Kopassus Pernah Dinobatkan Pasukan Khusus Terbaik ke-3 di Dunia
SURABAYAPAGI.COM, Jakarta- Presiden Prabowo Subianto resmi melantik tiga Panglima pasukan elite TNI. Pucuk pimpinan pasukan elite ini kini dijabat perwira tinggi bintang tiga.
Tiga panglima pasukan elite itu dilantik dalam Upacara Kehormatan Militer di Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus TNI AD, Batujajar, Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (10/8/2025).
Sumber di Divisi Humas Mabes Polri, yang dihubungi Surabaya Pagi Senin (11/8) Komandan Korps Brimob sekarang juga dijabat bintang tiga. Ia Komjen Imam Widodo yang lahir pada 22 September 1976. Ia merupakan seorang perwira tinggi polisi yang menggantikan posisi Anang Revandoko.
Imam Widodo telah menyelesaikan pendidikan kepolisiannya pada tahun 1989. Pada tahun 2019, Ia ditunjuk sebagai Kepala Operasi Nemangkawi untuk menumpaskan KKB di Papua.
Karirnya di satuan Brimob terbilang sangat cemerlang, pada tahun 2008, Imam Widodo masih menjabat sebagai wakil kasat Brimob Polda Metro Jaya sebelum akhirnya dipindahkan sebagai Kasat Brimob Polda Aceh pada tahun 2010.
Pada tahun 2013, Jenderal Bintang Tiga itu menjabat sebagai Kaden Gegana Korps Brimob Polisi dan tahun 2017, ia ditunjuk sebagai Danpas Gegana Korps Brimob Polri.
Setelah ditunjuk sebagai Komandan Korps Brimob Imam Widodo naik pangkat yang awalnya Irjen atau Jenderal Bintang Dua kini menjadi Komjen atau Jenderal Bintang Tiga.
Fokus Tingkatkan Teknologi Pertahanan
Di negara lain, militer justru merasionalisasi struktur dan mengurangi pasukan. Selain itu, mereka fokus meningkatkan teknologi pertahanan dan kapasitas militernya.
Presiden Prabowo Subianto, kini malah membuat organisasi TNI menjadi lebih gemuk. Di jabatan perwira tinggi di lingkungan TNI, bertambah sebanyak 49 jabatan. Komando daerah militer atau kodam bertambah enam. Selain itu, ada pembentukan batalyon baru hingga penambahan Komando Pasukan Khusus. Apa yang ingin dicapai dengan penggemukan organisasi TNI ini?
Pada 5 Agustus lalu, Presiden Prabowo meneken Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 84 Tahun 2025 tentang Susunan Organisasi TNI. Peraturan ini merevisi perpres yang mengatur hal serupa sebelumnya, yakni Perpres No 66/2019.
Dalam perpres terbaru itu, total ada 420 jabatan untuk perwira tinggi di lingkungan TNI. Jumlah ini lebih banyak dari jumlah jabatan untuk perwira tinggi seperti yang tertera di Perpres No 66/2019, sebanyak 371 jabatan. Dengan demikian, ada penambahan 49 jabatan baru.
Tiga Panglima Pasukan Elite TNI
Ada tiga Panglima pasukan elite TNI yang dilantik adalah Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD, Korps Marinir TNI AL, dan Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI AU. Prosesi pelantikan itu ditandai dengan penekan sirine dan penembakan meriam.
Panglima korps yang dilantik yakni Mayjen TNI Djon Afriandi sebagai Panglima Kopassus (Pangkopassus). Djon sebelumnya menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) TNI AD.
Dilansir laman resmi Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI), saat itu, Kopassus menjadi pasukan elite terbaik ke-3 setelah Special Air Force (SAS) dari Inggris dan Mossad dari Israel.
Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merupakan pasukan elite yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat.
Awalnya, pasukan elite ini bernama Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD). Kemudian, namanya berubah menjadi Kopassus pada 1985.
