SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Universitas Airlangga (Unair) kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan mengukuhkan enam guru besar baru dari Fakultas Farmasi.
Tak sekadar seremoni akademik, momen ini menjadi tonggak penting dalam upaya membangun kemandirian industri kesehatan nasional, yang selama ini masih bergantung pada impor bahan baku obat.
Keenam guru besar yang resmi menyandang gelar tersebut adalah:
• Prof. Dr. apt. Nuzul Wahyuning Diyah, Dra., M.Si.
• Prof. Dr. apt. Yulistiani, Dra., M.Si.
• Prof. Dr. apt. Dewi Isadiartuti, Dra., M.Si.
• Prof. apt. Tutik Sri Wahyuni, S.Si., M.Si., Ph.D.
• Prof. apt. Marcellino Rudyanto, Drs., M.Si., Ph.D.
• Prof. apt. Hadi Poerwono, Drs., Ph.D.
Mereka merupakan pionir dalam riset efisiensi produksi obat dan pengoptimalan potensi lokal sebagai bahan baku farmasi. Dengan fokus pada pengembangan teknologi dan inovasi, keenamnya diharapkan menjadi katalis perubahan dalam sistem kesehatan Indonesia yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Rektor Unair, Prof. Dr. Mohammad Nasih, MT, Ak., CA, menegaskan bahwa pengukuhan ini adalah bagian dari langkah strategis universitas dalam menjawab tantangan bangsa, khususnya di sektor kesehatan.
"Kita masih mengimpor 90 persen bahan baku obat, padahal kekayaan alam Indonesia sangat melimpah. Ini saatnya kita bertransformasi," kata Prof Nasih.
Hingga 2025, Unair menargetkan melahirkan lebih dari 40 guru besar baru sebagai bukti konkret komitmen terhadap penguatan kapasitas akademik dan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Hal ini bukan hanya sekadar simbol prestasi, tetapi para guru besar ini dipandang sebagai agen perubahan yang siap terjun langsung, membawa hasil riset ke ranah implementasi.
"Mereka bukan hanya cendekiawan di menara gading, tapi pejuang di garis depan inovasi. Inilah bentuk nyata kontribusi Unair sebagai kampus berpengaruh, baik nasional maupun global," pungkas Prof. Nasih. lni
Editor : Desy Ayu