SURABAYAPAGI.com, Gresik – Peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak kembali menjadi perhatian utama di tengah derasnya arus digital. Isu ini mengemuka dalam seminar parenting yang diselenggarakan Ikatan Wali Murid (Ikwam) SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kebomas, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (29/11/2025).
Hadir sebagai narasumber, Dr. Idha Rahayuningsih, S.Psi, M.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik, yang memaparkan bagaimana anak usia 7–12 tahun berada pada fase penting dalam perkembangan kognitif dan sosial.
Menurut Idha, masa tersebut merupakan tahap transisi dari pola pikir konkret menuju kemampuan berpikir logis. “Di fase ini anak sudah bisa memecahkan masalah nyata, memahami konsep sebab-akibat, serta memiliki kemampuan mengelompokkan objek secara sistematis,” jelasnya.
Mereka juga mengalami peningkatan empati, perkembangan bahasa, serta penguatan identitas dan rasa percaya diri, terutama melalui aktivitas di sekolah.
Idha menuturkan bahwa dunia digital telah membentuk kebiasaan belajar baru pada anak. Media visual seperti gambar, video, dan aplikasi interaktif lebih mudah menarik perhatian mereka dibandingkan teks panjang.
Anak kini juga terbiasa multitasking serta belajar secara langsung melalui praktik. Meski gawai dapat membuat anak cenderung individual, teknologi tetap membuka peluang kolaborasi, seperti melalui panggilan video atau platform edukasi daring.
Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan digital tanpa pendampingan membawa risiko penurunan keterampilan motorik, kreativitas bermain, hingga interaksi sosial. “Literasi digital tetap diperlukan agar anak mampu memilah informasi dan menjaga kesehatan fisik maupun emosionalnya,” tegas Idha.
Dalam paparannya, Idha menekankan penerapan digital parenting, yaitu cara pengasuhan yang memasukkan aspek teknologi ke dalam pola asuhan sehari-hari. Digital parenting bertujuan melindungi anak dari konten negatif sekaligus membentuk kebiasaan digital yang sehat dan beretika.
Beberapa strategi yang direkomendasikan meliputi pendampingan aktif saat anak menggunakan perangkat digital, penerapan aturan screen time, orang tua menjadi role model dalam penggunaan teknologi, menyediakan konten positif, menyeimbangkan aktivitas digital dengan aktivitas fisik, serta mengajarkan literasi dan etika digital.
Manfaat dari pendekatan ini, kata Idha, tidak hanya meningkatkan keamanan anak di ruang digital tetapi juga mempererat hubungan orang tua dan anak. Namun ia mengakui, konsistensi orang tua dan kemampuan mereka memahami teknologi juga menjadi tantangan tersendiri.
Idha juga menawarkan konsep hybrid, yaitu menggabungkan aktivitas digital dengan kegiatan fisik. Beberapa bentuk penerapannya antara lain:
- Integrasi belajar dan bermain yang memanfaatkan teknologi namun tetap menonjolkan interaksi sosial dan aktivitas gerak.
- Pengaturan waktu terstruktur, misalnya anak mengerjakan kegiatan fisik atau tugas sekolah sebelum mengakses gawai.
- Keterlibatan orang tua secara langsung saat anak beraktivitas, termasuk memberikan contoh penggunaan gawai yang bijak.
- Pengembangan hobi non-digital seperti seni, olahraga, atau kerajinan tangan. Pendekatan ini, menurutnya, membutuhkan komitmen dan kesabaran. Namun hasilnya akan terlihat pada anak yang lebih seimbang—sehat secara fisik, cakap secara digital, dan matang secara sosial.
“Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat menikmati kemajuan teknologi tanpa meninggalkan aktivitas fisiknya,” tutup Idha. did
Editor : Desy Ayu