SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Mayoritas pemilik mobil sering menyepelekan fungsi timing belt (bukan timing chain) dna jarang melakukan perawatan rutin. Padahal komponen berbahan karet ini bisa dibilang sebagai “nyawa” mesin yang paling krusial. Dan jika, timing belt bermasalah, maka dampaknya bisa sangat fatal bagi mesin, Minggu (21/12/2025).
Timing belt merupakan sabuk bergerigi yang berfungsi menyinkronkan putaran camshaft (poros nok) dan crankshaft (poros engkol). Sinkronisasi ini memastikan katup membuka dan menutup selaras dengan pergerakan piston. Sehingga, pemilik kendaraan wajib mematuhi jadwal penggantian timing belt sesuai rekomendasi pabrikan, biasanya setiap 60.000–100.000 km, serta melakukan pemeriksaan rutin.
Pasalnya, jika timing belt putus, retak, atau melompat gigi, piston berpotensi menghantam katup. Benturan keras tersebut dapat merusak katup, piston, hingga kepala silinder secara permanen. Kondisi ini kerap disebut sebagai mesin kolaps atau jebol total. Bahkan biaya perbaikan akibat kerusakan ini bisa mencapai puluhan juta rupiah, jauh lebih mahal dibanding biaya penggantian timing belt yang umumnya hanya ratusan ribu rupiah.
Berikut beberapa tanda kritis timing belt yang perlu diwaspadai oleh pemilik mobil, yakni muncul retakan pada permukaan sabuk, hal itu menandakan karet sudah getas dan kehilangan elastisitasnya. Kondisi ini sangat berisiko menyebabkan sabuk putus secara tiba-tiba.
Selanjutnya, terlihat sabuk menipis atau kendur. Kondisi ini berbahaya karena sabuk tidak lagi mencengkeram pulley dengan sempurna, sehingga berisiko loncat gigi dan mengacaukan timing mesin. Selain itu, periksa juga bagian gerigi timing belt. Jika terlihat tumpul, aus, atau bahkan ada gerigi yang hilang, ini merupakan tanda serius.
Mesin yang sulit dihidupkan atau membutuhkan waktu lebih lama saat starter juga menjadi salah satu problem. Apalagi jika mesin mobil mengeluarkan suara berdecit, mendesis, atau ketukan dari bagian depan mesin, terutama di area penutup timing belt, bisa menjadi indikasi masalah pada belt, tensioner, atau idler pulley yang sudah aus.
Mengganti timing belt sesuai rekomendasi pabrikan, baik dari sisi kilometer maupun usia, merupakan langkah pencegahan paling murah, sehingga sebaiknya segera bawa kendaraan ke bengkel resmi atau bengkel terpercaya untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ingat, mencegah selalu jauh lebih murah daripada memperbaiki. Justru, jika mengabaikan tanda-tanda kritis sama saja mempertaruhkan risiko kerusakan mesin total. jk-06/dsy
Editor : Desy Ayu