Seorang pejabat Amerika Serikat Bocorkan, Israel Mulai Kehabisan Stok Pencegat Rudal Arrow saat Iran Menyerang
SURABAYAPAGI.COM, Teheran - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyerukan "perang dimulai" melalui serangkaian unggahan di media sosial X.
Dia juga menulis dalam unggahan berbeda bahwa Iran "tidak akan pernah berkompromi dengan Zionis".
"Kami tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada Zionis," demikian bunyi terjemahan unggahan tersebut, hari Rabu.
Unggahan Khamenei mengemuka setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut soal keberadaan dirinya.
Trump menulis: "Kami tahu persis di mana sosok yang disebut 'Pemimpin Tertinggi' itu bersembunyi."
"Ia adalah target yang mudah, tetapi aman di sana - Kami tidak akan menghabisinya (membunuhnya!), setidaknya untuk saat ini."
Trump kemudian menulis dalam unggahan berikutnya: "MENYERAH TANPA SYARAT!"
Dilaporkan, Amerika Serikat semakin memperkuat posisi militernya di kawasan Timur Tengah, saat Israel dan Iran terus saling menyerang. Skuadron jet tempur tambahan dikerahkan ke kawasan tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Israel Mulai Kehabisan Stok Pencegat Rudal
Seorang pejabat Amerika Serikat yang tidak disebut namanya, seperti dikutip media terkemuka Wall Street Journal (WSJ) dan dilansir Reuters, Rabu (18/6/2025), mengatakan Washington telah menyadari masalah kapasitas yang dialami sistem pertahanan udara Israel selama beberapa bulan terakhir.
Israel dilaporkan mulai kehabisan stok pencegat rudal Arrow saat Iran terus melancarkan serangan udara terhadap negara Yahudi tersebut, dalam konflik yang berkecamuk antara kedua negara selama enam hari berturut-turut.
Hal tersebut memicu kekhawatiran tentang kemampuan Israel dalam mencegat dan melawan rudal balistik jarak jauh dari Iran, jika konflik tidak segera diselesaikan.
Laporan soal Israel kehabisan rudal pencegat defensif itu diungkapkan seorang pejabat Amerika Serikat (AS).
Dilansir kantor berita AFP, Rabu (18/6/2025), pertemuan Trump di Ruang Situasi Gedung Putih pada Selasa (17/6) waktu setempat itu berlangsung sekitar satu jam 20 menit, kata seorang pejabat Gedung Putih dengan syarat anonim, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Pertemuan tersebut terjadi setelah Trump mengatakan Amerika Serikat tidak akan membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei "untuk saat ini". Trump juga menuntut penyerahan "tanpa syarat" Teheran, saat sekutu AS, Israel, terlibat aksi saling serang dengan musuh bebuyutannya tersebut.
Para pejabat AS mengatakan bahwa Trump mempertimbangkan semua opsi yang ada, sambil bersikeras bahwa Washington tidak terlibat dalam kampanye militer tersebut sejauh ini.
Menurut pejabat-pejabat AS, opsi yang paling mungkin dipertimbangkan oleh Trump adalah penggunaan bom "penghancur bunker" AS terhadap fasilitas nuklir Fordow milik Iran, yang berada jauh di bawah tanah sehingga tidak dapat dijangkau oleh bom Israel.
Media The New York Times melaporkan, Trump juga tengah mempertimbangkan untuk mengizinkan pesawat-pesawat tanker AS mengisi bahan bakar jet-jet tempur Israel, sehingga mereka dapat melaksanakan misi jarak jauh.
Israel Libatkan Puluhan Jet tempur
Militer Israel melancarkan rentetan serangan terbaru terhadap Iran pada Rabu (18/6), setelah kedua negara saling menyerang secara sengit selama enam hari terakhir. Tel Aviv mengklaim serangannya menargetkan fasilitas produksi alat sentrifugal dan beberapa lokasi pembuatan senjata di area Teheran.
Militer Israel dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Rabu (18/6/2025), menyebut rentetan serangan terbaru terhadap Iran itu melibatkan puluhan jet tempur.
"Lebih dari 50 jet tempur Angkatan Udara Israel... melancarkan serangkaian serangan udara di area Teheran dalam beberapa jam terakhir," sebut militer Israel dalam pernyataannya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, menurut para pejabat AS seperti dilansir Al Arabiya, Rabu (18/6/2025), memberikan sejumlah opsi militer kepada Presiden Donald Trump dan sedang mempertimbangkan pengerahan aset-aset militer lebih lanjut.
Trump Tingkatkan Retorika Perangnya
Presiden Prancis Emmanuel Macron menunjukkan perbedaan pendapatnya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai Iran. Dia menentang tindakan militer yang lebih keras terhadap Teheran, yang dapat menyebabkan perubahan rezim di republik Islam tersebut.
