SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Sebuah studi baru yang diterbitkan di Science Advances, menunjukkan bahwa polusi cahaya global telah meningkat sekitar 2 persen per tahunnya dari tahun 2012 hingga 2016. Hal ini disebabkan oleh pergantian kita ke lampu hemat energi yang lebih terang.
Dalam usaha untuk membawa Bumi jadi tempat yang lebih baik, diciptakanlah berbagai perangkat hemat energi. Salah satu yang paling umum digunakan adalah lampu LED yang lebih hemat dari lampu konvensional. Studi ini penting untuk ada karena polusi cahaya berpengaruh besar atas kesehatan satwa liar.
Bahkan studi tersebut juga menyebut bahwa adanya konsep hemat energi tersebut justru membuat jumlah lampu LED yang dipasang di sebuah kota jadi jauh lebih banyak, dan mengingkari kehematan energi yang ditawarkan lampu tersebut dari awal.
Studi ini menggunakan instrumen yang ada di satelit Suomi NPP untuk memonitor cahaya lampu dari atas. Berbagai efek samping polusi cahaya adalah seperti yang disebut oleh sebuah jurnal di Nature, bahwa serangga nokturnal juga melakukan penyerbukan. Selain itu, penyebaran benih oleh kelelawar yang merupakan binatang malam juga terganggu.
Polusi cahaya ini juga buruh bagi manusia. Pasalnya cahaya lampu di malam hari, terlebih lagi di langit, dapat mengganggu produksi melatonin dan ritme sirkadian yang berhubungan dengan jam tidur biologis. Sebuah atlas yang dirilis 2016 lalu juga memperlihatkan bahwa sepertiga orang di Bumi tak bisa melihat awan Bima Sakti di malam hari karena polusi cahaya.
Singapura adalah negara yang paling parah. Karena negara kota tersebut sangat terang, mata masyarakatnya tak bisa beradaptasi untuk penglihatan malam. yn
Editor : Redaksi