Nama Kopassus sebetulnya sempat naik daun ketika mereka dinobatkan sebagai pasukan khusus terbaik ke-3 di dunia oleh Discovery Military Channel pada 2008 silam.
Kopassus juga pernah menjadi salah satu pasukan elite yang paling ditakuti di dunia.
Lantas, apa yang pernah ditakuti dunia dari Kopassus?
Kopassus Dinobatkan Pasukan Khusus Terbaik
Kopassus dahulu dikenal sebagai pasukan khusus yang kerap melakukan operasi tersulit dan paling ekstrem. Banyak kelompok kriminal yang habis dibabat oleh pasukan elite di bawah TNI AD ini.
Pada 1950, misalnya, Kopassus yang saat itu masih bernama Kesatuan Komando Angkatan Darat, pernah terlibat dalam operasi pemberangusan Republik Maluku Selatan (RMS). Dilansir laman resmi Kopassus, operasi ini berhasil menumpas gerakan RMS. Operasi ini juga menyebabkan banyak korban berjatuhan dari pihak mereka. Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merupakan pasukan elite yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat.
Awalnya, pasukan elite ini bernama Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD). Kemudian, namanya berubah menjadi Kopassus pada 1985.
Nama Kopassus sebetulnya sempat naik daun ketika mereka dinobatkan sebagai pasukan khusus terbaik ke-3 di dunia oleh Discovery Military Channel pada 2008 silam.
Dilansir laman resmi Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI), saat itu, Kopassus menjadi pasukan elite terbaik ke-3 setelah Special Air Force (SAS) dari Inggris dan Mossad dari Israel.
Selain itu, Kopassus juga pernah menjadi salah satu pasukan elite yang paling ditakuti di dunia.
Lantas, apa yang pernah ditakuti dunia dari Kopassus?
Kopassus dahulu dikenal sebagai pasukan khusus yang kerap melakukan operasi tersulit dan paling ekstrem. Banyak kelompok kriminal yang habis dibabat oleh pasukan elite di bawah TNI AD ini.
Selain itu, Kopassus juga pernah terlibat dalam operasi pemberangusan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965 dan operasi pemberantasan kelompok pemberontak di Timor Timur pada 1975 dan 1983, seperti dikutip The Economist.
Operasi Pemberangusan Kelompok Pemberontak
Menurut Human Right Watch, operasi pemberangusan kelompok pemberontak Timor-Timur pada 1983 ini konon dipimpin oleh presiden terpilih Indonesia, Prabowo Subianto, saat masih menjabat sebagai komandan jenderal. Operasi tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 300 orang Timor-Timur.
Grup Kopassus baru
Keenam grup dimaksud disebar di beberapa titik di Indonesia, yakni Grup 1 bermarkas di Banten, Grup 2 di Surakarta (Jawa Tengah), Grup 3 di Dumai (Riau), Grup 4 di Penajam (Ibu Kota Nusantara), Grup 5 di Kendari (Sulawesi Tenggara), dan Grup 6 di Timika (Papua Tengah).
Komando!, Kopassus punya track record yang tak bisa disepelekan. Sepak terjang Korps Baret Merah ini sudah begitu dikenal di dunia. Lantas, apa rahasia kekuatan Kopassus, yang membuatnya disegani dan dan diakui sebagai salah satu pasukan elite terbaik di dunia?
Panglima Korps Marinir
Selanjutnya, Mayjen TNI (Mar) Endi Supardi ditunjuk menjadi Panglima Korps Marinir (Pangkormar). Endi sebelumnya menjabat sebagai Komandan Marinir (Dankormar).
Dalam perjalanannya, matra laut Indonesia memiliki pasukan khusus untuk pertahanan dan keamanan laut Indonesia.
apa saja pasukan khusus yang dimiliki TNI AL?
Kopaska atau kependekan dari Komando Pasukan Katak, merupakan salah satu pasukan elite milik TNI AL.
Dikutip dari Kompaspedia, Kopaska dibentuk saat masa Operasi Trikora pada 1962. Saat Presiden pertama RI Soekarno menilai perlu dibentuknya sebuah pasukan khusus untuk membuka jalan bagi operasi amfibi terbesar untuk membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda.
