perasaan seperti telah kehilangan bagian penting dari diri sendiri. Bisa menyakitkan sekaligus membingungkan. Dunia tiba-tiba tampak seperti tempat yang berbeda, sering kali aneh ([email protected])
Editor : Moch Ilham