SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Data korban akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara terus diperbarui oleh BNPB. Data per siang ini, jumlah korban meninggal mencapai 659 orang.
Data tersebut diperbarui BNPB melalui situs Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB), Selasa (2/12/2025). Data tersebut tertulis 'Rekapitulasi Terdampak Bencana'.
Per pukul 12.55 WIB, jumlah korban meninggal 659 orang dan 475 orang hilang.
Sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat hingga kini masih terisolasi akibat bencana banjir dan tanah longsor. Makanya Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus berupaya untuk membuka jalan akses di wilayah Sumatera yang terisolasi.
Akhirnya, Presiden RI Prabowo Subianto memerintahkan seluruh jajaran untuk secara cepat menangani bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kini Pemerintah menyiapkan skenario rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejak awal tahun hingga November 2025 telah tercatat 2.726 kejadian bencana hidrometeorologi.
Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM menyatakan bencana banjir bandang di akhir November 2025 ini sejatinya bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Bahkan para ahli menilai fenomena ini merupakan bagian dari pola berulang bencana hidrometeorologi yang kian meningkat dalam dua dekade terakhir. Kombinasi faktor alam dan ulah manusia berperan di baliknya. Masya Allah, ada ulah manusia di balik banjir dan longsor di tiga provinsi Sumatera.
***
BMKG mengungkap salah satu penyebab bencana banjir hingga longsor di wilayah Sumatera bagian Utara adalah adanya fenomena Siklon Tropis Senyar. Hal ini sempat diprediksi BMKG sekitar delapan hari sebelumnya dan telah memberikan peringatan ke pemerintah setempat.
"Siklon Tropis Senyar itu sudah bisa kita prediksi sekitar delapan hari sebelum proses pembentukan siklon. Jadi di daerah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat itu Kepala Balai 1, Balai Besar BMKG Wilayah 1 itu sudah mengeluarkan warning delapan hari sebelumnya, diulang lagi empat hari sebelumnya, kemudian dua hari sebelumnya," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam rapat koordinasi di kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2025)
BMKG mengungkap salah satu penyebab bencana banjir hingga longsor di wilayah Sumatera bagian Utara adalah adanya fenomena Siklon Tropis Senyar. Hal ini sempat diprediksi BMKG sekitar delapan hari sebelumnya dan telah memberikan peringatan ke pemerintah setempat.
Dia meminta para kepala daerah dapat segera merespons untuk bergerak meningkatkan kewaspadaan. Informasi itu juga agar dapat diberikan langsung kepada masyarakat.
"Sehingga ada beberapa kepala daerah juga yang menangkap informasi itu dan menyampaikan secara langsung kepada jajarannya di tingkat daerah," jelasnya.
Menurutnya, peringatan dini Siklon Tropis menyebabkan curah hujan ekstrem dan ancaman bencana hidrometeorologis, yaitu longsor dan banjir serta banjir bandang. Jadi kepala daerah harus segera merespons dan mencermati setiap informasi yang ada.
"Mohon para kepala daerah juga berhati-hati dan mencermati informasi-informasi yang kami berikan melalui pos atau koordinator tiap provinsi. Ada lima balai besar yang kami miliki, itu memiliki wewenang untuk memberikan warning langsung ke provinsinya. Bisa diundang untuk diajak berdiskusi bagaimana persiapan-persiapan ancaman berikutnya itu bisa langsung diundang," tambah dia.
Menghadapi potensi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu kedepan, BMKG mengimbau masyarakat untuk: Menjauhi wilayah terbuka ketika terjadi hujan yang disertai petir dan angin kencang, serta menjauhi pohon, bangunan dan infrastruktur yang sudah rapuh.
***
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta seluruh gubernur, bupati, dan wali kota di Indonesia untuk segera meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Mendagri meminta kepala daerah melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi serta simulasi tanggap bencana untuk meningkatkan respons masyarakat dan menentukan langkah kesiapsiagaan.
Tak hanya itu, kepala daerah juga harus melakukan pemantauan situasi terkini secara cermat dan berkelanjutan (real time) berdasarkan informasi dari BMKG. Kemudian menyosialisasikan dan menyebarluaskan informasi berbasis data bencana yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah dengan menggunakan media elektronik dan cetak.
Mendagri dalam surat Dalam surat edaran yang diteken pada Selasa (18/11/2025), Mendagri juga meminta kepala daerah segera melakukan pemantauan dan perbaikan infrastruktur, serta normalisasi sungai sebagai upaya pengendalian banjir, rob, dan tanah longsor.
Surat Mendagri itu diterbitkan sebelum bencana cuaca ekstrem secara bertubi-tubi pada hari Senin (24/11) dan Selasa (25/11).
BMKG menyebut sejumlah wilayah di Jawa Timur berpotensi mengalami cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang selama beberapa hari ke depan. Tepatnya mulai tanggal 30 November hingga 9 Desember 2025.
Kepala BMKG Juanda Taufiq Hermawan mengatakan, cuaca ekstrem tersebut juga dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti hujan sedang hingga lebat, angin kencang, puting beliung, hujan es, banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor.
"Saat ini hampir seluruh wilayah Jawa Timur sudah berada pada musim hujan. Diprakirakan dalam 10 hari ke depan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat," kata Taufiq, Senin (1/12/2025).
Ia menjelaskan, potensi cuaca ekstrem ini disebabkan karena adanya fenomena gelombang atmosfer Low, Kelvin dan Rossby yang melintas di wilayah Jawa Timur.
Kepala daerah kini memegang kendali atasi bencana alam maut kayak di Sumatera Selain ada korban manusia, disarankan oleh ahli hidrometeorologi untuk melakukan
Penataan dan pengendalian kawasan yang lemah. Itu dituding turut berpengaruh mengakibatkan maraknya perambahan hutan dan alih fungsi lahan hutan menjadi kebun sawit, serta illegal logging di kawasan hulu sehingga menjadi penyebab berbagai bencana hidrometeorologi. ([email protected])
Editor : Moch Ilham