Pemberdayaan Masyarakat dalam Menjamin Kemanjuran Obat

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Dewi Isadiartuti, Guru Besar Ilmu Farmasi Fisik, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. SP/ NA
Dewi Isadiartuti, Guru Besar Ilmu Farmasi Fisik, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. SP/ NA

i

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Gerakan masyarakat cerdas menggunakan obat (GEMA CERMAT), merupakan program nasional yang mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilannya dalam menggunakan obat secara rasional, aman, dan tepat. Gerakan ini digagas oleh Kementerian Kesehatan Indonesia  berdasarkan   SK Menteri Kesehatan RI nomor HK.02.02/MENKES/427/2015. Mengapa masyarakat diajak berpartisipasi dalam pengelolaaan obat ?

Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk memengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia.

Masyarakat adalah pengguna obat, yang merupakan  komoditas spesifik yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Di rumah kita  dapat menyimpan obat untuk mengatasi keadaan darurat seperti demam atau obat yang diminum secara rutin untuk mengatasi penyakit kronis. Kemanjuran obat dalam menyembuhkan penyakit sangat dipengaruhi oleh kualitas sediaan obat yang kita konsumsi.  

Sediaan obat mengandung bahan aktif dengan dosis tertentu yang berkasiat mencegah, menyembuhkan, memulihkan penyakit, dan meningkatkan kesehatan.  Selain itu terdapat juga bahan tambahan lain yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas dan kemanjuran obat. Sediaan obat dapat berupa sediaan padat (seperti tablet, kapsul, pil, serbuk), sediaan semi padat (salep, krim, gel), dan sediaan cair (seperti sediaan sirup, sediaan injeksi, sediaan tetes mata).

Sediaan obat dibuat di Industri farmasi dengan teliti sesuai dengan rancangan mutu obat yang telah ditetapkan dengan mengacu pada pedoman cara pembuatan obat yang baik (CPOB).

Sediaan  jadi akan didistribusikan dari industri farmasi  ke layanan kesehatan seperti apotek, puskesmas, rumah sakit, dan pada akhirnya sampai ke tangan pengguna/pasien. Dalam perjalanannya sediaan obat akan mengalami paparan lingkungan seperti gesekan saat didistribusikan, suhu yang berubah-ubah, kelembaban, paparan cahaya matahari, dan paparan udara yang dapat mengakibatkan penurunan kualitasnya.

Bahan aktif dalam sediaan obat merupakan senyawa kimia yang mudah mengalami perubahan akibat paparan lingkungan, sehingga dapat menurunkan stabilitasnya. Suhu merupakan salah satu faktor paparan lingkungan yang sangat memengaruhi stabilitas senyawa kimia bahan aktif.

Setiap bahan aktif memiliki suhu stabilitas optimalnya. Terdapat berbagai macam suhu penyimpanan menurut farmakope, yaitu suhu beku ( kurang dari 2 °C), suhu dingin (2- 8 °C), suhu sejuk (8-15 °C), suhu kamar (15-30 °C), dan suhu hangat (30-40 °C). Pada etiket atau kemasan sediaan obat dapat dibaca rekomendasi suhu penyimpanan yang akan bermanfaat dalam mempertahankan stabilitas sepanjang usia gunanya.

Suhu yang semakin meningkat seringkali dikaitkan dengan peningkatan reaksi kimia yang terjadi dalam sediaan obat yang berdampak pada ketidakstabilan. Reaksi kimia terjadi secara intens dalam lingkungan air, dimana molekul obat berada dalam keadaan molekuler.

Dengan menurunkan suhu penyimpanan dapat menurunkan reaksi kimia yang mungkin terjadi antara bahan aktif dengan bahan lain dalam sediaan atau reaksi antara bahan aktif dengan pembawa air yang digunakan, atau bahan aktif dengan oksigen yang ada di udara.

Namun yang perlu mendapat perhatian adalah penurunan suhu penyimpanan dapat berdampak pada penurunan kelarutan bahan-bahan yang ada dalam sediaan obat cair yang dapat diamati sebagai terbentuknya kristal atau bahan yang mengendap di bagian bawah wadah/botol.

Selain itu penurunan suhu juga dapat berdampak pada perubahan wujud zat dari cair menjadi padat. Terjadinya perubahan wujud zat juga akan berdampak pada perubahan struktur kristal (polimorfisme) bahan aktif dalam sediaan.Ketidakstabilan sediaan obat dapat terjadi secara kimia, fisika, dan mikrobiologi.

