SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Propinsi Jawa Timur, ketika ditemui Wartawan Surabayapagi.com menegaskan penanganan stunting harus ditangani multisektor.
Program kerja BKKBN Provinsi Jawa timur untuk tahun 2022 ini, masih fokus pada program stunting, AKB ( Angka Kematian Bayi ) dan AKI ( Angka Kematian Ibu ) yang sudah menjadi program pemerintah dan Instruksi Presiden.
Baca juga: Pemkab Probolinggo Komitmen Tekan Angka Stunting Lewat Gerakan ‘Jiwitan Si Manis’
“Masalah stunting merupakan masalah kesehatan ibu dan anak yang harus ditangani oleh multisektor”, ujar aulia. humas BKKBN Provinsi Jawa Timur yang ramah ini.
Baca juga: Percepat Penurunan Kasus Stunting, Pemkab Madiun Targetkan di Bawah 5 Persen
Dalam masalah Stunting BKKBN ditunjuk sebagai koordinator dalam pencegahan, namun stunting itu Multi Sektoral. BKKBN tidak sendirian dalam menangani stunting ini, dalam hal ini dibutuhkan inter policies (antar kebijakan ) dan kolaborasi dari lintas sektor. Mulai dari sektor pemerintah, LSM/NGO, corporate, wartawan dan peran medianya.
“Oleh karena itu perlu dilakukan intervensi dan integritas dari lintas sektor dalam penanganan stunting,”ucapnya
Baca juga: Monev Stunting Semester II 2025, Capaian Stunting Turun Jadi 1,12 Persen
Bahkan Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. mengingatkan tentang besarnya Angka Kematian Ibu saat Melahirkan, walaupun pada saat bersamaan dengan mewabahnya COVID19. min
Editor : Moch Ilham