Sejak Selasa (17/6) pagi waktu setempat, Trump telah meningkatkan retorika perangnya dengan menuntut "penyerahan tanpa syarat" Iran, dan memperingatkan bahwa kesabaran AS menipis, seiring perang udara Israel-Iran terus berkecamuk.
"Kami tidak ingin Iran mendapatkan senjata nuklir," kata Macron, dilansir kantor berita Reuters dan Al Arabiya, Rabu (18/6/2025).
"Namun, kesalahan terbesar adalah menggunakan serangan militer untuk mengubah rezim karena akan terjadi kekacauan, dan tanggung jawab kami adalah kembali ke pembicaraan secepat mungkin agar dapat menetapkan kembali arah pada masalah nuklir dan balistik ini," imbuh pemimpin Prancis itu.
Soroti Program Nuklir Iran
Macron mengatakan program nuklir Iran harus kembali berada di bawah pengawasan internasional dan persenjataan rudal balistiknya dikurangi. Namun, ia secara tegas menentang serangan terhadap infrastruktur energi, warga sipil, dan tindakan militer yang dapat menyebabkan perubahan rezim.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dapat menghadapi nasib yang sama seperti mantan presiden Irak, Saddam Hussein, yang digulingkan dalam invasi yang dipimpin AS, dan kemudian digantung mati pada tahun 2006 setelah diadili.
Seorang pejabat senior Iran sekaligus mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohsen Rezaei, mengatakan pada Minggu (15/6) bahwa negaranya sejauh ini baru hanya menggunakan senjata generasi tua dalam menanggapi agresi Israel.
Iran belum menggunakan senjata sesungguhnya dalam perang ini.
"Kami belum menggunakan hulu ledak yang lebih kuat," katanya, mengenai keputusan Iran menggunakan rudal dengan hulu ledak seberat 1,5 ton terhadap Israel.
Iran Kerahkan Roket dan Rudal Balistik
Sejak meluncurkan serangan balasan ke Israel pada Jumat (13/6), Teheran diketahui mengerahkan roket-roket dan rudal balistik ke sejumlah wilayah Israel. Sebagian rudal itu bahkan telah sukses menembus sistem pertahanan kebanggaan Israel, Iron Dome.
Menurut Rezaei, "kejutan besar" oleh Iran belum terungkap sejauh ini. Ia pun menekankan bahwa apa yang menanti Israel adalah sesuatu yang "lebih besar dan jauh lebih parah."
"Perang akan berlanjut sampai kekalahan total entitas pendudukan [Israel]," kata Rezaei, seperti dikutip Al Mayadeen.
Dalam kesempatan yang sama, Rezaei juga memperkirakan bahwa konfrontasi Israel-Iran kemungkinan dapat berlangsung selama beberapa pekan.
Sejalan dengan itu, ia memperingatkan bahwa negara-negara Barat mestinya tak lagi mendukung Israel jika tak ingin perang ini meluas.
"Jika Amerika Serikat dan Eropa tidak menghentikan dukungan langsung mereka untuk Israel, medan perang akan meluas dan kami akan terpaksa masuk ke fase konfrontasi berikutnya," ucapnya.
"Kami memiliki taktik yang bahkan belum digunakan," lanjut Rezaei.
Minta Penduduk di Tel Aviv Dievakuasi
Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa "semua orang harus segera mengungsi dari Teheran".
Hingga saat ini pertikaian antara Iran maupun Israel tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Justru sebaliknya, kedua kubu terus bertukar serangan rudal balistik.
Kepala staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, memperingatkan penduduk Israel "terutama Tel Aviv dan Haifa perlu dievakuasi sesegera mungkin untuk menyelamatkan nyawa mereka".
Penutupan wilayah udara Israel sejak akhir pekan membuat seluruh penerbangan komersial dibatalkan. Hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa situasi akan segera mereda. Claydon, seorang guru asal Hertfordshire, Inggris, datang ke Herzliya, Tel Aviv, Israel pekan lalu untuk menghadiri pernikahan sepupunya.
Dia merencanakan perjalanan itu diselesaikan dalam waktu tiga hari. Tetapi rencananya buyar. Kegembiraan juga berubah menjadi ketakutan. Saat berada di Herzliya, rudal mulai menghujani wilayah tempat dia menginap.
"Semuanya berubah hanya dalam hitungan jam. Tiga jam setelah kami kembali dari pesta pernikahan, sirene berbunyi dan kami harus segera masuk ke tempat perlindungan," ujarnya kepada BBC dikutip Rabu (18/6/2025).
Hantam Pusat kota Tel Aviv
Rudal-rudal Iran terus menerus menghantam pusat kota Tel Aviv dan daerah-daerah lain di Israel. Demi keselamatan warganya, pemerintah Israel mulai memindahkan pasien-pasien ke rumah sakit bawah tanah.