Ciri khas prajurit Kopaska ditandai dengan baret berwarna merah marun dan mengenakan buff tengkorak.
Prajurit Kopaska memiliki tugas untuk menyerbu kapal dan pangkalan musuh, menghancurkan instalasi bawah air, penyiapan perebutan pantai, serta operasi pendaratan berkekuatan amfibi.
Dikutip dari laman Koarmada II, untuk mengaplikasikan kemampuan infiltrasi dan eksfiltrasi melalui jalur laut, prajurit Kopaska biasanya menggelar latihan serangan pantai dan penguasaan runway.
Prajurit Kopaska juga harus memiliki kemampuan dasar lainnya, seperti terjun payung dan menembak. Hal ini sebagai bekal bagi prajurit ketika ditugaskan bertempur, tidak hanya di lautan, tetapi juga di puncak gunung. Kopaska memiliki semboyan “Tan Hana Wighna Tan Sirna” yang berarti tidak ada rintangan yang tidak dapat diatasi. Kopaska berhasil melakukan sejumlah operasi militer, di antaranya pembebasan Papua Barat, Operasi Khusus Kikis Bajak, dan Operasi Khusus Lusitania Expresso.
Juga ada Taifib Pasukan elite TNI AL selanjutnya adalah Intai Amfibi (Taifib), atau biasa dikenal Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib). Yontaifib sebagai salah satu satuan pelaksanan di bawah kendali langsung Pasukan Marinir (Pasmar). Pasukan ini merupakan bagian dari Korps Marinir TNI AL dan memiliki semboyan “Maya Netra Yamadipati” yang berarti “bergerak dengan cepat, rahasia, dan mematikan dalam setiap pertempuran”. Awalnya, Yontaifib dibentuk karena Korps Marinir TNI AL memerlukan data-data intelijen lengkap.
Ciri khas prajurit Yontaifib memakai baret ungu khas Marinir. Akan tetapi, Yontaifib berbeda dengan Marinir pada umumnya. Mereka menggunakan brevet ‘Tri Media' di samping Pataka Korps Marinir
Ada juga Denjaka Pasukan khusus TNI AL terakhir yaitu Detasemen Jala Mangkara atau Denjaka. Denjaka dibentuk pada 4 November 1982. Awalnya bernama Pasukan Khusus AL (Pasusla).
Kemudian, pada 12 November 1984, pasukan elite ini berganti menggunakan nama Denjaka karena perkembangan pasukan yang begitu mumpuni. Para prajurit Denjaka direkrut dari personel Yontaifib dan Kopaska. Tetapi, satuan ini berada di bawah komando pelaksana Korps Marinir. Pasukan ini dibentuk untuk menanggulangi ancaman aspek laut, yakni terorisme, sabotase, dan lainnya. Tidak hanya menindak cepat, para prajurit pasukan ini juga dituntut efektif bertindak menghadapi segala bentuk aksi teror.
Prajurit Denjaka memiliki kemampuan fisik yang berfokus di laut. Mereka dituntut menguasai kemampuan seperti pencapaian sasaran lewat teknik lintas udara, penguasaan metode bawah air, dan lintas atas air senyap. Denjaka memiliki moto "Satya Wira Dharma". Ciri khas pasukan ini yaitu berseragam hitam lengkap dengan baret ungu.
Marsda Deny Muis Pangkorpasgat
Kemudian ada Marsekal Muda (Marsda) Deny Muis ditunjuk menjadi Panglima Korps Kopasgat (Pangkorpasgat). Sebelumnya Deny menjabat sebagai Komandan Pasukan Gerak Cepat (Dankopasgat).
