SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo – Usai dilantik Pengda Jawa Timur, Pengurus Cabang Federasi Olahraga Domino Nasional (ORADO) Kabupaten Sidoarjo, langsung tancap gas, dalam waktu dekat bakal menyelenggarakan Kejuaraan Kabupaten (Kejurcab) Domino pertama, pada 15 Maret 2026 mendatang, untuk menjaring para atlet olahraga domino handal di wilayah Sidoarjo.
Ajang ini sekaligus menjadi momentum penguatan sistem pengawasan pertandingan, agar olahraga domino berkembang secara profesional dan terpercaya.
Langkah tersebut mengikuti kebijakan baru dari Federasi ORADO tingkat nasional, yang memperketat integritas kompetisi melalui sejumlah mekanisme pengawasan modern sejak 2026.
Bagi Pengcab ORADO Sidoarjo, giat Kejurda ORADO ini sekaligus penerapan Sistem baru yang mencakup penggunaan kamera pengawas di meja pertandingan, analisis statistik permainan, pengawasan wasit khusus, serta aturan ketat terhadap praktik komunikasi rahasia antar pemain.
Persiapan menuju kejuaraan yang akan dilakukan, juga dimatangkan melalui simulasi pertandingan, yang digelar di Aula Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Sidoarjo pada Kamis (5/3/2026).
Yang juga dirangkai dengan buka puasa Ramadhan bersama seluruh pengurus ORADO Sidoarjo.
Simulasi pertandingan dipimpin wasit berlisensi ORADO, Donny, dengan dihadiri Ketua Pengcab ORADO Sidoarjo Yonathan Toar Sangari, Ketua Harian Ria Ngegas, Sekretaris Rudy, Bendahara Nova Erin, serta seluruh jajaran pengurus organisasi.
Ketua Pengcab ORADO Sidoarjo, Yonathan Toar Sangari, menegaskan bahwa, kejuaraan ini menjadi tonggak sejarah bagi perkembangan olahraga domino di daerah tersebut.
“Kami ORADO Sidoarjo siap mensukseskan gelar kejuaraan kabupaten domino pertama di Sidoarjo menjadi sejarah bagi dunia olahraga khususnya olahraga di Sidoarjo yaitu domino,” ujar Yonathan, yang akrab disapa Mas Jo.
Menurutnya, domino tidak boleh dipandang hanya sebagai permainan kartu biasa. Olahraga ini, imbuhnya, menuntut kecerdasan strategi, perhitungan matang, loyalitas peraturan serta ketenangan dalam membaca peluang permainan.
“Bagi saya pribadi, domino bukan cuma bermain kartu menyamakan titik-titik. Ada strategi, ada perhitungan matang serta analisa tepat, dan dibutuhkan ketenangan di setiap permainan,” kata Mas Jo lagi.
Ia menambahkan bahwa domino sebagai olahraga strategi sangat potensial menarik minat generasi muda karena melatih kemampuan berpikir cepat serta kerja sama tim. “Olahraga asah otak ini menjadi aktivitas positif bagi masyarakat umum, terutama anak-anak muda,” tambahnya.
Selain aspek pembinaan atlet, ORADO juga menaruh perhatian serius pada integritas pertandingan. Dalam permainan domino yang dimainkan secara berpasangan, potensi kolusi atau kerja sama tidak sah antar pemain relatif tinggi.
Sekretaris Pengcab. ORADO Sidoarjo, Rudi Setiawan, menjelaskan salah satu bentuk kecurangan yang sering muncul yakni signaling, yakni komunikasi rahasia antara pasangan pemain menggunakan kode tertentu.
“Contohnya ketukan meja, gerakan tangan, atau cara meletakkan domino untuk memberi informasi kepada rekan satu tim,” terang Rudi.
Selain itu dikenal pula praktik stacking, yaitu pengaturan distribusi kartu sebelum permainan dimulai agar menguntungkan pihak tertentu. Bahkan di beberapa kompetisi internasional pernah ditemukan penggunaan perangkat elektronik tersembunyi untuk membaca peluang kemenangan.
Untuk mencegah praktik tersebut, ORADO menerapkan pengawasan ketat seperti larangan gestur tertentu selama pertandingan serta pemantauan pola kemenangan pemain melalui analisis statistik permainan.
“Kami membangun sistem pengawasan pertandingan yang transparan agar setiap pemain bertanding secara sportif dan profesional,” tegas Rudi.
Ia juga menegaskan bahwa olahraga domino harus dipisahkan secara tegas dari aktivitas perjudian. “Turnamen domino tidak boleh dikaitkan dengan praktik perjudian atau kecurangan seperti di permainan taruhan. Kami memisahkan olahraga domino dari aktivitas taruhan,” ujarnya. hdk/hik
Editor : Redaksi