Nggembosi PDIP

author surabayapagi.com

- Pewarta

Rabu, 17 Jan 2024 21:16 WIB

Nggembosi PDIP

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Karir politisi muda Maruarar Siarait di PDI Perjuangan (PDIP) telah berakhir. Pengunduran diri pria yang akrab disapa Ara Sirait ini dikabulkan oleh PDIP. Ara mendatangi kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/1/2024) pukul 18.19 WIB. Berselang satu jam kemudian, Ara keluar dari kantor DPP PDIP dan menyatakan pamit dari PDIP.

Keluarnya anak politisi Sabam Sirait ini berbeda dengan Gibran dan Bobby Nasution. Anak dan menantu presiden Jokowi ini mundur sekarepe dewe. Lain dengan Maruarar Siarait, yang mengembalikan KTA PDIP ke jajaran petinggi DPP PDIP. KTA PDIP Maruarar Siarit diterima oleh Wasekjen PDIP Utut Adianto, turut hadir Wabendum PDIP Rudianto Tjen. Ara bilang kini ikut Jokowi.

Baca Juga: Maksi Gratis, Defisit Anggaran dan Utang

Sebelumnya, Budiman Sudjatmiko, M.A., M.Phil. Aktivis, politikus dan pemeran berkebangsaan Indonesia yang ikut menyusun Undang-Undang Desa dan mendirikan Gerakan Inovator 4.0., ia sudah "nyeberang" ke Prabowo.

Juga Eva Kusuma Sundari. Politisi Eva Sundari lebih dulu meninggalkan PDI Perjuangan (PDI-P) untuk menghadapi Pemilu 2024. Eva kini berlabuh ke Partai Nasdem dan maju sebagai bacaleg DPR RI.

Ada artis, Kirana Larasati. Perempuan Sunda ini memutuskan untuk keluar dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kirana mengaku keluar karena kesibukannya sehingga tak bisa mengurus partai. Ini Kirana seperti dalam video yang diposting di akun Instagram resminya, Kamis, 17 Agustus 2023.

Apa motif mereka keluar dari suatu parpol. Konon terkait faktor keuntungan. Ada yang rela meninggalkan partai sebelumnya demi menjadi bacaleg. Misal Eva Sundari.

Catatan jurnalistik saya menunjukan perpindahan parpol bukan barang baru dalam gelanggang pemilu.

Bahkan, perpindahan tersebut sudah menjadi fenomena musiman setiap menghadapi hajat demokrasi lima tahunan tersebut.

 

***

 

Bagi saya jurnalis milenial yang tak partisan, mundurnya kader partai politik seperti Ara, Budiman, Gibran dan Bobby sampai Eva Sundari, menyangkut pilihan. Tentu pilihan yang paling menguntungkan dirinya. Salahkah mereka? Tergantung cara kita menilai dan keberadaan posisinya.

Bagi saya, organisasi politik modern tak ubah seperti sebuah industri. Pemahaman saya pelaku industri mesti menerapkan inisiatif keberlanjutan perusahaannya.

Literasi yang saya pelajari, partai politik modern adalah partai politik yang organisasinya dikelola secara partisipatif, transparan dan akuntabel.

Juga ada tiga cakupan dalam partai politik modern. Cakupan itu meliputi komponen fungsi partai dan sistem pendukungnya.

Antara lain komponen fungsi pengisian jabatan publik (fungsi rekrutmen), komponen fungsi pendidikan politik (fungsi edukasi), komponen fungsi agregasi aspirasi konstituen (fungsi agregator), dan komponen pendukung yaitu keuangan dan tata kelola organisasi partai politik.

Dalam kasus Ara, Gibran, Bobby, Budiman dan Eva Sundari saya melirik fungsi rekrutmen partai politik di PDIP .

Pepatah "mati satu tumbuh seribu" bisa menjadi kajian elite PDIP bahwa segala sesuatu yang telah hilang, selalu ada gantinya.

PDIP misalnya, telah mendirikan sekolah partai. Ini dimaksudkan untuk membekali kader dengan pengetahuan ihwal ideologi Pancasila, regulasi hukum, kebijakan, program, dan tuntunan perilaku berbangsa dan bernegara. Konon sekolah partai ini untuk menggembleng kemampuan berpolitik para calon kader maupun kader mereka.