Dikutip dari wikipedia, Korps Pasukan Gerak Cepat (disingkat Korpasgat, atau sebutan lainnya Korps Baret Jingga), merupakan pasukan khusus yang dimiliki TNI Angkatan Udara. Korpasgat merupakan satuan tempur darat berkemampuan tiga matra, yaitu udara, laut, darat
Tugas dan tanggung jawab Korpasgat sama dengan pasukan tempur lainnya,Satuan Tempur Negara. Sebagai Pasukan Pemukul NKRI yang siap diterjunkan disegala medan baik hutan, kota, rawa, sungai, laut untuk menumpas semua musuh yang melawan N
Tanggal 17 Oktober 1947 kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat), kemudian pada tahun 1997 dirubah menjadi Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Korpaskhas).
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengubah nama pasukan elite TNI Angkatan Udara (AU) Korps Pasukan Khas (Paskhas) menjadi Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat). TNI AU menjelaskan awal mula Paskhas berganti nama menjadi Kopasgat.
Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AU Marsma Indan Gilang Buldansyah menjelaskan pergantian nama itu bermula pada 2018 silam. Saat itu, dilakukan rapat validasi organisasi TNI AU dengan dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna.
"Pada 9 Februari 2018, dilaksanakan rapat validasi organisasi TNI AU oleh Dewan Pembentukan Organisasi TNI AU (Deporau) yang dipimpin oleh Kasau dengan agenda membahas organisasi Koopsau 3 dan Koopsudnas. Rekomendasi rapat menyetujui pembentukan Koopsau 3, sementara Koopsudnas akan dibahas pada rapat berikutnya," ujar Indan dalam keterangannya, Rabu (26/1/2022)
Indan menjelaskan, KSAU yang menjabat saat itu memantik saran untuk mengubah nama Paskhas. KSAU menyarankan agar Paskhas berganti nama menjadi Kopasgat atau Komando Pasukan Gerak Cepat.
Pada urutan ke-260, tertulis nama Marsda Eris Widodo Yuliastono, yang dirotasi dari jabatan awal Dankorpaskhas menjadi Dankopasgat. Terdapat keterangan selanjutnya rotasi ini bersifat validasi organisasi.
Pasukan Elite Polri
Polri memiliki dua pasukan elite, yaitu Korps Brigade Mobil (Brimob) dan Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88) . Lantas apa perbedaan kedua pasukan elite dengan anggota polisi biasa?
Dikutip dari kanal YouTube Devisi Humas Polri, Selasa (13/12/2022), dijelaskan bahwa polisi biasa merupakan pasukan reguler yang bertugas di satuan Polri, seperti Reskrim, Harkam, dan Lantas.
Sedangkan pasukan elite adalah satuan tentara/militer yang dipilih dan disatukan. Mereka dibentuk dan dilatih untuk melakukan misi perang non-konvensional, antiteroris, pengintaian, aksi langsung, dan pertahanan luar negeri.
Lantas apa perbedaan kedua pasukan elite dengan anggota polisi biasa?
Dikutip dari kanal YouTube Devisi Humas Polri, Selasa (13/12/2022), dijelaskan bahwa polisi biasa merupakan pasukan reguler yang bertugas di satuan Polri, seperti Reskrim, Harkam, dan Lantas.
Sedangkan pasukan elite adalah satuan tentara/militer yang dipilih dan disatukan. Mereka dibentuk dan dilatih untuk melakukan misi perang non-konvensional, antiteroris, pengintaian, aksi langsung, dan pertahanan luar negeri.
Ada dua pasukan elite yang dimiliki Polri:
1. Korps Brimob
Brimob atau lebih dikenal dengan sebutan Koprs Baret Biru Tua merupakan pasukan khusus yang dimiliki Polri untuk menangani dan memerangi tindak kejahatan/kriminalitas intensitas tinggi dalam menjaga keutuhan NKRI.
Brimob yang pernah bernama Mobile Brigade adalah kesatuan operasi khusus yang bersifat paramiliter milik Polri. Brimob juga dikenal sebagai salah satu unit tertua yang ada di dalam organisasi Polri.
Beberapa tugas utamanya adalah penanganan terorisme domestik, penanganan kerusuhan, penegakan hukum berisiko tinggi, pencarian dan penyelamatan (SAR), penyelamatan sandera, dan penjinakan bom (EOD).
