Bu Risma, 'Hancur' Karena Korupsi atau Perselingkuhan, Bukan Lagu

Catatan Jurnalis Muda, Raditya M. Khadaffi

 

Fenomena Walikota akan Lengser Masih Pasang Baliho

 

 

 

 

 

“Dit, Bu Risma iki gak opo-opo ta?” tanya teman saya sealumni di Fakultas Hukum Unair, yang kini jadi dosen di sebuah PTS.

“Lha opoko Bu Risma?” tanya saya.

“Coba takono nang Satgas Covid-19, suhu bu Risma piro? Ojok-ojok 38?”

“Opoko lek suhu bu Risma 38, koma?”

“Suhu orang dewasa sampai 38 derajat Celcius, bisa tidak nyaman atau letih lesu. Suhu seperti ini menurut dokter suatu kondisi yang wajib diwaspadai dan perlu segera ke dokter!”.

“Hehehe.... isok-isok ae awakmu iku!” ucap teman say aitu.

“Eling! Bu Risma ini wis ping pindo dadi wali kota Surabaya, kok jik usreg pasang Baliho?”

“Caper bek’e?”

“Kok isok wong wis tuwek caper?”

“ Yo isok ae. Golek dukungan terus?”

“Opo arek arek Suroboyo kabeh isok dibujuki Bu Risma?” tanyanya.

“Logikaku, gak mungkin!” jawab saya singkat.

“ La kok onok sekumpulan emak-emak, mbela Bu Risma?”

“Gak Percoyo, iku mak-mak mbelo Bu Risma gratis? Oleh opo teko bu Risma? Feelingku emak-emak dimobilisir?”

“Iyo yo. Gak onok wong gelem dimobilisasi gak dibayar? Opo maneh urusan resek?. Kengangguren tah emak-emak iku?”

“Bener-bener. Wong mlebu toilet Pasar Genteng kumuh ae mesti bayar!”

“Lak terus karepe opo bu Risma, digambar menangis ambek model dungo?”

“Latihan main drama, biar lek wis gak dadi Wali kota, isok main drama!”

“Sopo sing nanggap dramae bu Risma? Wong wis tuwek?”

“Angel wis angel, kandanane.... Bu Risma wis terkenal main drama. Gak usah ditanggap, Bu Risma, isok sesunggukan menangis....!”

 

Ini dialog saya dengan teman kuliah dulu, saat saya bersamanya naik mobil di kawasan Medokan Ayu, Sabtu minggu lalu.

Baliho berukuran 2X3 meter itu bertuliskan,

"Bela Bu Risma. Selamatkan Kota Surabaya. #LawanPremanisme”

Saya berdua dengan teman sekampus dulu, sepakat gak perlu bela Bu Risma. “Emangnya dia berjasa untuk kota Surabaya?” kata teman saya.

“Mbangun taman-taman.. iku lak jasae Bu Risma?” jawab saya.

“Bu Risma ini dua periode wis dibayar negoro. Durung duwe ‘hoping hoping’.. secara ekonomi, bu Risma, mesti mensyukuri, wis sugih. Jadi gak perlu dibela, apalagi diberi tanda jasa koyok Bung Tomo!”

“Ohhh, ngono ta? Setuju! Baliho gambar bu Risma, sing minta dibela iki, isok-isok digawe konsultan politike bu Risma!” ucap kawan saya itu.

Saya berdua tidak yakin gambar bu Risma di baliho, dibuat warga kota sebagai bentuk pembelaan terhadap wali kota Surabaya. Apa lagi pasca adanya kelompok yang melakukan hujatan kepada Tri Rismaharini.

***

Proyek pencitraan Bu Risma ini saya nilai tidak meleset. Apalagi ada rilis dari Irvan Widyanto, Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Perlindungan Masyarakat (BPB Linmas) Kota Surabaya, hari Minggu (29/11/2020).

Irvan menegaskan bahwa apa yang dilakukannya itu murni tidak ada kaitannya dengan politik atau Pilwali Surabaya.

"Ini adalah murni saya pribadi. Dan secara kedinasan, saya adalah anak buah Ibu Wali Kota. Jadi saya juga menangkap keresahan teman-teman semua yang artinya sama perasaannya”

Masya Allah, pak Irvan menyebut ada “keresahan teman-teman semua”. Apa yang diresahkan? Siapa teman-teman yang dimaksudkan pak Irvan.