Ada penelitian tentang karakter dari milenial. Dirilis, generasi milenial memiliki tingkat pendidikan yang baik, cerdas teknologi, berani, inovatif, kreatif, dan modern. Dan lebih terbuka terhadap perubahan.

Studi dari Gallup menemukan sebanyak 21% milenial berpindah tempat kerja dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Jumlah ini tiga kali lipat lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Tak seperti generasi sebelumnya, milenial kurang tertarik dengan longterm employment.

Sebagai generasi yang selalu mencari tantangan baru, generasi milenial selalu terbuka dengan setiap peluang karier baru. Rata-rata mereka merencanakan bertahan di tempat kerja hanya selama 12 bulan ke depan. Faktor pendorongnya ada dua, mengejar passion dan mencari pengalaman baru. Perilaku kaum milenial yang hobi berpindah-pindah kerja ini disadari mulai menjadi ancaman bagi talent management. Itu karakter temuan beberapa peneliti yang saya baca. Bukan tak mungkin perilaku generasi milenial itu juga menjangkiti rekrutmen di suatu partai. Salah satu tantangannya adalah gaya kepemimpinan perilaku generasi milenial yang dikenal tak loyal.

 

***

 

Baca Juga: Petaka Game Online bagi Anak…

Literasi saya ada yang menyebut gaya kepemimpinan adalah suatu bentuk komunikasi yang digunakan oleh seorang pemimpin kepada rakyatnya. Dalam praktik, ada perbedaan gaya kepemimpinan setiap pemimpin parpol. Ini dapat memberikan pengaruh berbeda kepada pengikutnya. Salah satu pemimpin perempuan parpol yang memiliki gaya kepemimpinan khas ialah Megawati Soekarnoputri. Megawati Soekarnoputri terkenal dengan gaya kepemimpinannya yang karismatik. Megawati Soekarnoputri memiliki pengalaman memimpin sebagai Presiden Indonesia yang ke-5 pada (23 Juli 2001-20 Oktober 2004) dan ketua umum PDI-Perjuangan dari (1999-sekarang). Megawati sebagai presiden perempuan pertama membuktikan bahwa kehadiran perempuan sebagai seorang pemimpin merupakan salah satu bentuk lahirnya kebijakan dalam keadilan gender. Terjunnya Megawati Soekarnoputri ke politik memerlukan proses yang tidak mudah. Namun, Megawati Soekarnoputri dengan gaya kepemimpinannya yang khas telah membuktikan pengaruhnya dalam dunia politik nasional.

(ReserchGate, June 2022)

“Megawati Soekarnoputri merupakan sosok pemimpin ikonik di Indonesia. Sosoknya menjadi menarik untuk ditelaah bukan saja karena menjadi ???panglima??? bagi salah satu partai politik terbesar di negeri berpenduduk hampir seperempat milyar, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Megawati juga merupakan sosok perempuan pemimpin yang berhasil 'survive' dari sebuah rezim Orde Baru yang otoriter yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun. Bahkan, PDIP menjadi salah satu partai politik ideologis yang turut menumbangkan Orde Baru dari panggung politik di tahun 1998, bahkan dianggap sebagai salah satu kekuatan politik paling berpengaruh dalam peta perpolitikan pasca Orde Baru. Salah satu indikatornya PDIP selalu menempati posisi tiga besar partai politik yang memenangi Pemilu sejak diterapkannya pemilu bebas pada tahun 1999.

Sepak terjang PDIP jelas tidak bisa dilepaskan dari kiprah pemimpinnya. Megawati menjadi sosok sentral dan paling berpengaruh di partai Banteng Moncong Putih, sekaligus sosok pemimpin nasional yang paling unik dan sekaligus ???misterius.??? Keunikannya bukan hanya dari aspek gender, yang berusaha tegar di tengah kancah perpolitikan Indonesia yang patriarkis. Namun, lebih dari itu karena gaya komunikasinya yang unik. Megawati tidak diragukan lagi diakui sebagai seorang perempuan pemimpin yag tangguh, tetapi di sisi lain kerap dikritisi banyak pihak karena memiliki gaya berkomunikasi yang kurang lazim untuk seorang politisi. Bahasa verbal dan nonverbalnya patut dijadikan sebuah kajian yang menarik. Selain sering menunjukkan sikap diamnya saat menghadapi suatu persoalan pelik, kerap menimbulkan tafsir dari banyak pihak. (Direktorat penelitian dan pengabdian masyarakat Telkom University, 30 Oct 2014).