Korps Brimob juga bersifat sebagai komponen besar di dalam Polri yang dilatih untuk melaksanakan tugas-tugas anti-separatis dan anti-pemberontakan, sering kali bersamaan dengan operasi militer. Setiap Polda di Indonesia mempunyai kesatuan Brimob masing-masing.
Korps Brimob terdiri dari dua cabang, yaitu Pasukan Gegana dan Pasukan Pelopor. Pasukan Gegana mulanya dibentuk dari pemikiran tokoh Polri pada tahun 1974. Pemikiran tersebut didasari adanya isu teror terhadap Polda Metro Jaya. Sehingga untuk mengantisipasinya, dibentuk Kompi Satuan Gegana Brimob Polri pada 27 November 1974.
Pada awal terbentuk, Gegana dipimpin oleh Mayor Pol Soemardi. Meski sudah terbentuk pada akhir tahun 1974, namun pengakuan departemen pertahanan keamanan baru ada pada tahun 1976.
Sedangkan Pasukan Pelopor adalah satuan pelaksana utama yang berada di bawah Korps Brimob Polri. Sejarah Pasukan Pelopor dimulai pada September 1959, ketika Brimob Ranger dibentuk. Pasukan ini kemudian berganti nama menjadi Resimen Pelopor pada 1961.
Ketika itu, bersenjatakan AR-15, pasukan ini menjalankan misi penyusupan ke Irian Barat sebagai bagian dari Komando Trikora. Tahun 1964, Resimen Pelopor atau Menpor terlibat dalam konfrontasi dengan Malaysia. Akan tetapi, pasukan ini dibubarkan pada 1972 karena perubahan kebijakan politik.
Meski sempat diikutsertakan dalam pasukan khusus di Operasi Seroja tahun 1975, keberadaan Resimen Pelopor yang merupakan pasukan elite Brimob ketika itu mulai terlupakan. Saat ini Pasukan Pelopor menjadi pasukan utama Korps Brimob.
2. Ada Densus 88, merupakan satuan khusus Polri untuk penanggulangan terorisme. Pasukan berlogo burung hantu ini dilatih secara khusus untuk menangani segala ancaman teror, termasuk teror bom.
Satuan ini dilengkapi dengan persenjataan serta kendaraan tempur, seperti senapan serbu Colt M4, senapan serbu Steyr AUG, HK MP5, AR-10, hingga shotgun Remington 870.
Colt M4 merupakan senjata andalan pasukan Densus 88 untuk melumpuhkan teroris. M4 dan M4A1 dilengkapi peluru kaliber 5.56 x 45 mm NATO. Colt M4 menggunakan sistem gas, air-cooled, memakai magazen box, dan mempunyai popor teleskopik yang bisa ditukar dengan popor biasa.Sementara senapan serbu Steyr AUG memiliki keunggulan larasnya bisa diganti-ganti dan sistem pengunci dengan delapan lug radial ganda. Sedangkan AR-10 merupakan senapan otomatis beroperasi gas yang menembakkan peluru berkaliber 7.62 x 51 mm NATO.
Densus 88 dibentuk dengan Skep Kapolri Nomor 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003 dan diresmikan pada 26 Agustus 2004.
Pasukan Densus 88 memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris, mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. Pasukan Densus 88 berfungsi melakukan penangkapan terhadap seseorang atau kelompok jaringan teroris yang bisa membahayakan keutuhan dan keamanan NKRI.
Di tingkat pusat (Mabes Polri), Densus 88 beranggotakan sedikitnya 400 personel. Mereka terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak atau penjinak bom, dan unit pemukul/ penembak jitu.
Sedangkan di tingkat Polda, Densus 88 beranggotakan 45-75 orang. Dari sisi sisi dengan fasilitas dan kemampuan, jelas Densus 88 Polda lebih terbatas. n ltb/jk/erc/rmc
Editor : Moch Ilham