Nissan Ogah Kembangkan Mesin ICE, Bakal Beralih ke Kendaraan Elektrik

author surabayapagi.com

- Pewarta

Rabu, 05 Jun 2024 14:40 WIB

Nissan Ogah Kembangkan Mesin ICE, Bakal Beralih ke Kendaraan Elektrik

i

Mobil listrik Nissan Leaf bisa dicas dari rumah. SP/ JKT

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Nissan mengumumkan untuk tidak lagi berniat dan ogah mengembangkan mesin pembakaran dalam lagi. Berbeda dengan Toyota, Mazda, dan Subaru yang baru-baru ini mengumumkan akan bekerja sama untuk mengembangkan mesin pembakaran dalam atau ICE generasi berikutnya.

Ke depan sumber daya yang dimiliki Nissan bertujuan untuk mengembangkan kendaraan elektrik alias EV. "Masa depan kami adalah EV. Kami tidak berinvestasi pada powertrain baru untuk ICE, itu sudah pasti,” ujar Senior Vice-President dan Chief Planning Officer Nissan untuk Afrika, Timur Tengah, India, Eropa, dan Oseania (AMIEO), Francois Bailly, Rabu (05/06/2024).

Baca Juga: Resmi Meluncur, Motor Listrik Saige SG-Max Dibanderol Rp 25 Juta

Lebih lanjut, Bailly menyebutkan peralihan dari mobil bertenaga konvensional ke mobil listrik akan dilakukan melalui mobil hybrid lewat teknologi e-Power milik Nissan. Namun hanya karena Nissan tidak lagi berencana untuk mengembangkan mesin ICE bukan berarti peralihan ke model listrik terjadi dalam semalam. 

Nissan akan mengikuti Tesla, dan beberapa produsen mobil lain seperti Toyota, Hyundai, dan Ford, dalam mengadopsi teknologi ini.

Baca Juga: BYD dan CATL luncurkan baterai Pengisian Cepat 6C Akhir 2024

Merek ini bertujuan untuk mengurangi biaya suku cadang mobil listrik sebesar 10% dan memangkas bobotnya hingga 20%, demikian dilaporkan Automotive News.

Mobil listrik Nissan yang menggunakan gigacasting diperkirakan akan memasuki pasar sekitar tahun 2027, dengan teknik produksi baru yang diproyeksikan dapat menurunkan biaya keseluruhan sebesar 30%, menghemat sekitar $1 miliar dalam biaya pengembangan untuk lima model masa depan.

Baca Juga: Raihan Positif Penjualan Honda Naik 54% per Mei, Brio Paling Laris

Transisi ke kendaraan listrik membutuhkan modal besar. Retooling pabrik, membangun pabrik baru, berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan, dan membeli baterai yang mahal berarti sebagian besar mobil listrik baru yang saat ini dijual tidak memiliki kesetaraan harga dengan mobil bensin.

Nissan juga menyelaraskan portofolionya dengan persyaratan di tiap regional sehingga penghentian model ICE terjadi secara bertahap, sambil memperbarui mesin ICE agar memenuhi peraturan gas buang yang lebih ketat. jk-05/dsy

Editor : Desy Ayu

BERITA TERBARU