Dikutip dari The Times of Israel, Presiden Isaac Herzog mengunjungi pasien-pasien yang terluka akibat serangan rudal Iran di rumah sakit bawah tanah Sheba Medical Center di Ramat Gan.
Sejak dioperasikannya rumah sakit bawah tanah ini, tercatat ada 200 orang yang terluka akibat serangan Iran dengan tingkat keparahan luka yang bervariasi.
Di sisi lain, tentara Israel memperingatkan penduduk di Distrik 18 Teheran bahwa akan ada serangan terhadap infrastruktur militer Iran di wilayah tersebut.
Beberapa saat setelah peringatan disampaikan, ledakan telah dilaporkan terjadi di beberapa bagian ibu kota Iran, menurut laporan media Iran seperti disampaikan kantor berita Reuters.
Getty ImagesAsap mengepul setelah Israel dilaporkan menyerang sebuah gedung yang digunakan oleh media pemerintah Iran di Teheran, pada 16 Juni 2025.
Kementerian Kesehatan Iran mengatakan sedikitnya 224 orang tewas dan lebih dari 1.200 orang terluka dalam serangan udara Israel sejak Jumat (13/06).
Adapun Israel mengatakan sedikitnya 24 orang tewas akibat serangan Iran selama periode yang sama.
Perhitungan berbeda disampaikan Organisasi nirlaba Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran (HRANA) yang melacak korban sejak serangan dimulai pada Jumat (13/06).
Menurut HRANA, sebanyak 224 warga sipil tewas, dengan 188 orang terluka.
Korban di Iran, 452 Orang Tewas
Sebanyak 109 anggota militer tewas dan 123 orang terluka, kata organisasi itu.
HRANA juga mencatat sebanyak 119 orang tewas, dan 335 orang terluka, yang belum teridentifikasi.
Total korban di Iran, menurut HRANA, mencapai 452 orang tewas dan 646 orang terluka.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan pihaknya meluncurkan rudal hipersonik Fattah-1 ke Israel.
Iran meluncurkan rudal Fattah-1 untuk pertama kalinya dalam perang ini.
Dilansir kantor berita BBC, Rabu (18/6/2025), rudal diluncurkan di Tel Aviv pada malam waktu setempat. Selama serangan Iran pada 1 Oktober 2024 di Israel, Iran juga meluncurkan puluhan rudal Fattah-1 ke Israel. Namun, ini pertama kalinya rudal Fattah digunakan dalam perang saat ini.
Rudal Fattah pertama kali diluncurkan pada 2023. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei memberi nama rudal itu dengan sebutan Rudal Fattah
Garda Revolusi menjuluki rudal tersebut sebagai penyerang Israel dan, saat peluncurannya, spanduk besar dipasang di Teheran, ibu kota Iran, dengan pesan tertulis dalam bahasa Ibrani: "400 detik menuju Tel Aviv."
Press TV milik pemerintah Iran juga melaporkan peluncuran rudal tersebut. Press TV melaporkan pengerahan rudal itu menandai 'awal dari akhir' sistem pertahanan Iran.
"IRGC menggambarkan fase terakhir operasi tersebut sebagai 'titik balik', dan mengatakan bahwa pengerahan rudal Fattah generasi pertama menandai 'awal dari akhir' sistem pertahanan rudal 'mitos' Israel," Press TV melaporkan.
Seperti diketahui pada 2024, Iran menggunakan rudal hipersonik Fattah 1 dalam serangannya terhadap Israel. Rudal itu merupakan buatan lokal dan digunakan untuk pertama kalinya.
Dilansir CNN, Rabu (2/10/2024), Fattah dianggap sebagai rudal hipersonik pertama yang diproduksi di dalam negeri Iran. Rudal itu baru diluncurkan pada 2023.
Militer Iran mengatakan rudal tersebut dapat melaju hingga 15 kali kecepatan suara. Selain itu, rudal itu juga mampu menargetkan sistem pertahanan musuh.
Di media sosial ada beberapa video viral warga Israel memvideokan Iron Dome di dekat apartemen mereka saat perang Iran-Israel. Bukannya dapat simpati, mereka disindir netizen dunia.
Video-video ini bertebaran di berbagai platform medsos seperti X, Instagram, Threads dan lain-lain. Agak sulit juga mencari video asli, karena sudah banyak yang di-repost netizen lain atau dikompilasi.
Dipantau, Rabu (18/6/2025) salah satu video viral adalah warga Israel merekam truk peluncur menembakkan rudal Tamir (truk rudal ini disebut sebagai Battery-red) sebagai bagian dari pertahanan Iron Dome. Namun, peluncur rudal ini ada di seberang gedung apartmennya.
Video ini di-repost oleh Ramy Abdu, Ketua Euro-Med Human Rights Monitor. Dia mempertanyakan sistem pertahanan udara Israel ada di tengah pemukiman padat di Tel Aviv. n cnn/rtr/afp/rmc
Editor : Moch Ilham