SURABAYAPAGI,com, Magetan - Memasuki Tahun Ajaran Baru, para penjahit di Magetan justru dihadapkan pada dilema. Pasalnya, harga benang, kain, dan kebutuhan hidup terus meningkat. Namun, ongkos jahit tetap mereka pertahankan agar tidak semakin membebani para orang tua yang sedang menghadapi tingginya biaya pendidikan terkait pesanan datang bersamaan dari berbagai jenjang sekolah, mulai SD, MI, SMP hingga SMA.
"Kalau ramai ya ramai semua. Semua penjahit pasti ramai saat seperti ini. Masalahnya datangnya bersamaan, sedangkan kami mengerjakan sesuai kemampuan tenaga yang ada," ujar Edi Purwanto, pemilik Rumah Jahit Indah di Jalan Kelud, Rabu (08/07/2026).
Menurutnya, meski pesanan tahun ini tidak seramai tahun lalu, kapasitas usahanya sudah penuh. Bahkan, dia terpaksa menghentikan penerimaan pesanan lebih awal karena keterbatasan tenaga kerja. Pasalnya, dalam sehari, seorang penjahit rata-rata hanya mampu menyelesaikan satu hingga satu setengah stel seragam karena seluruh proses dikerjakan secara detail mulai dari pengukuran, pemotongan hingga penyelesaian akhir.
Suasana serupa terlihat di deretan kios penjahit Pasar Baru Magetan. Sri Mulyani, yang setiap hari, dia bersama suaminya mampu menyelesaikan satu hingga dua setel seragam. Tarif jahit juga dipatok Rp 150.000 per stel dan belum berubah selama tiga tahun terakhir, meski harga benang dan berbagai kebutuhan rumah tangga terus meningkat.
Bagi Sri, musim tahun ajaran baru bukan sekadar kesempatan mencari penghasilan lebih. Banyak orangtua yang datang dengan harapan bisa menghemat biaya sekolah melalui jasa jahit atau permak seragam lama. Mereka rela menahan keuntungan, menjaga tarif tetap terjangkau, agar anak-anak tetap bisa mengenakan seragam baru tanpa menambah berat beban orang tua. mg-01/dsy
Editor : Redaksi