SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saya heran soal keserahkan diungkap oleh Presiden Prabowo, ke publik dengan istilah Serakahnomics. Fenomena ini bikin Prabowo geram. Ada apa sebenarnya negeri kita ini?
Alkitab menggunakan istilah-istilah seperti "tamak," "rakus," dan "cinta akan uang". Ini untuk menggambarkan berbagai aspek keserakahan.
Kelihatannya kerakusan menjadi dosa yang sering diabaikan oleh sebagian orang Kristen. Seringkali, kita bisa dengan cepat mengatakan merokok dan minum sebagai dosa. Karena alasan tertentu, kadang, kerakusan diterima atau paling tidak ditolerir.
Banyak argumen yang dipakai untuk menentang merokok dan minum alkohol, seperti faktor kesehatan dan kecanduan. Padahal, itu sebenarnya juga berlaku juga untuk seseorang yang makan berlebihan, sebagai keserakahan. Banyak orang-percaya tidak mau mempertimbangkan minum segelas anggur atau mengisap sebatang rokok, tetapi malah tidak ragu-ragu makan dengan rakus di meja makan.
Cara Ini tidak sepantasnya!
Amsal 23:20-21 memperingati kita, “Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging. Karena si peminum dan si pelahap dapat menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping.”
Amsal 28:7 menyatakan, “Orang yang memelihara hukum adalah anak yang berpengertian, tetapi orang yang bergaul dengan pelahap mempermalukan ayahnya.”
Amsal 23:2 menyatakan, “Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!”
Pendeta saya mengatakan, selera makan itu contoh dari kemampuan kita mengontrol diri sendiri. Jika kita tidak dapat mengontrol kebiasaan makan kita, kemungkinan kita juga tidak mampu mengontrol kebiasaan kita yang lain, seperti pikiran (hawa nafsu, ketamakan, kemarahan). Termasuk tidak dapat menahan mulut kita dari gosip atau perselisihan.
Dipesankan, keserakahan dapat merusak hubungan dengan Tuhan dan sesama.
Beliau ingatkan, Allah telah memberkati kita dengan memenuhi bumi ini dengan makanan yang enak, bergizi, dan nikmat. Kita harus menghormati ciptaan Allah dengan menikmati makanan-makanan ini dan memakannya dalam jumlah yang pantas.
Allah memanggil kita untuk mengontrol nafsu makan kita, dan bukannya membiarkan nafsu makan kita yang mengontrol kita.
Dan dipesankan, keserakahan dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan yang tidak adil dan merugikan orang lain demi keuntungan pribadi.
Keserakahan juga dapat membuat seseorang tidak pernah merasa cukup dan selalu merasa kekurangan, bahkan ketika ia telah memiliki banyak hal.
Saya ingat ayat Lukas 12:15:
"Lalu Ia berkata kepada mereka: 'Hati-hatilah dan waspadalah terhadap segala keserakahan, sebab hidup seseorang tidak bergantung pada kekayaannya, meskipun ia berlimpah-limpah.'"
Juga ayat Matius 6:24:
"Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
Ada beberapa contoh di Alkitab tentang orang yang cinta akan uang yaitu Akhan yang mengambil barang-barang yang dikhususkan bagi Tuhan. Gehazi yang meminta perak pada Naaman. Ada Yudas Iskariot yang mencuri uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya (Yoh 12:6) dan menjual Yesus dengan 30 keping perak.
Dalam pandangan saya jebakan Mamon adalah keserakahan. Bagaimana pendapat Anda. (Maria Sari)
Editor : Moch Ilham