Sampai semalam, anak buah saya blusukan ke beberapa ruangan di Pemkot Surabaya. Ternyata semua bekerja normal. Tidak ada satu kata pun dari ASN di Pemkot Surabaya yang menyebut mereka resah. Terutama terkait bu Risma, yang mau lengser sebagai wali kota Surabaya Juga tidak pusing, mas Eri mencalonkan diri menjadi cawali.

Logika saya berpikir, bekas kepala Satpol PP Pemkot Surabaya ini sebaiknya menjelaskan bentuk keresahan yang dimaksudkannya?. Juga teman-teman yang disebutkan. Apalagi pak Irvan, mengklaim ada warga yang merasa sakit hati dan resah ketika Wali Kota Risma akan dihancurkan.

Pernyataan pak Irvan seperti itu, menurut logika saya, tidak logis. Apalagi dinarasikan oleh seorang SKPD sekelas Irvan Widyanto, seolah ia tidak mengerti makna lagu “hancur, hancur, hancurkan Risma”.

Apalagi pada hari Minggu itu juga, Irvan Widyanto saat diklarifikasi terkait rilis pemasangan baliho "Bela Risma" di sebuah media online yang saya baca, justru berbeda dengan apa yang disebutkan dalam rilis yang dikirim Irvan, beberapa jam sebelumnya.

Irvan malah menyebut jika tidak mengetahui pemasang baliho atau spanduk “Bela Bu Risma, Selamatkan Surabaya #LawanPremanisme”

"Wah saya gak tahu," kata Irvan Widyanto kepada jatimnow.com, Minggu (29/11/2020).

Ia menyebut jika Wali Kota Risma telah melarang untuk pemasangan baliho tersebut.

“Ibu sdh menegur, memarahi saya tidak boleh diteruskan. Dan sudah saya sampaikan ke lurah dan camat,” tegasnya.

Dalam pemasangan baliho dengan narasi seperti itu, pak Irvan sebagai pejabat birokrasi, mestinya mengedepankan akal sehatnya. Ia bisa berdialog dengan akal sehatnya  dengan cara apa bu Risma akan dihancurkan?

Ini negara hukum. Apa bisa bu Risma, dihancurkan hanya dengan teriak-teriakan di depan sebuah gedung.

Logika saya, bu Risma bisa “hancur” bila ia kena kasus korupsi atau perselingkuhan. Kehancuran bu Risma, atas dua kasus ini bukan serta merta tubuh bu Risma, lulu-lantak dipukuli palu atau diserang teroris kayak di Sulawesi Tengah, minggu lalu.

Juga yang saya anggap aneh jargon “Selamatkan kota Surabaya”. Apa kota ini sepenuhnya ada saat bu Risma, menjadi wali kota?.

Sebagai jurnalis muda yang lahir di Surabaya, saya menjadi saksi kota Surabaya menggeliat untuk warga seusia saya adalah sejak Wali Kota pak Poernomo Kasidi (Almarhum), bukan oleh Wali Kota Risma.

Saat Wali kota pak Porkas (sapaan Purnomo Kasidi) memimpin kota Surabaya, dikenal pasukan kuning. Petugas berbaju kuning-kuning ini menjalankan tugas membersihkan sampah-sampah di seluruh kota dari pusat keramaian sampai kampung-kampung.

Program-program populis tidak hanya dilakukan saat Wali Kota Risma.

Bambang DH, senior bu Risma, sudah memperbaiki keadaan kota. Termasuk menata drainase kota  secara besar-besaran. Ini untuk mengantisipasi banjir. Termasuk menata dan membangun banyak taman kota, memperbaiki sekolah, rumah sakit, dan terminal, hingga menggratiskan biaya sekolah dasar dan menengah.

Juga menata jalur pedestrian kota dengan lebih humanis. Pembangunan pedestrian ini agar nyaman bagi para pejalan kaki. Selain membuka gorong-gorong peninggalan Belanda untuk mengendalikan banjir. Peristiwa menarik adalah keberanian pak Bambang DH mencabut banyak izin SPBU yang berada di tengah-tengah jalur hijau.

