Jika menjadi presiden Prabowo Subianto bakal membawa Indonesia menjadi medan tarung pengaruh Amerika Serikat dan China.
Dari sudut pandang AS, kemenangan Prabowo lebih dari sekedar penting bagi demokrasi Indonesia.
Lokasi Jakarta yang strategis di Indo-Pasifik, ukurannya yang besar, dan peran kepemimpinannya yang berkembang di Asia Selatan dan Tenggara memerlukan perhatian AS .
Singkatnya, kontur kebijakan luar negeri Indonesia dalam kaitannya dengan AS dan China kemungkinan besar tak akan banyak berubah di bawah kepemimpinan presiden mendatang.
Saya memantau Indonesia telah lama mempraktikkan "kebijakan luar negeri yang independen dan aktif" untuk melindungi dari ketergantungan atau kerentanan terhadap kekuatan luar.
Oleh karena itu, kita bisa memperkirakan bahwa Jakarta di bawah kepemimpinan Prabowo akan terus menerapkan - dan mungkin mempercepat- kebijakan luar negeri yang lebih aktif.
Saya menilai Prabowo akan lebih fokus ke kebijakan luar negeri jika dibandingkan dengan Jokowi, terutama terkait masalah keamanan.
Kondisi semacam itu memberikan peluang bagi AS.
Saya nyatakan hubungan Indonesia dan Negeri Paman Sam membutuhkan perhatian besar dari para pengambil kebijakan.
AS dan RI, sepertinya ingin mengembangkan kebijakan di sisi pertahanan. Langkah ini tercermin usai Prabowo menandatangani Perjanjian Kerja Sama Pertahanan dengan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin pada akhir 2023.
RI sepakat membeli pesawat tempur F-15 dan pesawat pengebom B-52H.
Mengingat besarnya minat Prabowo terhadap masalah keamanan, Menurut saya, bidang pertahanan harus menjadi prioritas utama untuk melakukan pendekatan.
Namun di saat yang sama, rasa frustrasi menghalangi hubungan bilateral kedua negara karena pandangan soal kedekatan Indonesia dengan China.
Washington memandang Indonesia sebagai medan pertempuran utama untuk mendapatkan pengaruh dalam persaingan negara-negara besar.
Banyak juga yang mengungkapkan keprihatinannya mengenai kedekatan hubungan Jakarta dengan Beijing.
Dari sisi ekonomi, Indonesia lebih condong ke China dari pada negara Barat.
Di luar negeri, banyak orang di Indonesia yang diam-diam merasa jengkel dengan aspek-aspek kebijakan AS.
Bagi AS, China mungkin tak bisa dipercaya dan merupakan ancaman keamanan.
Namun, dari sudut pandang banyak orang di Indonesia, China berhasil melaksanakan investasi ekonomi meskipun sering kali terlambat atau melebihi anggaran.
AS sementara itu, menurut saya, cenderung meresahkan dan tak memenuhi harapan dalam hubungan ekonomi.
Banyak pihak di Indonesia memandang Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik (IPEF) tak punya substansi.
Di bidang diplomatik, saya menilai Indonesia juga merasa diremehkan saat Presiden AS Joe Biden melewatkan KTT ASEAN pada 2023.
Selain itu, AS dan Indonesia sangat berbeda pendapat mengenai agresi Israel ke Palestina. RI lantang mengkritik pendudukan pasukan Zionis, sementara Negeri Paman Sam sekutu dekat Israel.
Selain memperluas kerja sama di bidang keamanan, Amerika Serikat harus berupaya untuk meningkatkan kerja sama di bidang keamanan. meningkatkan keterlibatan ekonomi dan diplomatik.
Meskipun keterpilihan Prabowo menimbulkan kekhawatiran nyata terhadap kondisi demokrasi di Indonesia, terdapat kepentingan nasional yang kuat yang memerlukan penguatan hubungan AS-Indonesia.
Saya tekankan Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara dan pilar utama Indo-Pasifik.
Jika Amerika Serikat serius untuk meningkatkan perannya di kawasan ini, maka Indonesia adalah mitra alaminya, dan pemerintahan barunya akan memerlukan perhatian baru dari para pembuat kebijakan. n rmc
*) Pandangannya dalam artikel berjudul "Indonesia's 2024 Election and Its Implications for US Foreign Policy" pada pertengahan Februari lalu.
Editor : Moch Ilham