SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Sejak pandemi awal tahun 2020, laju kehidupan berubah drastis. Pergerakan manusia yang semula sangat cepat dan luas, kini menjadi terbatas tanpa kecuali delapan fotografer dokumenter yang sempat merencanakan pameran di sebuah museum dan gagal akibat pandemi.
Mereka bersepakat bahwa keterbatasan ruang gerak bukan berarti kematian berkarya dan harus mengambil kembali ruang yang hilang tersebut dengan menciptakan sebuah ruang virtual.
“In Between” merupakan ruang bercerita dengan menggunakan bahasa visual yang diambil dari berbagai macam sudut pandang. Melalui platform digital www.melihatbersama.com mereka berusaha menciptakan ruang yang bercerita tentang pengalaman masa lalu, gagasan hari ini dan harapan masa depan.
Ketua Pameran Idealita Ismanto mengungkapkan bahwa perlu waktu memang untuk memutuskan tetap menyelenggarakan pameran di tengah Pandemi.
“Kami sadar bahwa menyelenggarakan pameran secara offline, dan menghadirkan kerumunan bukan bagian dari mendukung usaha pemerintah memutus penyebaran Covid-19, untuk itu kami putuskan menyelenggarakan secara on line” jelasnya.
“Mengenai waktu pelaksanaan kami memilih 10 November yang dikenal sebagai Hari Pahlawan, bisa dibilang apa yang kami lakukan sebagai bentuk penghormatan bagi para pahlawan yang telah berjuang bagi negara sehingga kami bisa merasakan kemerdekaan dan kebebasan dalam bekarya seperti saat ini” imbuhnya.
Tidak ada tema khusus dalam pameran yang berjudul "In Between" ini. Pameran foto hanya memilih nama, karena dirasa relevan dengan kondisi saat ini bahwa kami sedang berada diantara keadaan yang normal dan tidak normal.
Salah satu pameris, Fully Syafi menghadirkan cerita tentang sampah plastik yang mengotori lingkungan.
“Dalam Into The Waste saya ingin menggambarkan dampak lingkungan dari perilaku manusia dan industri terhadap penggunaan plastik sekali pakai juga impor sampah plastik oleh industri” kata Fully.
Fully menambahkan bahwa perilaku ini secara akumulatif akan memberikan dampak pencemaran bagi tanah, air dan udara. Kita dan industri bertanggung jawab terhadap lingkungan akibat buruknya tata kelola sampah plastik yang kita konsumsi.
Sementara Mamuk Ismuntoro dengan karyanya yang berjudul Manusia di Lini Masa membuat seri portrait tentang orang-orang biasa yang ia temui di tempat umum.
“Mereka orang-orang biasa juga berhak tampil di media sosial seperti di Instagram. Jadi media sosial bukan melulu soal si pemilik akun. ” ujar Mamuk.
Pameris yang terlibat dan berikut judul karyanya adalah Aftonun Nuha (In Pursuit of Happiness), Anton Subandrio (My Planet), Bahana Patria (Teaterikal Pandemi), Fully Syafi ( Into The Waste) , Idealita Ismanto ( Faith), Mamuk Ismuntoro ( Manusia di Linimasa) , Muni Moon ( Mawar Berduri), dan Zulfikar Firdaus (Minor).
Untuk mengurangi kesulitan interaksi yang biasa terjadi di platform online di halaman website www.melihatbersama.com juga sediakan juga kolom untuk dialog.
Para pengunjung yang mengunjungi laman tersebut bisa meninggalkan catatan berharga berupa komentar, kritik dan saran.
Selain sebagai bentuk dukungan bagi gerakan yang kami lakukan, catatan tersebut akan menjadi kenang-kenangan tidak ternilai bagi pengembangan fotografi pameris pada khususnya dan pengembangan fotografi Indonesia pada umumnya. (Jul/Byt)
Editor : Redaksi