Diklarifikasi PKS Terkait Temuan BPK, Mensos Risma Kebakaran Jenggot

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Anggota Komisi VIII Fraksi PKS Iskan Qolba Lubis mencecar Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini mengenai temuan BPK terkait lemahnya pengendalian Kemensos.

Iskan Qolba Lubis , dalam rapat kerja Komisi VIII DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2024), mencecar banyak pertanyaan ke calon Pilgub Jatim 2024. Iskan, menilai permasalahan kemiskinan tidak akan berkurang jika masih menggunakan manajemen Jakarta-sentris.

Dia menyinggung anggaran Kemensos yang mencapai Rp 57 triliun.

"Jadi gini, Bu, negara Indonesia besar itu kalau dia masih manajemennya Jakarta-sentris, permasalahan kemiskinan nggak akan berkurang di Indonesia, padahal anggaran sudah Rp 57 triliun. Apa dong nilai hasil output-nya yang bagus? Kemudian anggarannya jadi nggak berkualitas," ingat Iskan.

Dia pun lantas menyinggung sikap Risma yang langsung memanas saat diberi masukan. Padahal, kata dia, Risma tidak akan menjabat Mensos kembali.

"Ibu kan sebentar lagi nggak Menteri Sosial, Ibu santai aja, ini kan masukan," ujar Iskan.

"Ya makanya Ibu capek sendiri karena pengendaliannya. Kita tahu itu dari pusat ke daerah. Kalau kita lihat sekarang standar PKH itu aja, udah standar nggak? Sangat jauh standarnya. Itu jadi, Ibu sudah, baru tanggapan aja sudah kebakaran jenggot, ha-ha-ha...," imbuh dia.

 

Lemahnya Pengendalian dari Kemensos

Mulanya, Iskan mengatakan terdapat banyak temuan BPK mengenai lemahnya pengendalian dari Kemensos.

"Ini juga memang efek dari, menurut saya, itu karena birokratnya terlalu jauh, ya bagaimana kira-kira Dirjen Dayasos itu mengendalikan satu peristiwa di Papua di Pegunungan," kata Iskan.

"Di situlah perlunya pembagian tugas antara pusat dan daerah. Jadi manajemen terbaru di sistem sosial itu adalah sebagian dana itu dikirim ke daerah gitu," sambungnya.

Iskan  menyinggung terkait program permakanan yang dilakukan Kemensos. Menurutnya, permakanan itu cukup diserahkan kepada ahli waris.

Kemensos perlu Laksanakan temuan BPK Risma dalam dialog itu langsung menanggapinya. Dia mengatakan permakanan bukan dikelola oleh pusat.

"Memang permakan di daerah, Pak, di pokmas, bukan kami yang kelola," jawab Risma.

"Ini contoh, Bu, kasih ke siapa?" tanya Iskan.

"Tak (saya) kasihkan ke daerah, ke pokmas," balas Risma.

"Apa lagi yang dikasih ke daerah?" tanya Iskan.

"Yapi (dana yatim piatu), kemudian kalau, mohon maaf, kenapa kita bertahan di UPT, mereka bahkan sering nggak tahu, Pak," jawab Risma.

Iskan mengatakan hal yang disampaikannya merupakan temuan BPK. Menurutnya, Kemensos perlu melaksanakan temuan BPK.

"Ini temuan dari BPK, Ibu harus melaksanakan itu," ujar Iskan.

"Maaf, kalau yang BPK itu masalah temuannya adalah temuannya masalah bansos, meninggal...," kata Risma yang dipotong langsung oleh Iskan.

"Iya, ada di Dayasos juga ada, bahkan khusus disebutkan dirjennya langsung," kata Iskan.

Iskan pun menilai permasalahan kemiskinan tidak akan berkurang jika masih menggunakan manajemen Jakarta-sentris. Dia lantas menyinggung anggaran Kemensos yang mencapai Rp 57 triliun.

"Jadi gini, Bu, negara Indonesia besar itu kalau dia masih manajemennya Jakarta-sentris, permasalahan kemiskinan nggak akan berkurang di Indonesia, padahal anggaran sudah Rp 57 triliun. Apa dong nilai hasil output-nya yang bagus? Kemudian anggarannya jadi nggak berkualitas," ingat Iskan.

 

Risma Ngaku Suka Ngeyel

"Terima kasih Bapak-Ibu sekalian, kalau saya mohon izin dan mohon pamit dan mohon maaf kalau ada kesalahan saya selama saya menjadi Menteri Sosial, dan mohon doa restu meskipun bingung ha-ha," kata Risma.

Risma berharap jika keputusannya merupakan yang terbaik bagi semua pihak. Dia juga mengakui selama menjadi Mensos, dirinya kerap ngeyel jika mendapat masukan dari DPR. n jk/erc/cr4/rmc

Berita Terbaru

2 Korporasi Malaysia dan Singapura Tersangka Karhutla

2 Korporasi Malaysia dan Singapura Tersangka Karhutla

Jumat, 30 Okt 2026 03:20 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:20 WIB

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - 20 korporasi sebagai tersangka dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari daftar tersebut, empat di antaranya merupakan…

Sepuluh Staf Terima Uang di Luar Gaji

Sepuluh Staf Terima Uang di Luar Gaji

Jumat, 30 Okt 2026 03:18 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:18 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya — Pengakuan sepuluh staf bidang pertambangan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur yang menerima uang di luar gaji d…

ESDM JATIM DIDUGA TERIMA PUNGLI RP 687,5 JUTA

ESDM JATIM DIDUGA TERIMA PUNGLI RP 687,5 JUTA

Jumat, 30 Okt 2026 03:15 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur mendalami dugaan aliran dana pungutan liar (pungli) sebesar Rp 687,5 juta kepada mantan…

Jokowi Minggu Depan Siap Jadi Saksi Roy Suryo

Jokowi Minggu Depan Siap Jadi Saksi Roy Suryo

Jumat, 30 Okt 2026 03:13 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:13 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Saya sangat menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Kalau memang diundang, ya saya Insya Allah akan hadir,” kata Jokowi k…

Hashim Ingatkan Risiko Pelemahan Rupiah Jika Isu MSCI Tak Diselesaikan

Hashim Ingatkan Risiko Pelemahan Rupiah Jika Isu MSCI Tak Diselesaikan

Jumat, 30 Okt 2026 03:11 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:11 WIB

SURABAYAPAGI.com - Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim S. Djojohadikusumo mengingatkan potensi pelemahan nilai tukar rupiah akibat derasnya aliran…

Beras Oplos Berulang, Amran Wanti-Wanti Risiko Pidana

Beras Oplos Berulang, Amran Wanti-Wanti Risiko Pidana

Jumat, 30 Okt 2026 03:09 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:09 WIB

SURABAYAPAGI.com - Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman akan menyebar surat edaran (SE) mengenai potensi sanksi pidana…