SURABAYAPAGI.com, Malang - Warga di di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang mengalami kekeringan ekstrem akibat dam air di wilayah tersebut mengalami kerusakan di penahan air yang ambrol, sehingga tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Akibatnya, selain tidak dapat menampung air, juga banyak material bebatuan berukuran besar di tempat itu, sekitar 350 hektar sawah di desa tersebut mengalami kekeringan dan gagal panen. Disatu sisi, untuk perbaikan dam menelan anggaran yang besar, mengingat fungsi utama dan tersebut selain menahan air juga menjadi distribusi air ke area pertanian.
Meski demikian Kepala Desa Kedungbanteng, Arif Iskandar Fatoni mengatakan, pihaknya sudah mengajukan proposal mulai tingkat kabupaten hingga provinsi untuk memperbaiki dan yang rusak tersebut .
"Untuk dana pembangunan DAM sekelas Kedung Banteng Bawah itu bisa mencapai sekitar Rp 40 miliar," ujar Arif, Rabu (09/10/2024).
Lebih lanjut, pasalnya keberadaan dam tersebut memang sangat dibutuhkan oleh para petani. Keberadaan dam maupun bendungan dengan fungsi utamanya, juga bisa mewujudkan ketahanan pangan di tingkat Desa semakin kuat nantinya.
"Jika dam tersebut nanti berfungsi dengan baik untuk penampungan air, ke depannya bisa mengairi ratusan areal persawahan mulai dari Desa Kedung Banteng ini hingga di Desa Sitiarjo," ucapnya.
Ditambah memasuki musim tanam padi, membutuhkan banyak irigasi air. Dan saat musim tanam hingga panen pun tidak sekali dua kali namun bisa dua hingga tiga kali per tahun. Sedangkan saat ini, para petani pasrah dengan kondisi yang ada.
"Perkiraan dengan masa panen padi tidak hanya satu kali dalam setahun, melainkan bisa dua hingga tiga kali per tahun," ungkapnya.
Arif berharap, nantinya dapat ditemukan solusi untuk perbaikan dam tersebut. Diharapkan pemerintah baru nantinya dapat mewujudkan perbaikan dam tersebut.
"Ke depannya semoga bisa dibangun oleh pemerintahan baru nantinya yang fokus di ketahanan pangan. Karena program Presiden terpilih Bapak Prabowo Subianto, ketahanan pangan itu menjadi konsep utama," tuturnya. ml-02/dsy
Editor : Desy Ayu