Bismillahir rahmanir rahiim…
Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya
Kepada Heraclius, raja Romawi
Salaamun ‘ala manit-taba’al huda, amma ba’du
(keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, selanjutnya)
Saya mengajak Anda dengan seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya Anda akan selamat. Allah akan memberikan pahala kepada-Mu dua kali. Jika Anda berpaling (tidak menerima) maka Anda menanggung semua dosa kaum Arisiyin. Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran: 64).
SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Hadis ini diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan yang lainnya.
Surat yang dikirim ke Heraclius, penguasa Romawi ketika itu, menjadi kajian tokoh tokoh Islam saat itu.
Ada juga surat yang pernah dikirimkan oleh Rasulullah SAW kepada raja Ashhamah bin Abjar, penguasa negara Habsyah, kini Etiopia. Ini dapat menjadi bukti seni berdakwah Nabi.
Dalam sejarah tercatat, Rasulullah SAW beberapa kali menggirimkan surat. Kesekian surat itu disampaikan oleh utusan yang secara khusus dipilih oleh Rasulullah SAW.
Urusan penulisan suratnya sendiri, Rasulullah SAW mempercayakannya ke sejumlah sahabat yang kemudian dikenal dengan para pencatat kuttab. Soal alih bahasa, Rasulullah menunjuk beberapa sahabatnya yang lantas disebut sebagai mutarjim.
Jumlah mereka cukup banyak, kurang lebih 43 sahabat. Beberapa di antaranya diulas dalam kitab karangan Ibn Hadidah (783 H) yang berjudul al- Mishbah al-Mudli’ fi Kuttab an-Nabiyy al-Umiyy wa Rusulihi Ila al-Muluk al-Ardl min ‘Arabiyyin wa ‘Ajamiyyin.
Dokumentasi tentang surat-surat Rasulullah SAW dianggap penting dan menyimpan nilai sejarah tinggi.
Adalah Muhammad Ibn Thulun ad-Dimasyqi (880-953 H), ulama multidisiplin ilmu menulis kitab yang diberi tajuk A’lam as-Sailin ‘an Kutub Sayyid al-Mursalin.
Karya yang ditulis oleh tokoh bermadzhab Hanafi itu, diklaim sebagai kitab pertama yang mencoba menginventarisasi surat-surat Rasulullah secara khusus. Jumlahnya memang relatif sedikit.
Tidak semua surat yang pernah dikirimkan oleh Rasulullah SAW terekam oleh para sahabat. Dan, hampir keseluruhannya beralih dari generasi satu ke generasi lainnnya melalui cara periwayatan
Klaim itu mungkin bisa saja benar, lantaran tokoh kelahiran Salhia, Damaskus Suriah itu memang ilmuwan yang untuk kali pertama fokus mengumpulkan risalah-risalah tersebut. Tetapi, bukan berarti, tidak pernah terdapat tokoh ulama yang mendokumentasikan surat-surat tersebut sebelumnya.
Rasulullah SAW menggunakan surat untuk mengajak pemimpin sebuah kaum ataupun bangsa untuk memeluk Islam.
Dalam sejarah tercatat, Rasulullah SAW beberapa kali menggirimkan surat. Kesekian surat itu disampaikan oleh utusan yang secara khusus dipilih oleh Rasulullah SAW. ([email protected])
Oleh:
Hj Lordna Putri
Editor : Moch Ilham