Di Jantung Malam Jawa Timur: Ketika BPBD Menjaga Daerah yang Tak Pernah Benar-Benar Tenang

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak saat bertandang ke ruang Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana atau Pusdalops, kantor BPBD Provinsi Jawa Timur. Tampak Kabid. SP/ Solihan Arif
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak saat bertandang ke ruang Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana atau Pusdalops, kantor BPBD Provinsi Jawa Timur. Tampak Kabid. SP/ Solihan Arif

i

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo – Malam di Jawa Timur tidak pernah benar-benar hening. Ada bunyi samar air yang menuruni atap-atap rumah, ada angin yang menyelip di sela-sela perkampungan, dan ada denting alat komunikasi yang menyala di sebuah gedung di Surabaya Selatan, gedung yang, bagi jutaan orang, adalah garis terakhir pertahanan mereka dari kemarahan alam.

Bangunan itu milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, tempat Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana atau Pusdalops berdiri sebagai simpul informasi yang tak pernah tidur. Dan pada Minggu malam, 23 November 2025, ketika sebagian besar kota sudah meredup, seorang tamu tiba dengan langkah yang lebih tenang daripada hujan yang jatuh.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mendatangi gedung itu sekitar pukul 22.00. Ia datang tanpa kawalan—cukup dengan rasa tanggung jawab yang hampir sama beratnya dengan awan-awan yang menggantung di atas kota.

Ruang Kendali yang Mengingatkan Kita pada Rapuhnya Kehidupan

Begitu membuka pintu Pusdalops, seseorang akan mendapati suasana yang berbeda dari pusat pemerintahan mana pun. Cahaya monitor berkelebat dalam warna biru dingin yang memetakan seluruh Jawa Timur. Di layar lain, titik-titik merah menandai lokasi banjir yang sedang berkembang; grafik curah hujan naik-turun seperti irama napas manusia yang cemas.

Di ruangan itu, Wagub Emil melihat bagaimana banjir tengah menjalari Gresik, Pasuruan, Jombang, dan sebagian Surabaya. Para operator, yang wajahnya memantulkan cahaya layar, melaporkan suara-suara dari lapangan: derasnya arus sungai, evakuasi warga rentan, logistik yang harus bergerak sebelum terlalu larut.

Dengan suara stabil, Emil menghubungi Kepala Pelaksana BPBD di wilayah paling terdampak. Koneksi telepon itu adalah jembatan antara pemimpin provinsi dan petugas lapangan yang bekerja di bawah hujan, di bawah tekanan, dan di bawah kebutuhan warga yang terkadang lebih banyak daripada tenaga yang tersedia.

Percakapan singkat itu membahas hal-hal yang, bagi sebagian orang, mungkin tampak kecil—sebuah perahu karet tambahan, jalur evakuasi yang perlu dialihkan, logistik yang harus dikirim sebelum air naik. Tetapi bagi warga yang menunggu, hal-hal kecil itu adalah seluruh harapan mereka malam itu.

Jejak Panas Semeru yang Tidak Pernah Menghilang

Namun di provinsi yang luas ini, bencana jarang datang sendirian. Di sisi selatan, Gunung Semeru—raksasa yang hidup dan berubah—kembali memperlihatkan aktivitas. Guguran material vulkanik di Kecamatan Pronojiwo menjadi catatan penting dalam paparan Kabid Kedaruratan dan Logistik, Satriyo Nurseno, serta Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Dhany Aribowo.

Besok pagi (24/11/2025), kata Satriyo, alat berat akan diturunkan untuk membersihkan jalur penghubung yang tertutup abu dan batu. Dalam liputan kebencanaan, jalan bukan sekadar jalan. Ia adalah jalur bagi oksigen kehidupan: bahan makanan, bantuan kesehatan, pengungsi yang harus dipindahkan, dan pemulihan yang harus berlangsung cepat.

“Pemenuhan kebutuhan dasar warga tetap prioritas utama,” ujar Satriyo. “Dapur umum, air bersih, dan kesehatan harus terjaga.”

Di balik suara tenangnya, tersimpan satu kesadaran: bahwa bencana alam tidak pernah memberi manusia terlalu banyak waktu.

Sekdaprov dan Upaya Mengikat Semua Titik Menjadi Satu Sistem

Hampir seminggu sebelumnya, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, berdiri di ruangan yang sama. Malam itu, ia tidak mencari foto atau liputan. Ia ingin memastikan satu hal yang sederhana tetapi sangat penting: bahwa sistem pelaporan bencana bekerja, bukan sekadar ada.

“Bencana bisa datang dari mana saja,” katanya, didampingi Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto. “Kesiapsiagaan di semua daerah harus diperkuat.”

Dalam wawancara-lapangan ala National Geographic, sering kali yang menjadi inti liputan bukanlah pernyataan pejabat—melainkan realitas ekologis yang mereka hadapi. Dan Jawa Timur menghadapi realitas yang kompleks: dari pesisir utara yang ruap oleh air laut, ke dataran tengah yang rentan banjir, hingga rangkaian gunung aktif yang membentuk tulang punggung provinsi.