Wali kota Bambang D.H. juga mempelopori pengembangan Kawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) sebagai kawasan konservasi alam terbesar di Indonesia.

Termasuk  menata banyak pedagang kaki lima dan merelokasinya ke beberapa sentra PKL yang nyaman, rapi, dan bersih.

Sebagai pelaku sejarah di Surabaya, adalah pengakuan yang arogan bila bu Risma, mengklaim wali kota satu-satunya yang membangun kota Surabaya. Maka itu, saya dan teman dosen sepantaran saya, tak ikhlas bila bu Risma, mesti dibela mati-matian. Artinya, apa yang mesti dibela?.

Justru saya dan teman sekampus itu menilai, bu Risma, wali kota yang tidak memiliki rasa malu. Terutama saat memasang baliho bergambar dirinya sedang menangis di menjelang Pilkada Serentak.

Logika saya mengatakan pihak yang pantas menggaungkan untuk menyelamatkan kota Surabaya, bukan bu Risma, tetapi warga kota dari yang tua (saat masih mengalami kebersihan kota era Purnomo Kasidi hingga Bambang DH) sampai yang muda, sebaya saya.

***

Terkait pemasangan Baliho bergambar bu Risma menangis yang diakui sebagai ide pak Irvan. Bu Risma, mesti malu.

Paling tidak, ia sudah tahu seorang kepala daerah hanya bisa dua periode, Bu Risma, nekad pasang baliho kampanyekan diri merasa didholimin?.

Bisa jadi Bu Risma, tidak tahu apa itu dholim dan didholimin? Pelajaran saat saya masih sekolah tingkat dasar hingga SMP, diajarkan dholim atau zalim bersumber dari bahasa Arab. Artinya meletakkan sesuatu/ perkara yang bukan pada tempatnya.

Orang-orang yang berbuat dholim disebut dholimin. Lawan kata dholim adalah adil.

Pertanyaannya, apa yang membuat bu Risma merasa didzalimi? Apakah hanya mendengar sekumpulan anak muda dan orang-orang bernyanyi riang menggunakan syair lagu anak-anak yang diplesetkan “hancur, hancur dan hancurkan Risma” dianggap perbuatan yang mendholimin Risma?

Apakah Risma, yang tidak memberi kesempatan wakil wali kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana, (yang juga pernah menjadi Ketua DPC PDIP Surabaya), maju menjadi cawali, sebagai perbuatan pendholiman terhadap anak tokoh PDIP Ir. Soetjipto (Alm)?

Menurut logika berpikir saya, bu Risma, saya anggap wali kota yang tidak tahan dikritik. Viral lagu dari syair ciptaan Ibu Sud, langsung dicap pendholiman?

Saya pribadi menyerap makna kata-kata  “hancur, hancur dan hancurkan Risma” tak lebih sebuah semangat anak muda anti politik dinasti dan oligarki.

Menggunakan pola pikir positif thinking, yang diucapkan untuk dihancurkan adalah sistem politik dinasti dan oligarkhi. Bukan fisik Bu Risma. Makanya saya heran, Bu Risma dan konsultan politiknya merespon, Bu Risma, seolah didholimin. Makanya pemasang baliho, mencari foto bu Risma, yang sedang menangis berurai air mata. Foto semacam ini oleh sebagian warga kota sudah tidak asing yaitu bak melodrama.

Logika saya, Bu Risma, yang merespon lagu seperti itu dengan memasang baliho besar dimana-mana menggambarkan pikiran pendek.

Sepertinya Bu Risma, tidak malu memasang baliho. Ia seperti merasa bersalah jika tidak melawan dengan Baliho bergambar dirinya yang sedang menangis.

Apakah pemasangan baliho seperti ini mirip ungkapan bahasa Inggris, ashamed atau malu. Ungkapan ini sering diartikan troubled by feeling guilty atau merasa terganggu oleh adanya rasa bersalah.

Menggunakan ensiklopedia tentang kesehatan mental, rasa malu digambarkan sebagai sebuah situasi yang membuat seseorang tidak merasa nyaman untuk mencapai tujuan yang dimiliki. Subhanallah. ([email protected])