Ngaku Miliki Akun di Dark Web Sejak 2020, Aktif di Beberapa Platform Lain Bertransaksi dengan Crypto
SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Penangkapan pria asal desa Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara, dengan inisial WFT (22) hingga Jumat (3/10) masih jadi sorotan nitizen. WFT, diduga melakukan akses ilegal dan mengaku sebagai hacker 'Bjorka'. Ia telah ditangkap Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya.
Polisi menangkap WFT (22) yang diduga mengaku pemilik akun Bjorka. WFT juga mengaku sebagai pemilik akun X Bjorka dengan username @bjorkanesia. Dia, hingga awal Oktober 2025 ini mengklaim telah meretas 4,9 juta data nasabah sebuah bank swasta.
Wakil Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Fian Yunus mengatakan WFT diduga telah mengeksplor dan bertransaksi di dark web sejak 2020. “Pelaku sudah memiliki akun di dark web sejak 2020,” ujar Fian dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, pada Kamis, 2 Oktober 2025.
Sebelumnya dia sempat aktif di beberapa platform lain, tetapi platform itu telah ditutup oleh interpol yang bekerja sama dengan berbagai negara seperti kepolisian Prancis, Inggris, dan Amerika. “Sehingga pelaku akan lompat dari satu aplikasi dark web ke aplikasi dark web yang lain,” kata dia.
Ngaku Hacker 'Bjorka'
Polisi ungkapn modus WFT,mengelabui polisi hingga begitu susah dilacak.
Saat dibawa ke ruang konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (2/10/2025), pria itu memakai mengenakan baju tahanan warna oranye dan bermasker.
Saat itu, Ia tampak mengenakan baju tahanan warna oranye dan masker saat dibawa ke ruang konferensi pers.
ia yang mengaku sebagai hacker 'Bjorka' dan meretas 4,9 juta data nasabah bank itu sudah mengarungi dark web sejak tahun 2020.
"Pelaku kita ini bermain di dark web tersebut, di mana di dark web tersebut yang bersangkutan sudah mulai mengeksplore sejak tahun 2020," kata Wakil Direktur Siber Direktorat Siber Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus, Kamis (2/10/2025).
Fian mengungkapkan, WFT beberapa kali mengubah username miliknya dari Bjorka, menjadi SkyWave, Shint Hunter hingga terakhir Opposite6890 pada Agustus 2025. Dia melakukan itu untuk mengelabui aparat.
"Jadi tujuan pelaku melakukan perubahan nama ini adalah untuk menyamarkan dirinya, untuk menyamarkan dirinya dengan membuat menggunakan berbagai macam, tentunya email atau nomor telepon atau apapun itu sehingga yang bersangkutan sangat susah untuk dilacak oleh aparat penegak hukum," terangnya.
Gunakan Crypto Currency
Fian menyebut WFT mengklaim mendapatkan data institusi luar negeri ataupun dalam negeri, perusahaan kesehatan hingga perusahaan swasta untuk diperjualbelikan.
"Berapa uang yang didapatkan ini juga kita belum bisa mendapatkan fakta secara jelas. Tapi pengakuannya sekali dia menjual data itu kurang lebih nilainya puluhan juta. Jadi tergantung orang-orang yang membeli data yang dia jual, melalui dark forum. Pada saat diperjualbelikan pelaku menerima pembayaran dengan menggunakan crypto currency," ungkapnya.
Dari hasil pemeriksaan, terungkap WFT sudah melakukan aktivitas di media sosial dan mengaku sebagai Bjorka sejak 2020 silam. WFT tercatat juga memiliki akun di dark forum dengan nama Bjorka.
Pada 5 Februari 2025 akun dark forum milik WFT menjadi sorotan publik. Alhasil, ia pun mengganti nama akun tersebut menjadi SkyWave.
"Setelah dia mengganti (SkyWave), kemudian pelaku melakukan posting terhadap contoh-contoh atau sampel tampilan akses perbankan atau mobile banking salah satu nasabah bank swasta," ucap Edco.
"Kemudian setelah itu di bulan Februari juga pelaku meng-upload-nya melalui akun X yang bernama @bjorkanesiaa. Setelah itu dia akan mengirim pesan kepada bank yang dimaksud dengan niat untuk melakukan pemerasan," sambungnya.
