SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menargetkan menargetkan optimalisasi Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) di tahun 2023 melebihi angka Rp 3,8 Triliun.
Hal tersebut disampaikan oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat upacara peringatan Hari Otonomi Daerah ke-27 tahun 2023 di Taman Surya Balai Kota Surabaya, Sabtu (29/4/2023).
Baca juga: Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Aktivasi Ruang Publik
Menurut Eri, target tersebut dipasang karena pada bulan Maret 2023, Kota Surabaya menerima penghargaan P3DN dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI) atas optimalisasi program P3DN.
”Capaian P3DN Pemkot Surabaya tahun anggaran 2022 tembus di angka Rp 3,8 triliun. Pada 2023, Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran APBD senilai lebih dari Rp 3 triliun pada sektor UMKM,” kata Eri Cahyadi.
Maka dari itu, Pemkot Surabaya berkomitmen membelanjakan triliunan APBD untuk produk lokal dan UMKM. Berdasarkan data Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) per 25 November 2022, belanja APBD Surabaya untuk UMKM mencapai Rp 1,2 Triliun, serta hingga akhir tahun 2022 mencapai Rp 2,2 Triliun.
Sementara belanja untuk PDN (Produk Dalam Negeri) tembus di angka Rp 1,7 Triliun, serta hingga akhir tahun 2022 menembus angka Rp 3,8 Triliun.
“Data tersebut menunjukkan, belanja APBD Kota Surabaya untuk sektor usaha mikro dan kecil (UMK), serta produk dalam negeri (PDN), tercatat sebagai yang tertinggi di antara semua kota di Indonesia,” ujarnya.
Ia menilai, pencapaian tersebut merupakan bukti bahwa Pemkot Surabaya terus berpihak kepada ekonomi rakyat.
Orang nomor satu di Kota Surabaya itupun mengaku, anggaran tahun 2023 akan difokuskan pada pemberdayaan UMKM, serta untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di Kota Surabaya.
”Insya Allah komitmen Pemkot Surabaya pada 2023 harus jauh lebih besar dari tahun sebelumnya,” tuturnya.
Baca juga: Ketua Komisi A Beri Cacatan Satu Tahun Kepemimpinan Eri-Armuji
Ia menjelaskan, sebenarnya TKDN (tingkat komponen dalam negeri) ada yang dikerjakan lewat e-katalog oleh masyarakat. Tapi bisa juga melalui lelang berdasar TKDN.
”Di situlah fokus kita, semakin banyak anggaran yang tercapai, tertuju, dan diterima masyarakat, secara otomatis bisa mengurangi kemiskinan dan pengangguran,” ucapnya.
Oleh sebab itu, Pemkot Surabaya telah melakukan pendataan pada kelompok usia produktif di lingkungan masyarakat. Sebanyak 75 ribu warga masuk dalam kategori keluarga miskin yang akan diberdayakan melalui program Padat Karya milik Pemkot Surabaya.
“Orang yang masuk dalam keluarga miskin kita berikan pekerjaan yang disinergikan dengan Padat Karya, karena hubungannya dengan penyerapan anggaran APBD Kota Surabaya,” ungkapnya.
Kendati demikian, masih ada 15 ribu warga diantaranya yang menolak tawaran tersebut.
Baca juga: Radial Road Lontar Ditarget Tuntas Maret 2026, Wali Kota Eri Cahyadi: April Sudah Bisa Dilewati
“Tetapi sekitar 15 ribu warga tidak mau dibantu akan kita lakukan pendekatan lagi, kalau tidak mau ya sudah. Jika tidak mau, tidak kita berikan bantuan apapun, kecuali lansia, atau memiliki balita dan dia tidak bekerja, tetapi kalau usia produktif harus bekerja,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan, warga yang menolak tawaran tersebut telah membuat surat pernyataan. Nantinya, Wali Kota akan menyampaikan kepada Kementerian Sosial (Kemensos) RI, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Pasalnya, melalui program Padat Karya tersebut diharapkan warga Surabaya dapat hidup sejahtera.
“Kita berikan pekerjaan tetapi mereka tidak mau, berarti tidak mau mengubah hidupnya. Pendapatnya tidak jelas, kurang dari Rp 1 juta, setelah itu kita berikan pekerjaan agar pendapatannya di atas Rp 3 juta ya tidak mau. Sehingga tidak mungkin kita merubah orang seperti ini karena mereka tidak ingin bekerja, tetapi hanya ingin mendapatkan bantuan maka kita tidak bisa memberikan seperti itu,” tutupnya. sb
Editor : Redaksi