Atlet Berprestasi, Bonus dan Jaminan Hari Tuanya

surabayapagi.com
Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi memberikan bonus Rp 1 Miliar kepada peraih medali emas SEA Games 2025. Ia pun memberikan pesan khusus kepada atlet, saat pemberian bonus di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis (8/1/2026).

Masalah bonus, bagi Presiden kita bukan masalah sesuatu yang gembar gembor. Tapi  masalah harga diri bangsa. "Karena itu saudara lihat negara-negara semua antusias untuk ikut serta. Bahkan ada negara yang berbuat apa saja untuk menang," Prabowo, mengungkapkan.

Baca juga: Prabowo Tertegun Hitung Medali Emas Martina, Atlit Triatlon

"Saya mengerti dengan cabang-cabang yang penilaiannya tidak terlalu objektif, saudara telah berbuat yang terbaik dan dikasih yang sesuai itu biasa, tak perlu berkecil hari, yang penting saudara sudah berjuang sekeras tenagamu."

"Dan sekarang masalahnya adalah bagaimana Anda meningkatkan prestasi di saat-sata mendatang. Saya juga terima kasih para ketua cabor yang telah membina dengan baik. Tanpa membina dengan baik tak mungkin atlet berprestasi."

"Saudara-saudara saya kira merasakan betapa negara menghargai putra putrinya yang berjuang untuk kehormatan bangsa. Kalau kita memberi penghargaan berupa uang maksudnya itu adalah justru untuk menjadi tabunganmu dalam masa-masa akan datang."

"Bukan hanya kita seolah-olah kita membayar upah. Tidak. Ini adalah penghargaan karena untuk mencapai tingkat seperti saudara, saudara mengorbankan waktu, tenaga, saudara korbankan mungkin hal-hal yang saudara hidup dengan enak, santai, tapi latihan, saudara berjuang."

"Bonus ini adalah penghargaan atas itu. Penghargaan atas keringatmu, atas jeri payah, menjadi atlet, itu menjaga mental yang khusus menjadi atlet yang dipilih di kancah internasional, itu mentalnya lebih lagi. Orang yang tidak punya semangat tidak mungkin bisa tampil di tingkat internasional."

"Saudara mungkin pada saat lelah, capek, keram, sudah mau menyerah, tapi saudara mencari kekuatan dalam kekuatan energi demi negara, orang tua, dan kawan-kawan saya. Itu kelihatan," kata Prabowo.

"Terima kasih atas jerih payah kalian, kami hargai dan kita buktikan, kita berikan tabungan untuk saudara-saudara untuk hal-hal yang baik. Saya titip dengan saudara-saudara. Saudara masih muda jangan dipakai untuk hal yang tidak positif. Tabung untuk orang tuamu. Saya kira itu yang ingin saya sampaikan. Terima kasih, hormat kami pada saudara-saudara," pesan Prabowo. Pesan ini sangat mengharukan dan patriotis .

 

***

 

Pertanyaan saya yang lebih mendasar, apakah penghargaan tersebut telah ditempatkan dalam kerangka keadilan fiskal dan pembangunan olahraga jangka panjang?

Jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN lainnya, bonus atlet Indonesia saat ini tergolong sangat tinggi. Thailand, Singapura, Filipina, Malaysia, dan Vietnam memberikan bonus dengan nominal yang jauh lebih rendah. Thailand memberikan bonus sebesar 9.619 dollar AS atau sekitar Rp 161,7 juta bagi peraih emas. Singapura memberikan 7.750 dollar AS (Rp 130,4 juta), Filipina 5.104 dollar AS (Rp 85,5 juta), Malaysia 4.904 dollar AS (Rp 82,5 juta), dan Vietnam 1.709 dollar AS (Rp 28,6 juta). Perbedaan ini menunjukkan bahwa Indonesia menempatkan bonus sebagai instrumen utama apresiasi, melampaui praktik negara-negara tetangga.

Menurut Thairath, pemerintah Thailand menjanjikan hadiah senilai 300.000 Baht atau setara Rp161,8juta bagi atlet yang berhasil menyabet sekeping emas. Kemudian Singapura sebesar SGD 10.000 (Rp130,4 juta).

 Filipina, menurut The Filipino Times, mencairkan bonus 300.000 peso kepada atletnya. Atau dirupiahkan kurang lebih Rp85,5 juta. Sedangkan Malaysia menyiapkan 20.000 Ringgit Malaysia (Rp82,7 juta).

Sementara itu, pemerintah Vietnam memberikan bonus medali emas sebesar 45.000.000 Dong Vietnam bagi para atletnya. Kalau dikalkulasikan, nominal tersebut setara Rp28,7 juta.

Sejumlah ketua pengurus cabang olahraga Negeri Naga Biru berharap bonus medali emas SEA Games 2025 bagi para atlet bisa naik seperti Indonesia.

