SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Per Senin 8 Januari 2024, harga minyak dunia turun lebih dari 4% setelah Arab Saudi memangkas harga jual minyak mentah mereka. Sehingga situasi tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran jika pasar kelebihan pasokan di tengah melemahnya permintaan.
Hal itu berawal dari Saudi Aramco pada hari Minggu menurunkan tajam harga Arab Light Crude untuk pelanggan Asia sebesar USD 2 per barel. Pemotongan harga minyak di Arab Saudi terjadi di tengah pelemahan pasar yang terus berlanjut, yang sebagian besar disebabkan oleh rekor produksi minyak mentah AS dan melemahnya permintaan di China.
Sehingga diketahui, saat ini harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Februari turun USD 3,04 atau 4,12% menjadi USD 70,77 per barel. Tak berbeda, harga minyak mentah Brent untuk kontrak bulan Maret juga turun USD 2,64 atau 3,35% menjadi USD 76,12 per barel.
Menindaklanjuti situasi tersebut, OPEC dan sekutunya memangkas produksi mereka sebesar 2,2 juta barel per hari pada kuartal ini dalam upaya menyeimbangkan pasar.
“Meskipun penurunan harga mungkin dilakukan untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah penurunan produksi, pasar menganggapnya sebagai tanda jelas bahwa perekonomian sedang melambat. Mungkin pendaratannya tidak terlalu mulus,” tulis Phil Flynn dari The Price Futures Group, Selasa (09/01/2024).
Sedangkan, minyak mentah AS dan Brent, yang menjadi patokan global, keduanya mengakhiri minggu pertama 2024 dengan kenaikan lebih dari 2% di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Namun kekhawatiran pasokan dan permintaan terus-menerus menutupi risiko geopolitik di pasar.
“Pasar tampaknya merasa bahwa risiko geopolitik tidak akan berdampak pada pasokan dan jika hal ini terjadi, maka permintaan akan lemah sehingga tidak menjadi masalah,” tulis Flynn.
Meskipun risiko geopolitik meningkat, pasokan pasar minyak global tetap baik. AS memproduksi sekitar 13,2 juta barel minyak mentah per hari pada minggu terakhir tahun 2023, dan persediaan bensin dan sulingannya melonjak lebih dari 10 juta barel.
Sementara itu, Bob Yawger, ahli strategi energi berjangka di Mizuho mengatakan, jika ekspor minyak mentah AS juga meningkat lebih dari 1 juta barel per hari menjadi 5,2 juta barel per hari pada periode yang sama, disaat Arab Saudi memangkas harga untuk menghentikan pelanggan membeli minyak mentah AS serta melemahkan harga barel Iran dan Rusia yang murah. jk-04/dsy
Editor : Desy Ayu