Pusdalops: Tempat Data Berubah Menjadi Keputusan yang Menyelamatkan

Di Pusdalops BPBD Jatim, sinyal radio bercampur dengan data satelit, laporan desa, kamera pemantau sungai, dan peringatan dari BMKG serta PVMBG. Informasi bergerak seperti sungai: bercabang, bertemu, dan akhirnya mengarah ke satu muara keputusan.

Operator mengawasi setiap indikator—ketinggian air, intensitas hujan, potensi longsor, status gunung api, hingga laporan kebakaran. Semuanya dipetakan, divalidasi, lalu disampaikan ke kepala bidang dan pimpinan daerah.

Dalam dunia kebencanaan, kecepatan sering kali menjadi batas antara penyelamatan dan kehilangan.

Jawa Timur: Provinsi Dengan Wajah Alam yang Berlapis-Lapis

Jawa Timur adalah provinsi yang hidup dalam kontras. Ia memiliki gunung berapi aktif, pesisir panjang, ekosistem karst, sungai besar, dan pemukiman padat. Di beberapa musim, semua elemen ini dapat berubah dari keindahan menjadi ancaman.

Inilah sebabnya BPBD Jatim membangun koordinasi dengan TNI/Polri, relawan, organisasi masyarakat, hingga desa tangguh bencana. Mereka menyalurkan logistik, membuka posko, memobilisasi alat berat, dan memastikan komunikasi lintas wilayah tidak terputus.

Di medan lapangan, batas antara instansi sering kali hilang—yang tersisa hanya satu misi: menyelamatkan sebanyak mungkin.

Kehadiran Wagub Emil dan Sekdaprov Adhy di Pusdalops bukan sekadar inspeksi. Di dunia kebencanaan, moral petugas seringkali lebih menentukan daripada perangkat teknologi. Ketika pimpinan daerah hadir, ia membawa pesan simbolik bagi para operator dan relawan: bahwa mereka tidak bekerja sendiri.

Di ruang itu, setiap operator mengetahui bahwa laporan yang mereka kirim bukan hanya angka. Itu adalah cerita manusia. Dan manusia, bagi mereka, tidak pernah menjadi statistik.

Malam yang Menjadi Penjaga

Jawa Timur adalah provinsi yang luas dan kuat. Tetapi seperti semua wilayah di pinggir cincin api, ia hidup berdampingan dengan alam yang berubah-ubah. Dari satu musim ke musim lain, dari satu erupsi ke erupsi lain, dari satu banjir ke banjir berikutnya—Jawa Timur terus diuji.

Dan pada malam-malam seperti Minggu itu, ketika sebagian wilayah menunggu dengan cemas, Pusdalops berdiri sebagai ruang yang menyala di tengah gelap: sebuah pusat pengawasan yang menjaga agar rakyat tidak terkejut oleh amukan alam.

Bahwa menjaga keselamatan bukanlah tugas yang diberi batas waktu. Itu adalah pengabdian yang dibayar dengan malam-malam panjang, dan dipertahankan dengan ketenangan yang jarang disadari publik. arf

Berita Terbaru

PSI Siap Mati-matian Ikuti Jokowi

PSI Siap Mati-matian Ikuti Jokowi

Selasa, 03 Feb 2026 19:07 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:07 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) siap berjuang mati-matian. Menurutnya pernyataan Jokowi itu menjadi dorongan moral dan militansi…

Setelah Lengser dari KSP, Moeldoko Mengeluh

Setelah Lengser dari KSP, Moeldoko Mengeluh

Selasa, 03 Feb 2026 19:06 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:06 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Setelah tak jabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP) dan kini jadi Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia…

Gus Ipul-Gus Yahya, ke Istana Bareng

Gus Ipul-Gus Yahya, ke Istana Bareng

Selasa, 03 Feb 2026 19:02 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:02 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengundang organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam pada Selasa (3/2) siang. Apa yang akan…

Komnas Anak Ingatkan Konflik Terekspos di Media Berdampak Buruk

Komnas Anak Ingatkan Konflik Terekspos di Media Berdampak Buruk

Selasa, 03 Feb 2026 18:59 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:59 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Komnas Anak berharap kasus ini tidak berlarut-larut. Sebab, konflik yang terus menerus terekspos di media dikhawatirkan akan…

Kisah Anak-Cucu Almarhum Emilia Contesa : Denada Nangis, Ressa Siap Islah

Kisah Anak-Cucu Almarhum Emilia Contesa : Denada Nangis, Ressa Siap Islah

Selasa, 03 Feb 2026 18:56 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:56 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Drama perseteruan antara pihak Ressa dan Denada memasuki babak baru yang makin panas. Tak main-main, Dino Rossano Hansa selaku Om…

Pimpinan BUMN Akal-akalan, Perlu Diungkap Modusnya

Pimpinan BUMN Akal-akalan, Perlu Diungkap Modusnya

Selasa, 03 Feb 2026 18:55 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:55 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saat pidato di Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026), Presiden Prabowo…