Krisis 1998: Rupiah "Ngamuk" Hantam Hingga Rp 16.550 di Tahun Ini

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pagi ini berada di level Rp 16.486. Mata uang Paman Sam menguat dibandingkan pekan lalu. Nilai tukar rupiah "mengamuk" pada perdagangan Selasa (7/1/2020) setelah melemah dalam tiga hari beruntun. Dolar Amerika Serikat (AS), Singapura, dan Australia dilibas oleh Mata Uang Garuda.

Mengutip dataReuters, Senin (23/3/2020), dolar AS berada di level tertingginya Rp 16.550 per 09.30 WIB.

Pada Jumat pekan lalu (20/3) dolar AS berada di level Rp 16.200. Angka tersebut merupakan rekor sebelumnya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sebelumnya mengatakan, langkah stabilisasi nilai tukar yang dilakukannya dengan selalu menyediakan suplai dolar AS di pasar. Tujuannya untuk menenangkan pasar.

"Kami lakukan dengan intervensi baik secara tunai,spot maupun secaraforward melalui Domestik Non Delivery Forward. Ini untuk menjaga mekanisme pasar dan agar tidak terjadi kepanikan dan memberikan confidence di pasar," terangnya melalui video conference, Jumat (20/3/2020).

Untuk cadangan devisa (cadev) sendiri, Perry memastikan kondisinya masih lebih dari cukup. Hingga akhir Februari 2020 posisinya masih US$ 130,4 miliar.

"Tentu saja berkoordinasi dengan pemerintah, Menkeu, Menteri BUMN, tentu saja langkah lanjutan akan dilakukan bagaimana kemudian berbagai program maupun pembiayaan budget nanti juga akan didatangkan devisa," tambahnya.

Sementara itu, dalam transaksi konvensional di perbankan tanah air, sudah ada yang menjual dolar AS di posisi Rp 16.550. Berikut daftar nilai tukar rupiah hari ini terhadap dolar: Bank Mandiri: kurs jual Rp 16.500 BCA: kurs jual di Rp 16.550 BNI: kurs jual di Rp 16.450 BRI: kurs jual di Rp 16.335 Panin: kurs jual di Rp 16.530 Di penghujung 2019, rupiah menunjukkan kekuatan yang membuat ketiga dolar tersebut melemah, tetapi memasuki tahun 2020, malah berbalik melemah akibat sentiment pelaku pasar yang memburuk. Kini dengan membaiknya sentimen pelaku pasar, rupiah kembali unjuk keperkasaan. Kecemasan akan terjadinya perang antara AS dengan Iran sedikit mereda, meski pelaku pasar juga tetap waspada. Sepanjang akhir pekan lalu, tensi kedua negara memanas setelah AS pada Jumat (3/1/2020) membunuh Jenderal Quds Force, pasukan elite Iran, Qassim Soleimani lewat serang pesawat tanpa awak di Bandara Baghdad. Jenderal Soleimani adalah sosok paling penting nomor dua di Iran dan dikenal sebagai tokoh revolusioner Iran. Soleimani yang berusia 62 tahun itu juga dikenal sebagai pemimpin Garda Revolusi Iran, memikul tanggung jawab atas operasi rahasia Iran di luar negeri. Sejumlah analis bahkan menilai Soleimani memiliki pengaruh diplomatik yang lebih besar ketimbang Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif.

Zarif mengutuk keras tindakan AS, dan menyatakan bahwa Iran tidak takut untuk membalas AS. "AS bertanggung jawab atas semua konsekuensi dari keputusan jahatnya," tegasnya melalui akun Twitter, Jumat (3/1/2019).

Sementara pada Sabtu (4/1/2020) waktu Washington, Presiden AS Donald Trump, melalui akun Twitter-nya memperingatkan Iran untuk tidak melakukan balasan atas tewasnya Jendral Soleimani. Jika peringatan tersebut tidak dihiraukan, Trump akan menyerang sebanyak 52 wilayah Iran sebagai balasan. Namun, hingga Senin kemarin Iran yang belum "balas dendam" membuat pelaku pasar lebih tenang, sentimen sedikit membaik, dan kembali masuk ke aset berisiko yang berimbal hasil tinggi.

Dikutip dari Reuters, "Risiko konflik memang meningkat. Namun pada kenyataannya, mungkin hanya akan sebatas pertempuran-pertempuran kecil yang sporadis. Risiko konflik yang sangat panas rasanya kecil karena Iran mungkin tidak akan melakukan respons yang membuat situasi tereskalasi signifikan," papar Tom Porcelli, Kepala Ekonom Wilayah AS di RBC Capital Markets.

Membaiknya sentimen pelaku pasar terlihat dari bursa saham AS (Wall Street) yang berbalik menguat pada perdagangan Senin kemarin, dan diikuti bursa saham Asia hari ini.

Ketika sentimen pelaku pasar membaik, aset-aset berisiko dan berimbal hasil tinggi akan menjadi target investasi, dan rupiah menjadi salah satu yang mendapat rezeki. Dampaknya, rupiah berhasil melibas ketiga dolar pada hari ini.(reuters/dc/cnbc/cr-03/dsy)