SURABAYAPAGI.com, Purwodadi - Momen langka dan bersejarah baru saja terjadi di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, yakni mekarnya bunga pertama kali Amorphophallus titanum atau yang lebih dikenal dengan nama Bunga Bangkai yang tumbuh dengan bobot umbinya mencapai 8 kilogram, sejak awal Oktober 2024.
Sebagai informasi, bunga dengan nama latin Amorphophallus titanum ditemukan di hutan hujan Sumatera dan dikenal dengan aroma kuat dan menyengat yang dihasilkannya saat mekar yakni mirip dengan bau daging yang membusuk karena berfungsi menarik penyerbuk seperti lalat dan kumbang pemakan bangkai.
Baca juga: Heboh! Polemik Aturan Nisan 'Dicoret Tanda Silang Merah' di TPU Kludan Sidoarjo
Setelah penyerbukan terjadi, bunga tersebut akan mulai layu dan proses siklus hidup tanaman berlanjut ke pertumbuhan daun besar yang akan mengumpulkan energi untuk fase mekarnya berikutnya.
“Fenomena ini terjadi setelah periode dormansi yang panjang dan menandai salah satu dari momen dalam tahun ini ketika bunga langka ini mekar,” kata General Manager Kebun Raya Purwodadi Galendra Jaya, Selasa (15/10/2024).
Baca juga: Viral Lagi di Medsos!, Menu MBG Lele dan Tahu Mentah Ditolak Mentah-mentah Pihak Sekolah
Sementara itu, terkait tumbuhnya bunga bangkai yang langka tersebut, diketahui mulai mekar kelopaknya sudah terlihat sejak Minggu (13/10/2024) pukul 10:00 WIB dan masih terdapat 12 bunga bangkai lain yang menyusul untuk berbunga.
Lebih lanjut, Kebun Raya Purwodadi pun mengundang pecinta tanaman maupun masyarakat untuk menyaksikan mekarnya Amorphophallus “Kami menyarankan agar pengunjung datang segera karena periode mekar bunga ini sangat singkat, hanya berlangsung beberapa hari,” ujarnya.
Baca juga: Terkendala Masalah Teknis, Truk Sampah Keropos di Kota Malang Tetap Beroperasi - Berceceran di Jalan
Sebagai informasi, mekarnya Amorphophallus titanum di Kebun Raya Purwodadi menjadi bukti keberhasilan konservasi tumbuhan langka di Indonesia. Ini juga menggarisbawahi pentingnya perlindungan biodiversitas dan peran kebun raya dalam menjaga kelestarian flora endemik Nusantara. pw-01/dsy
Editor : Desy Ayu