Mempelajari dua tulisan itu ada kesamaan berpikir dalam menyoroti gaya kepemimpinan Megawati.

Mega, adalah salah satu kekuatan politik paling berpengaruh dalam peta perpolitikan pasca Orde Baru.

Dan dengan gaya kepemimpinannya yang khas, Mega telah membuktikan pengaruhnya dalam dunia politik nasional.

Saya setuju "kekuasaan" di dunia politik Megawati telah hampir setengah abad. Orang bilang usia ini bisa masuk kadaluarsa . Dalam bahasa perlindungan konsumen telah melewati tanggal expired pada bungkusnya.

Terhadap barang expired, orang-orang bijak menganjurkan konsumen untuk melihat lagi kualitas pangan sebelum memutuskan untuk memakan atau justru membuangnya. Ini makna dalam perlindungan konsumen. Apa di politik anjuran ini berlaku? Walahualam ..

 

***

 

Baca Juga: Disebut Tak Diinginkan Rakyat, Mahfud: Kecurangan Akan Dibuktikan, Demokrasi Kita Harus Bermartabat

Kajian saya ada-apa mundurnya beberapa kader PDIP usia muda saat pemilu 2024 berlangsung?. Apa ada motif pengembosan?

Maklum, Pemilu adalah kontestasi politik. Jika dilihat hasil survei, saat ini ada sekitar 40 persen lebih pemilih yang belum memutuskan pilihannya. Maka ruang itulah yang bisa diperebutkan ketiga capres.

Pertanyaan saya momen mundurnya anak Sabam Sirait jelang kampanye akbar, hanya untuk mengambil suara pendukungnya di PDIP. Maklum, Ara berpengalaman di dunia politik. Benarkah momen mundurnya Ara untuk menggerogoti PDIP. Mengingat dalam tiga kali pemilu, PDIP memiliki modal dasar kuat memenangkan pemilu legislatif.

Akal sehat saya Ara berpeluang untuk menggembosi partai yang dideklarasikan Sabam Sirait.

Saya ikuti hasil beberapa lembaga survei, elektabilitas capres Ganjar-Mahfud, saat ini memang krisis.

PDIP yang memiliki tokoh sentral sekelas Megawati, mulai disorot. Terutama gaya kepemimpinannya. Saya simak, secara konseptual PDIP masih memiliki diferensiasinya terhadap parpol lain. Juga punya Segmen pemilih cukup besar yaitu akar rumput.

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pernah merilis hasil survei tahun 2022. Disebut oleh SMRC, PDIP unggul dalam raihan demografi segmen tempat tingal yakni pemilih tinggal di kota dan di desa. Total perbandingan responden adalah 50.1 persen responden tinggal di desa dan 49.9 persen responden tinggal di kota.

Hasilnya, PDIP meraih 22 persen suara responden yang tinggal di desa dan 26 persen suara responden yang tinggal di kota.

Apakah dengan dikoyak koyak selama 5-6 bulan ini, PDIP bisa menaklukan koalisi parpol pendukung pemerintahan Jokowi yang di klaim sangat solid ?

Saya catat partai-partai gurem pun punya kecenderungan dekat dengan Jokowi. Feeling saya penggembosan ini bisa diikuti di media sosial. Mencermati masifnya cara kader PDIP mundur bukan tidak mungkin upaya penggembosan dilakukan beberapa pendukung Joko Widodo. Termasuk di grup-grup percakapan daring dan media sosial.

Secara politis, mundurnya loyalis PDIP selevel Maruarar Sirait bisa mengancam suara PDIP.

Artinya bergesernya Ara, bisa juga diikuti oleh kader lainnya. Dan bila eskalasinya berlanjut bisa berpotensi mengancam menurunkan suara PDIP di parlemen. ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU