Transfer Rp 75 M Hanya Kembali Rp 11,5 M

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Suasana sidang kasus penipuan di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (18/3). SP/Budi Mulyono
Suasana sidang kasus penipuan di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (18/3). SP/Budi Mulyono

i

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Venansius Niek Widodo, terdakwa kasus penipuan senilai Rp 63 miliar dengan modus kerjasama pengangkutan Nikel di Sulawesi Tenggara kembali menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (18/3/2021). 

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Ni Made Purnami, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yusuf Akbar dari Kejaksaan Tanjung Perak menghadirkan saksi korban yakni Soewondo Basuki.

Dalam keterangannya, saksi Soewondo mengatakan bahwa awalnya dirinya mengenal dengan terdakwa dikenalkan oleh Hermanto Oerip sekitar tahun 2016. Dalam pertemuan itu saksi diajak ikut kerjasama dalam bidang pertambangan nikel yang ada di daerah Kendari (Kaebana) Provinsi Sulawesi Tenggara.

Dalam pertemuan tersebut terdakwa juga menunjukan orang-orang lain yang telah mengikuti kerjasama pertambangan tersebut dan telah menikmati hasilnya.

"Dia (terdakwa) juga menunjukan dokumen perhitungan estimasi keuntungan, dan menunjukan foto orang yang diajak kerjasama pihak asing serta kontrak perjanjian pertambangan ore nikel. Dari situ akhirnya saya tertarik ingin ikut kerjasama,"kata saksi Soewondo.

Lebih lanjut saksi mengatakan, sekitar tahun 2017, terdakwa mengajak untuk melihat tambang nikel di Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. 

Kemudian saksi bersama Hermanto dan Rudi Efendi bersepakat mendirikan perusahaan yang bernama PT. Mentari Mitra Manunggal (MMT), yang rencananya akan bergerak dalam bidang pemberian investasi pertambangan ore nikel yang ada di Kabaena, Kendari, Sulawesi tenggara.

“Pak Venan mengatakan bahwa PT. MMT akan bekerjasama dengan PT. Rockstone Mining Indonesia (RMI), milik Ishak,” ujarnya.

Setelah itu, Hermanto mengatakan kepada saksi yang intinya untuk operasional kegiatan tambang tersebut dibutuhkan dana modal besar. 

Setelah itu Hermanto menyuruh saksi mentransfer uang ke rekening BCA milik PT. RMI, yang sebelumnya rekening itu dibuat atas suruhan terdakwa.

“Lalu saya melakukan beberapa transfer hingga total sebesar Rp. 75 miliar,” tukasnya.

Setelah melakukan transfer itu, kata saksi, ia tidak mendapatkan keuntungan (profit) dua bulanan seperti yang dijanjikan oleh terdakwa. Korban lalu menagih terdakwa Rudi dan Hermanto.

“Memang ada pengembalian dari Venansius 2,5 M, Rudi 5,5 M dan Hermanto 3,5 M. Total kerugian saya 63 miliar. Setelah itu tidak ada kelanjutannya. Saat ditagih, Pak Venan tidak dapat dihubungi bahkan menghilang,” paparnya.

Atas keterangan korban, terdakwa menanggapinya dengan mengatakan bahwa dia adalah korban dari Hermanto.

Setelah sidang selesai Jaksa Yusuf mengatakan  tidak dilakukannya penahanan terhadap terdakwa. Untuk saat ini belum bisa dilakukan penahanan karena waktu itu ada perkara lain ,"Sementara ini saya tidak bisa banyak komentar dulu ya,” ucap Yusuf.

Untuk diketahui, dana talangan modal milik terdakwa, saksi HERMANTO OERIP dan saksi RUDI EFENDI OI tersebut diatas sudah dilakukan pengembalian kepada saksi SOEWODO BASUKI, oleh terdakwa sebesar Rp. 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah), oleh saksi HERMANTO OERIP sebesar Rp. 3.500.000.000,- (tiga milyar lima ratus juta rupiah) dan oleh saksi RUDY EFENDI OI sebesar Rp. 5.500.000.000,- (lima milyar lima ratus juta rupiah). Bahwa akibat perbuatan terdakwa, saksi korban SOEWONDO BASUKI mengalami kerugian ± Rp. 63.500.000.000,- (enam puluh tiga milyar lima ratus juta rupiah).

Dan perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 378 KUHP Jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP. nbd

Berita Terbaru

DPRD Jatim Soroti Kasus Pertalite Tak Dijual saat Stok Masih Ada di Blitar

DPRD Jatim Soroti Kasus Pertalite Tak Dijual saat Stok Masih Ada di Blitar

Selasa, 27 Okt 2026 13:58 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 13:58 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Guntur Wahono, menyoroti dugaan penghentian penjualan Pertalite saat stok masih…

Perkuat Akses Keadilan, Pemkot Surabaya Hadirkan Layanan Posbankum di 153 Kelurahan

Perkuat Akses Keadilan, Pemkot Surabaya Hadirkan Layanan Posbankum di 153 Kelurahan

Selasa, 27 Okt 2026 13:38 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 13:38 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Sebagai paya memperkuat akses keadilan bagi masyarakat di Kota Pahlawan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, menyediakan fasilitas…

Bangun TPA Baru di Desa Mrican, Pemkab Ponorogo Siapkan Anggaran Rp15 Miliar

Bangun TPA Baru di Desa Mrican, Pemkab Ponorogo Siapkan Anggaran Rp15 Miliar

Selasa, 27 Okt 2026 13:33 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 13:33 WIB

SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Pada 2027, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo, bakal menyiapkan anggaran sekitar Rp15 miliar untuk membangun tempat pemrosesan…

Operasikan 18 Mikrobus Baru, Pemkot Surabaya Perbarui Feeder WiraWiri Rute Joyoboyo-Lakarsantri

Operasikan 18 Mikrobus Baru, Pemkot Surabaya Perbarui Feeder WiraWiri Rute Joyoboyo-Lakarsantri

Selasa, 27 Okt 2026 13:17 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 13:17 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bakal segera mengoperasikan 18 mikrobus baru, sehingga pihaknya akan memperbarui armada angkutan…

Perkuat Pengelolaan CSR, Pemkab Sidoarjo Jadikan Pembiayaan di Luar APBD

Perkuat Pengelolaan CSR, Pemkab Sidoarjo Jadikan Pembiayaan di Luar APBD

Selasa, 27 Okt 2026 13:08 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 13:08 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Sebagai upaya dalam memperkuat pengelolaan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), Pemerintah…

Sebelum Dibunuh, Dini dan Anaknya Sempat Tinggal Di Yasmaga Guest House Ponorogo Empat Bulan

Sebelum Dibunuh, Dini dan Anaknya Sempat Tinggal Di Yasmaga Guest House Ponorogo Empat Bulan

Selasa, 27 Okt 2026 13:00 WIB

Selasa, 27 Okt 2026 13:00 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Ponorogo — Dini Hardiyanti (30) dan anaknya, Arshaka Ghafa El Faezya (4), sempat tinggal selama sekitar empat bulan di Yasmaga Guest House, J…