Bjorka Seorang Hacker Anonim
Dikutip dari akun CodePolitan, 10 Oct 2024, dicatat Bjorka, adalah hacker yang berhasil mengguncang Indonesia dengan berbagai aksi peretasan, termasuk kebocoran data NPWP baru-baru ini. Meski identitasnya masih misterius, dampak dari aksinya sangat nyata dan mengkhawatirkan.
Bjorka telah menunjukkan kepada kita bahwa sistem keamanan siber di Indonesia masih memiliki banyak celah yang perlu segera diperbaiki.
Bjorka adalah seorang hacker anonim yang namanya mencuat karena berbagai aksi peretasan yang menggemparkan Indonesia. Salah satu aksinya yang paling heboh adalah klaimnya berhasil meretas data pribadi lebih dari 6 juta wajib pajak, termasuk data tokoh penting seperti Presiden Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka. Meskipun identitas aslinya belum terungkap, Bjorka dikenal aktif di forum-forum internet dan sering mempublikasikan data yang ia klaim diperoleh dari sistem pemerintahan atau perusahaan besar di Indonesia.
Bjorka pertama kali menarik perhatian ketika ia merilis data pribadi sejumlah pejabat tinggi. Sejak saat itu, aksinya semakin berani, dengan meretas data sensitif warga negara, termasuk data vaksinasi dan informasi pribadi lainnya. Aksi terbarunya, yaitu kebocoran data Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), menjadi sorotan besar dan mengundang kekhawatiran terkait keamanan data di Indonesia.
Meski begitu, sampai sekarang, siapa Bjorka sebenarnya masih menjadi misteri besar yang belum terpecahkan.
Kebocoran Data NPWP
Bjorka bukan sosok baru dalam dunia siber Indonesia. Sejak beberapa tahun terakhir, hacker ini sudah terlibat dalam sejumlah peretasan yang menyedot perhatian publik. Namun, kebocoran data NPWP merupakan salah satu aksi yang paling besar dan menggemparkan. Aksi peretasan ini melibatkan jutaan data pribadi, yang jika benar terjadi, bisa berdampak luas pada privasi dan keamanan masyarakat.
Peretas seperti Bjorka biasanya bergerak dalam bayang-bayang, menjaga anonimitas mereka untuk menghindari pelacakan oleh pihak berwenang. Namun, berbeda dengan kebanyakan hacker yang lebih suka bekerja dalam diam, Bjorka justru kerap tampil di forum publik, menyuarakan klaim dan protesnya terhadap pemerintah Indonesia dan sistem keamanan yang ia anggap lemah.
Jika kita melihat pola serangan Bjorka, kebanyakan dari aksinya melibatkan pengambilalihan data dari lembaga-lembaga besar yang memiliki celah dalam sistem keamanan. Ia seringkali memanfaatkan kelemahan-kelemahan kecil di dalam sistem untuk mencuri data dalam jumlah besar. Teknik yang digunakan oleh Bjorka termasuk serangan melalui celah keamanan aplikasi, pencurian kredensial, hingga eksploitasi bug dalam sistem server.
Salah satu alasan mengapa Bjorka terus berhasil dalam aksinya adalah karena lemahnya sistem keamanan di banyak institusi Indonesia. Meskipun sudah banyak laporan kebocoran data sebelumnya, tampaknya belum ada langkah tegas yang diambil oleh pemerintah atau perusahaan-perusahaan terkait untuk memperkuat sistem keamanan mereka.
Penyalahgunaan Data
Kebocoran data NPWP bukan hanya soal privasi, tetapi juga menyangkut keamanan dan potensi penyalahgunaan data. Jika data NPWP bocor, maka ada risiko bahwa informasi tersebut bisa digunakan untuk tindakan kriminal seperti penipuan pajak, pencurian identitas, hingga pemerasan. Selain itu, kebocoran data ini juga bisa mengakibatkan rusaknya reputasi pemerintah dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keamanan data negara.
Dalam konteks yang lebih luas, kebocoran ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam hal keamanan siber
Meski aksinya dianggap melanggar hukum, tidak sedikit yang memandang Bjorka sebagai sosok yang berani. Siapa bjorka sebenarnya? Bagi sebagian netizen, Bjorka dianggap sebagai pahlawan karena ia memperlihatkan kelemahan sistem keamanan di Indonesia, yang seharusnya lebih kuat dalam melindungi data warga negara. Banyak yang merasa bahwa Bjorka memberikan peringatan penting bahwa sistem kita masih jauh dari sempurna. n jk/erc/cp/rmc
Editor : Moch Ilham