"Hadiah uang Indonesia untuk medali emas SEA Games melebihi 1 miliar Rupiah, setara dengan sekitar 1,5 miliar Dong Vietnam," ungkap perwakilan delegasi olahraga Vietnam dinukil dari Bongda24h.

"Jika mereka memenangkan 80 medali emas, total hadiah uang akan mencapai sekitar 120 miliar Dong. Angka ini mungkin tidak besar dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya, tetapi bagi olahraga, ini merupakan sumber motivasi yang besar."

Baca juga: MBG, Siapa yang Berani Kritik

"Mengakui kelemahan ini, sektor olahraga secara aktif memberikan saran untuk merevisi kebijakan guna meningkatkan besaran hadiah, memperbaiki nutrisi, dan memberikan manfaat lain bagi atlet," lanjutnya.

Media Singapura, The Straits Times, juga turut menyoroti perbedaan bonus atlet SEA Games 2025. Secara khusus, mereka membandingkan nominal hadiah antara Indonesia dan Malaysia.

"Meskipun ada seruan untuk perubahan dalam beberapa tahun terakhir, insentif yang ditawarkan kepada peraih medali emas SEA Games Malaysia melalui Skema Insentif Olahraga Nasional (Shakam) tetap termasuk yang terendah di kawasan ini," tulis The Straits Times seperti dikutip pada Kamis (25/12/2025).

"Malaysia memberikan insentif sebesar RM20.000 kepada atlet nasional untuk medali emas pertama mereka di SEA Games dan RM10.000 untuk medali emas berikutnya yang diraih. Peraih medali perak dan perunggu masing-masing menerima RM3.000 dan RM1.000."

Menurut akal sehat saya, bonus bagi atlet dan pelatih peraih medali dapat memberikan motivasi untuk berjuang lebih keras demi prestasi yang lebih tinggi.

 Dengan bonus besar kali ini, sudah sewajarnya, pembinaan para atlet harus terus di tingkatkan, agar tidak. Bahasa heroisnya  ayo terus berlatih, karena waktu menuju multi event berikutnya Asia game sangat singkat.

 

***

 

Lalu, saya  bertanya, apakah nilai positif dari pemberian bonus itu bagi peningkatan prestasi atlet?

Baca juga: Menukil Gaya Kepemimpinan Otoriter Soeharto

Kita tentu saja bisa berdebat panjang menyangkut hal ini. Yang pasti, jika ukurannya kuantitas medali dan melupakan makna proses pembinaan atlet sejak usia dini, maka bonus kali ini bisa hanya akan jadi hura-hura nasional oleh atlet atlet muda.

Catatan jurnalistik saya menulia Lifter nasional, Eko Yuli Irawan, peraih perak di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, pernah mengutarakan keluh kesahnya.

Sebagai seorang olimpian, Eko merasa belum merdeka lantaran merasa ada yang belum sempurna soal pembinaan atlet di Indonesia. Misalnya, penerapan kuota atlet berprestasi harus dibatasi karena keterbatasan dana pemerintah.

"Kemerdekaan untuk mendapatkan kesempatan yang sama bagi semua atlet berprestasi, termasuk yang di daerah untuk ikut ambil bagian dalam seleksi dan bersaing di pelatnas ini yang menurut saya belum terjadi," kata Eko kepada CNNIndonesia.com, Jumat (14/8/2017).

Tak hanya itu, Eko juga menilai atlet berprestasi belum merdeka secara finansial. Ia mempertanyakan dana pensiun buat atlet peraih medali Olimpiade dari pemerintah pusat yang selama ini baru diterima sekali pada 2016.

Eko mengapresiasi usaha pemerintah yang memberikan bonus besar bagi atlet peraih medali di setiap ajang multievent yang membawa nama harum negara. Namun, ia berharap pemerintah tidak melupakan jaminan pensiun.

Eko yang pernah meraih medali emas SEA Games 2007 juga mempertanyakan status PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang menyamaratakan golongan antara peraih medali di SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.

"Peraih medali Olimpiade dan SEA Games misalnya sama-sama dapat PNS, tapi ujung-ujungnya dilihat ijazah terakhir. Sementara untuk jadi atlet berprestasi di Olimpiade, perjuangannya harus mengorbankan sekolah untuk fokus latihan."

"Saya pernah ngobrol dengan Butet [Liliyana Natsir, peraih medali emas Olimpiade 2016], kami sama. Alangkah baiknya, jika tunjangan hari tua yang sempat diberikan pada 2016 itu dilanjutkan. Itu sebagai penghargaan buat kami peraih medali di Olimpiade dari negara. Karena perjuangan di Olimpiade itu berbeda," ujar Eko. Uneg uneg Lifter nasional, Eko Yuli Irawan, patut didengar pemilik otoritas di Kemenpora dan Kepala Daerah. (radityakhadaffi@gmail.com)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru