•   Jumat, 28 Februari 2020
Gas Dan Bumi

Pertamina Tak Lepas Tangan Atas Tumpahan Minyak, Berikut Penjelasannya

( words)
Dirut PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati (kedua kanan) dalam konferensi persnya didampingi Menteri Susi Pudjiastuti di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan SP/Jbrnws


SURABAYAPAGI.com - PT Pertamina (Persero) menyiapkan formula kesepakatan ganti rugi kepada pihak yang dirugikan atas tumpahan minyak dari anjungan sumur migas BUMN ini di perairan Karawang, Jawa Barat.

"Untuk Karawang, sedang dibentuk komite yang dipimpin oleh dinas KKP, pemda setempat, himpunan nelayan dan juga kepala desa terdampak," kata VP Corporate Communications Pertamina Fajriyah Usman, Jumat (2/8).

Dalam penjelasannya dibutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak agar bentuk ganti rugi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Hal senada juga dilontarkan oleh Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, yang menyampaikan bahwa Pertamina akan memberikan kompensasi kepada warga yang terkena dampak tumpahan minyak (oil spill) di sekitar anjungan lepas pantai YY PHE ONWJ, Karawang, Jawa Barat.

Perihal jumlah besaran ganti rugi yang akan diberikan, Nicke mengatakan, bukan ranah Pertamina, melainkan pemerintah daerah setempat. Sementara mekanisme ganti rugi masih dalam proses pendataan.

Bagi masyarakat yang ingin mengajukan ganti rugi pun harus melewati prosedur yang sudah disediakan melalui posko pengaduan yang didirikan Pertamina. Setelah mendapatkan pengaduan, Pertamina akan memverifikasi laporan tersebut, supaya pemberian ganti rugi bisa lebih tepat sasaran.

Jumlah besaran ganti rugi yang akan diberikan, bukan ranah Pertamina, melainkan pemerintah daerah setempat, kami menunggu verifiksi data," kata Nicke dalam konferensi persnya didampingi Menteri Susi Pudjiastuti di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Saat ini kata Nicke mekanisme ganti rugi masih dalam proses pendataan dari sebelas desa yang ada di Karawang dan dua desa di Bekasi, Jawa Barat.

“Mengenai ganti rugi kita akan lakukan secepatnya. Namun kami masih berkoordinasi dengan pemda dan dinas terkait lainnya untuk bersama-sama merumuskan dan menetapkan standar nilai kompensasi untuk masyarakat,” ujarnya.

Sementara terkait lingkungan, Nicke menjelaskan bahwa penanganan yang dilakukan saat ini berfokus kepada mematikan sumur YYA-1 terlebih dahulu dibantu dengan perusahaan asing Boots and Coots yang berkompeten di bidangnya. Dalam jangka panjang, Pertamina akan melakukan CSR secara berkala dan pemulihan terhadap lingkungan.

“Kalau ada lingkungan yang rusak, kami berkomitmen untuk melakukan recovery. Walaupun sampai saat ini masih ada ceceran minyak yang lepas dari oil boom dan belum terambil di lautan, kami berkomitmen kemanapun spill-nya ada di lautan Indonesia akan kami kejar. Selama ini, program CSR sudah kita jalankan dengan baik dan akan kita tingkatkan,” katanya.

Berita Populer