•   Sabtu, 16 November 2019
Uncategories

Jepang Sibuk Diplomasi Jelang KTT Donald Trump - Kim Jong-un

( words)
Shinzo Abe dan Donald Trump


SURABAYAPAGI.com - Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dijadwalkan melakukan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington, Kamis (07/06).

Abe dilaporkan akan meminta kepada Presiden Trump agar sejumlah kekhawatiran keamanan yang dimiliki Jepang juga dibawa ke dalam pertemuannya dengan Kim Jong-un. Pertemuan itu sendiri direncanakan akan digelar di Singapura, Selasa mendatang (12/06).

Sejak Trump menjabat sebagai presiden Amerika Serikat, Shinzo Abe memang sudah sering menggelar pertemuan. Begitu diumumkan bahwa Presiden Trump berencana bertemu dengan pemimpin Korea Utara - suatu langkah yang berada di luar kebijakan AS selama puluhan tahun - maka PM Abe ingin sekali menyampaikan kekhawatiran Jepang.

Kepentingan Jepang
Salah satu kekhawatiran Jepang adalah mungkin saja kepentingan Jepang dikesampingkan dalam kesepakatan yang dicapai antara Amerika Serikat dan Korea Utara.

Sebelum bertolak ke AS, PM Abe secara jelas memaparkan tujuan kunjungannya ke Washington untuk "bertemu dengan Presiden Trump guna melakukan koordinasi menggenjot kemajuan dalam masalah nuklir, rudah dan - yang paling penting - masalah korban penculikan".

Selama periode 1970-an dan 1980-an, Korea Utara menculik sejumlah warga negara Jepang untuk melatih mata-mata Korea Utara dalam mengasah kemampuan bahasa Jepang dan ada istiadat negara itu.

Korea Utara telah mengakui menculik 13 warga Jepang tetapi jumlah yang sebenarnya diyakini lebih banyak. Namun kantor berita Korea Utara KCNA melaporkan persoalan itu sudah "diselesaikan" dan sebaliknya menuduh Jepang "melebih-lebihkan" masalah dengan tujuan menghambat proses denuklirisasi.

Uji joba rudal Korea Utara telah melintasi wilayah Jepang selama satu tahun terakhir.

Kesibukan diplomasi
Kunjungan PM Shinzo Abe ke Washington merupakan bagian dari upaya diplomasi menyongsong pertemuan puncak bersejarah antara pemimpin Korea Utara dan presiden Amerika Serikat. Setiap negara yang terkait berusaha agar kepentingan mereka tidak dikesampingkan.

Aktivitas diplomasi:
Rencana pertemuan puncak sejatinya sempat dibatalkan sepihak oleh Presiden Trump setelah eskalasi retorika antara para diplomat AS dan Korut.

Retorika tampaknya masih timbul tenggelam. Terbukti dari pernyataan pengacara Trump, Rudy Giuliani, yang pada hari Rabu (06/06) mengutarakan bahwa pemimpin Korea Utara "meminta-minta" agar pertemuan puncak diwujudkan.

Giuliani bertindak sebagai pengacara Trump dalam penyelidikan dugaan kolusi dengan Rusia dalam pemilihan presiden AS lalu.

Dikatakannya Amerika Serikat mempunyai posisi yang jauh lebih kuat dibandingkan Korea Utara dalam pertemuan nanti. Korea Utara belum mengeluarkan tanggapan atas pernyataan Rudy Giuliani tersebut.

Berita Populer