SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Brigjen Pol. Sulastiana, M.Si., CRGP., CHCM., CRPP. , adalah seorang polisi wanita (Polwan) perwira tinggi kelahiran Situbondo, kini resmi menjabat Wakapolda Papua Barat. Menurut sumber di Devisi Humas Polri, yang dihubungi Minggu (21/12)
Sulastiana, polwan berpangkat jenderal terbaik di Polri saat ini. Saat ini, ada 17 polwan berpangkat Jenderal. Pangkat paling tinggi adalah inspektur jenderal (irjen).
"Penunjukan ini merupakan bentuk kepercayaan pimpinan bahwa Brigjen Pol. Sulastiana dinilai mampu mengemban tanggung jawab dan amanah jabatan tersebut," tambah pejabat itu.
Brigjen Sulastiana dimutasi bersama 1.085 perwira tinggi (pati) dan perwira menengah (pamen) yang dirotasi pada Desember 2025.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengungkapkan mutasi ini merupakan hal yang wajar dalam organisasi Polri.
Menariknya, dalam mutasi kali ini, tercatat 35 polisi wanita (polwan) mendapatkan promosi.
"Brigjen Pol Dr. Sulastiana, S.IP., M.Si. Auditor Kepolisian Utama Tk II Itwasum Polri diangkat dalam jabatan baru sebagai Wakapolda Papua Barat," tulis surat telegram Kapolri.
Tak hanya itu, enam polwan juga dipercaya menjabat sebagai Kapolres di berbagai daerah, antara lain di Karimun, Majalengka, Batang, Tebing Tinggi, Purbalingga, dan Samosir. Polisi Wanita mulai diperhitungkan memimpin teritotial.
***
Kapolri telah mempromosikan Polwan ke jabatan strategis Wakapolda. Ini untuk memenuhi kebutuhan pelayanan khusus masyarakat.
Sebelumnya, Kapolri juga memberi kepercayaan melalui penunjukan Polwan seperti Brigjen Pol. Nurul menjadi komandan upacara. Ini menunjukkan kesetaraan gender dan pengalaman berharga. Tampaknya,
Peran Polwan (Polisi Wanita) dalam Polri mulai dianggap sangat vital. Selain mencakup penegakan hukum dengan pendekatan humanis (terutama pada kasus perempuan dan anak), membangun hubungan komunitas, meningkatkan kesetaraan gender di institusi. Selain menangani kasus kekerasan berbasis gender dan masalah sosial. Polwan pun menjadi garda terdepan yang profesional, tangguh, dan inklusif dalam melindungi, melayani, dan mengayomi masyarakat Indonesia di berbagai lini tugas kepolisian.
Peran spesifik polwan dianggap memiliki keahlian unik menangani korban perempuan dan anak. Termasuk memberikan dukungan psikologis, serta mengedepankan pendekatan restoratif dan edukatif.
***
Sebagai jurnalis pria saya memotret ada sisi feminin Polwan. Ini bisa dianggap menguntungkan dalam penanganan kasus berbasis gender (kekerasan perempuan & anak) . Ada anggapan umum, Polwan dianggap lebih teliti dan detail.
Kini, makin banyak Polwan menjadi komandan teritorial bisa mengurangi stigma "tugas perempuan" vs "tugas laki-laki", stereotip femininitas vs maskulinitas dalam tugas polisional.
Polri menurut akal sehat saya telah menunjukkan komitmen kesetaraan gender. Terutama dengan promosi Polwan ke jabatan strategis.
Padahal selama ini Polwan sering dipandang lebih cocok untuk tugas administratif, bukan lapangan berat.
Dengan diwujudkan Wakapolda diisi wanita, publik berharap Polwan mampu menjalankan tugas keras seperti polisi pria. Tentu tetap menjaga sisi feminin dan kewajiban domestik sebagai perempuan/ibu rumah tangga.
Wakapolda wanita bisa menghadirkan sisi humanis, empati, dan kelembutan dalam tugas kepolisian yang maskulin. Semoga Wakapolda wanita ini dapat memperkuat citra Polri yang Presisi (Prediktif, Responsif, Transparan, Berkeadilan).
Dalam pandangan saya, kehadiran Wakapolda Polwan dapat membantu mengurangi persepsi maskulinitas berlebihan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat, terutama perempuan.
Bagi Wakapolda wanita yang telah berkeluarga dapat dikatakan ia memiliki peran ganda, dimana selain berkewajiban mengurus rumah tangga, ia juga berperan sebagai anggota kepolisian
Penugasan terhadap Brigjen Pol. Sulastiana, seperti mencerminkan kepercayaan pimpinan Polri terhadap kapasitas dan kepemimpinan polwan di lapangan.
Brigjen Pol Sulastiana, polwan pertama yang menjabat sebagai Wakil Kepala Polda (Wakapolda) Papua Barat. Ada potensi besar Polwan sebagai ujung tombak transformasi yang mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Sudah saatnya Kepolisian Negara RI (Polri) memandang polwan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kekuatan strategis dan pemimpin. Pengalaman di sejumlah negara ketika perempuan diberi ruang untuk mengambil peran operasional yang menantang. Polwan tidak hanya meningkatkan kinerja, tetapi juga membangun citra positif institusi.
Karena itulah, di tengah berbagai tantangan institusi kepolisian, saya memberikan atensi sekaligus harapan atas peran dan eksistensi polwan. Selamat bekerja Wakapolda Papua Barat, Brigjen Pol. Sulastiana. ([email protected])
Editor : Moch Ilham