Ketika sediaan obat sudah tidak memiliki karakteristik seperti saat awal dibuat dalam batas persyaratan yang ditentukan  maka sediaan dikategorikan tidak stabil. Ketidakstabilan sediaan obat dapat dipicu saat obat dibuka atau dikeluarkan dari kemasannya, sehingga sediaan obat terpapar oleh lingkungannya (suhu, lembab, udara, cahaya).

Ketidakstabilan secara kimia ditandai dengan perubahan struktur molekul bahan aktif akibat berbagai reaksi kimia seperti hidrolisis, oksidasi dan lain-lain. Pada beberapa sediaan obat perubahan struktur kimia bahan aktif ada kalanya ditandai dengan perubahan secara fisik, seperti perubahan warna, bau, konsistensi, terbentuknya gas, atau terbentuknya endapan pada sediaan cair.

Namun seringkali perubahan struktur kimia bahan aktif tidak diikuti dengan perubahan secara fisik. Pada sediaan cair yang digunakan lebih dari satu kali pemakaian, pembukaan wadah dapat menyebabkan masuknya mikroorganisme ke dalamnya yang dapat mengakibatkan kerusakan obat akibat pertumbuhan bakteri atau jamur di dalamnya.

Selain itu sediaan obat cair yang tidak ditutup rapat kembali setelah digunakan akan menyebabkan pembawa menguap. Hal-hal tersebut akan menyebabkan ketidakstabilan sediaan obat, yang akan berdampak pada perubahan kadar obat sehingga menurunkan kemanjuran obat saat digunakan.

Dengan demikian masyarakat sebagai ujung tombak pengguna obat perlu memahami perannya dalam mengelola dan menyimpan obat dengan benar. Melalui edukasi yang diberikan  atas kerjasama akademisi, organisasi profesi apoteker (Ikatan Apoteker Indonesia), kader kesehatan dengan kader PKK, diharapkan kesadaran masayarakat akan pentingnya mengelola obat dengan benar dapat terwujud. na

 

Penulis: Dewi Isadiartuti

Guru Besar Ilmu Farmasi Fisik

Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Berita Terbaru

Dugaan Korupsi di Pajak dan BC Terlalu Banyak

Dugaan Korupsi di Pajak dan BC Terlalu Banyak

Jumat, 06 Feb 2026 00:40 WIB

Jumat, 06 Feb 2026 00:40 WIB

MAKI: Kebocoran Penerimaan Negara Akibat Tata Kelola Pajak yang Buruk Sudah Masuk Kategori Darurat Nasional            SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Masya…

Menkeu Mulai Shock Therapy Pejabat Pajak dan BC

Menkeu Mulai Shock Therapy Pejabat Pajak dan BC

Jumat, 06 Feb 2026 00:37 WIB

Jumat, 06 Feb 2026 00:37 WIB

34 Pejabat Bea Cukai dan  40-45 Pejabat Direktorat Jenderal Pajak Dibuang ke Tempat Sepi, dari Wilayah Gemuk Usai OTT KPK       SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - …

Restitusi Pajak Puluhan Miliar Diatur Pejabat Pajak Dalang Wayang Kulit

Restitusi Pajak Puluhan Miliar Diatur Pejabat Pajak Dalang Wayang Kulit

Jumat, 06 Feb 2026 00:32 WIB

Jumat, 06 Feb 2026 00:32 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - KPK menyita barang bukti berupa uang saat operasi tangkap tangan (OTT) di KPP Madya Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel).…

Guru dan Dosen Gugat ke MK, APBN Jangan untuk MBG

Guru dan Dosen Gugat ke MK, APBN Jangan untuk MBG

Jumat, 06 Feb 2026 00:28 WIB

Jumat, 06 Feb 2026 00:28 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Penggunaan anggaran pendidikan dalam APBN untuk makan bergizi gratis (MBG) kembali digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK). Kali ini,…

Bulan Syaban

Bulan Syaban

Jumat, 06 Feb 2026 00:25 WIB

Jumat, 06 Feb 2026 00:25 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Bulan Syaban merupakan bulan kedelapan dalam kalender Hijriah dan termasuk juga bulan mulia yang dimana letak waktunya berada…

Jokowi Ajak PSI Mati-matian, Diduga Pertahankan Dinastinya

Jokowi Ajak PSI Mati-matian, Diduga Pertahankan Dinastinya

Jumat, 06 Feb 2026 00:23 WIB

Jumat, 06 Feb 2026 00:23 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Judul utama harian Surabaya Sore edisi Rabu (4/2) kemarin "PSI Siap Mati-matian Ikuti Jokowi". Judul ini terkesan bombastis. Tapi…