SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Beberapa hari yang lalu, saya diundang buka puasa bersama (bukber) Arumi Bachsin, istri Wagub Emil Elestianto Dardak, di rumahnya. Mantan model dan pemeran Indonesia ini menjamu tamu dengan hidangan sederhana.
Ini kebiasaannya, bila saat berbuka puasa tanpa suami, ia terbiasa minum teh dan kue klepon serta kue lumpur kesukaannya. Kebiasaan ini acapkali sering dilakukan, sebab sebagai pejabat, suaminya sibuk bukber dengan publik.
Ya bukber, merupakan bagian penting dalam budaya Ramadhan umat Muslim di seluruh dunia. Bukber untuk memperkuat ikatan sosial dan spiritual.
Sejarah Islam mengajarkan tradisi berbuka puasa bersama (ifthar jama'i) sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW, di mana beliau sering berbuka puasa bersama para sahabatnya di Masjid Nabawi.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, disebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan makan bersama dan membaca basmalah agar mendapatkan berkah.
Awalnya sejumlah delegasi dari Thaif yang baru masuk Islam memutuskan berdomisili sementara di kota Madinah. Rasulullah SAW bersama Bilal bin Rabah mengantarkan sajian berbuka dan sahur kepada mereka. Khalifah Umar bin Khattab meneruskan tradisi baik tersebut.
Pada 71 H didirikannya Dar Ad Dhiyafah, sebuah lembaga khusus untuk menyambut para tamu dan melayani mereka yang berpuasa. Sahabat mulia Abdullah bin Umar memiliki kebiasaan berbuka puasa bersama anak yatim dan orang miskin.
Bahkan, terkadang putra Umar bin Khattab itu sengaja menunggu datangnya fakir miskin ke rumahnya sebelum memulai berbuka puasa bersama keluarganya.
Kebaikan itu dicontoh dari generasi ke generasi hingga sekarang. Jaman itu ada seorang Sultan yang ingin bertemu langsung dan berbuka puasa bersama rakyatnya. Di momen tersebut, rakyat dengan rela hati mendoakan kebaikan untuk Sultan.
Juga para menteri dan pejabat lainnya, ikut membuka lebar-lebar rumahnya tiap hari Senin dan Jumat sepanjang Ramadan.
Rakyat dijamu untuk berbuka puasa dengan berbagai macam hidangan, semisal buah-buahan, minuman, kacang-kacangan, serta berbagai jenis makanan lainnya.
Acara buka puasa bersama itu biasanya diiringi dengan bacaan Alqur’an yang merdu. Bahkan di Mesir, Ahmad Ibn Thulun pendiri Dinasti Thulun pada 868 M-967 M, mengumpulkan para jenderal, saudagar, dan tokoh-tokoh penting ikut jamuan pada hari pertama puasa di Masjid Amru Bin ‘Ash.
Selama Ramadan, ia mengeluarkan tak kurang dari 1.100 jenis makanan. Tradisi memberikan buka puasa ini berlanjut hingga kini. Meski jenis makanannya tak lagi sefantastis masa itu. Subhanallah. Semoga jamuan bukbernya berkah. ([email protected])
Oleh:
Hj. Lordna Putri
Editor : Moch Ilham