Kemarin, saat saya ke Gereja, diberi khotbah, tentan kisah persahabatan Yesus dan keluarga Lazarus. Persahabatan yang sangat dekat. Dia menangisi Lazarus yang meninggal.
Yesus adalah sahabat yang setia. Ketika dia menerima berita akan kematian sahabat-Nya itu, Dia bersedia untuk mengunjungi sahabatnya, Lazarus yang dikatakan mati itu di Yudea.
Para murid takut nanti Yesus akan dilempari batu lagi. Namun, Dia pun tetap mengajak para murid pergi ke sana. Dia mau hadir untuk memberikan hadiah berharga kepada keluarga Lazarus.
Kehadiran Yesus itu mungkin cukup terlambat ke tempat Lazarus . Yesus seolah-olah tidak perhatian. Akan tetapi, apa yang dilakukan Yesus memiliki arti lain. Keterlambatannya mau menghadirkan iman yang sejati.
Dia mau mengajarkan makna beriman. Maka, ketika Yesus datang ke kubur Lazarus. Ia meminta membuka pintu kubur itu, Lazarus pun dipanggil-Nya dan keluar. Sungguh karya Allah bekerja dalam diri Lazarus.
Ini semua karena keyakinan dari Maria sehingga Lazarus pun bangkit.
Maka itu, dalam keadaan suka dan duka, Yesus tetap menemani kita. Dia adalah sahabat yang setia. Dia datang bagi kita. Dia memberikan sukacita kepada kita semua.
Tuhan mungkin terlambat tetapi Dia tidak pernah tinggalkan kita sekalipun kita dalam kesulitan.
Dia hanya ingin kita percaya kepada Dia. Dia menghendaki kita untuk terus berharap kepada Dia.
Oleh sebab itu, kita hendaklah seperti Maria yang menjawab: “ Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:27).
Nah, pada saat-saat ini kita mesti terus bersama bergandengan bersama. Kita harus yakin bahwa sahabat kita akan selalu hadir dan membantu sesulit apa pun yang ada dihadapan kita. (Maria Sari)
Editor : Redaksi