SURABAYAPAGI.com, Pacitan - Menjaga sebuah tradisi dan adat istiadat sudah menjadi harmoni di Indonesia. Salah satunya, masyarakat adat di Kabupaten Pacitan, yang menggelar ritual adat "Thetek Melek", yang dimaknai untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam agraris.
Tradisi tersebut tumbuh dari kearifan lokal sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara nilai budaya, spiritualitas, dan praktik pertanian yang diwariskan secara turun-temurun di Pacitan.Pasalnya, Ritual Thetek Melek dikenal sebagai tradisi lokal untuk menolak pagebluk dan menjaga keseimbangan alam.
"Ritual Thetek Melek bukan sekadar seremonial, melainkan doa dan ikhtiar bersama agar alam tetap bersahabat dengan petani," jelas kata Mas Aji, sapaan akrab Indrata Nur Bayuaji, Senin (22/12/2025).
Diketahui, untuk prosesi tahunan itu diikuti warga, seniman, serta unsur pemerintah daerah. Rombongan warga membawa opyak-opyakan hama dan tumpeng, diiringi tetabuhan tradisional, lalu berjalan menyusuri pematang sawah.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji turut memimpin prosesi dengan membawa bongkok, yakni pelepah kelapa berlubang, yang kemudian diserahkan kepada kepala desa setempat untuk ditancapkan di tanah. Lantas, warga lain juga mengikuti dengan menancapkan bongkok di sepanjang pematang sawah.
"Mudah-mudahan semua yang kita lakukan ini memberi manfaat, dan apa yang kita tanam menjadi berkah," harapnya.
Selanjutnya, rangkaian ritual dilanjut dengan pertunjukan seni bertema Kiblat Papat Limo Pancer serta tari orang-orangan sawah, yang merepresentasikan hubungan kosmologis manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Tak hanya itu, pada prosesi utama, Thetek Melek tahun ini juga diramaikan dengan festival budaya, jagong tani, aksi melukis seribu bongkok, serta pasar UMKM yang mendorong perputaran ekonomi warga. Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin sesepuh desa, dilanjutkan makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan syukur masyarakat. pc-01/dsy
Editor : Desy Ayu