Sunan Mayang Madu adalah Mertua Sunan Drajat, Penghubung Jalur Champa Jawa dengan Jaringan Wali Songo

author Muhajirin

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Rutinan tahlil dan  istighosah di Makam Sunan Mayang Madu di Belakang Masjid Jelang masih terus berjalan sampai saat ini. SP/IST
Rutinan tahlil dan  istighosah di Makam Sunan Mayang Madu di Belakang Masjid Jelang masih terus berjalan sampai saat ini. SP/IST

i

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Nama Sunan Mayang Madu beberapa Minggu ini menjadi perbincangan di Lamongan, khususnya pemerhati sejarah dan budaya, menyusul adanya penanda papan di Makam Sunan Drajat, yang seolah-olah  Sunan Mayang Madu adalah Sunan Drajat, padahal nama ini adalah dua tokoh yang berbeda.

Rudi Hariono, pemerhati budaya yang juga pemrakarsa pembangunan komplek makam Sunan Mayang Madu kepada surabayapagi.com pada Kamis, (12/2/2026) menegaskan kembali kalau Sunan Mayang Madu dan Sunan Drajat adalah dua tokoh yang berbeda.

Sunan Mayang Madu, kata Rudi panggilan akrab pria yang juga alumni Pondok Pesantren Sunan Drajat Paciran Lamongan ini adalah mertua dari Kanjeng Sunan Drajat.

"Sunan Mayang Madu adalah mertua dari Sunan Drajat, maka kalau pemerintah masih berpandangan bahwa dua nama itu adalah satu tokoh adalah kurang tepat, dan perlu kembali dilakukan penelitian yang mendalam," ujarnya.

Lebih jauh kata Rudi, selain mertua Sunan Drajat, nama Sunan Mayang Madu adalah tokoh yang pernah mendapatkan perdikan Jelag dan Anugerah Gelar Sunan dari Raden Fatah Sultan Demak.

Dalam sejarah Islamisasi pesisir utara Jawa lanjutnya,  nama Sunan Mayang Madu menjadi salah satu tokoh penting bukan hanya seorang pendakwah, tetapi juga figur genealogis yang menghubungkan jalur Champa–Jawa dengan jaringan Wali Songo. Untuk sebagai bahan secara ilmiah, ia lalu mencontohkan  bentuk Gapura makam dan tahun yang tertera, menunjukkan Genealogi

Sunan Mayang Madu berasal dari champa, garis keturunan Tapasi, Singosari, Champa, sebuah jalur genealogis yang sudah terjalin sejak era Raja Kertanegara melalui perkawinan politik dengan Raja Champa. 

Tapasi, putri Jawa yang menjadi permaisuri Raja Champa Jaya Simhavarman III, menjadi bukti bahwa Sunan Mayang Madu memiliki leluhur Nusantara yang sah. Jalur ini memberi legitimasi sosial yang kuat, sehingga kehadiran beliau di Jawa lebih mudah diterima.  

Sunan Mayang Madu menetap di Jelag, Tuban (kini Desa Banjarwati, Paciran, Lamongan). Bukti arkeologis berupa gapura makam berbahan bata putih dengan angka tahun 1440 menegaskan kehadirannya jauh sebelum berdirinya Kesultanan Demak. 

Bentuk gapura ini menyerupai arsitektur candi Majapahit, tetapi digunakan untuk kompleks makam Islam, sehingga menjadi bukti transisi budaya dari Hindu–Budha ke Islam," kata Rudi menegaskan.  

Hambatan Islam Sejak Masa Siti Fatimah binti Maimun

Makam Siti Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik (1082 M) adalah bukti paling awal kehadiran Islam di Jawa. Namun, Islam tidak berkembang pesat pada masa itu. Salah satu alasannya adalah strata sosial Majapahit yang sangat ketat. Ksatria: bangsawan, raja, pejabat tinggi.  

Brahmana: pendeta Hindu–Budha, pemegang otoritas spiritual. dan Waisya: pedagang, pengusaha, pengrajin.  Sudra: rakyat jelata, petani, buruh.  Jasta (Paria): golongan terendah, termasuk pendatang atau mereka yang tidak memiliki hak sosial.  

Pendatang Muslim pesisir ditempatkan sebagai jasta, sehingga sulit memperoleh legitimasi sosial. Inilah alasan mengapa sejak masa Siti Fatimah binti Maimun, Islam tidak pernah bisa berkembang luas di Jawa.  

Sunan Mayang Madu Membuktikan Genealogi Nusantara, berbeda dengan pendatang lain. Sunan Mayang Madu mampu membuktikan bahwa dirinya memiliki leluhur Nusantara (Tapasi). Bukti genealogis ini membuat status sosialnya naik dan dakwahnya lebih diterima oleh masyarakat Jawa. Dengan legitimasi genealogis dan politik, beliau berhasil menembus hambatan sosial yang selama berabad-abad menghalangi perkembangan Islam di Jawa.  

Hubungan dengan Sunan Drajat Sunan Drajat, putra Sunan Ampel, menikah dengan putri Sunan Mayang Madu yang dikenal dengan nama Kemuning/Kinanti. Pernikahan ini memperkuat jaringan dakwah sekaligus legitimasi genealogis antara keluarga Wali Songo dan tokoh Champa–Jawa. 

Dengan demikian, Sunan Mayang Madu bukan hanya tokoh dakwah, tetapi juga mertua Sunan Drajat yang memberi fondasi sosial bagi kiprah dakwah menantunya.  

Selain itu, pengakuan Politik dari Raden FatahKetika Raden Fatah mendirikan Kesultanan Demak sekitar tahun 1475 M, yang memberikan penghargaan khusus kepada Sunan Mayang Madu. Wilayah Jelag dijadikan perdikan (wilayah bebas pajak) sebagai bentuk penghormatan atas jasa dakwahnya. 

Tidak hanya itu tambah Rudi, Raden Fatah menganugerahkan gelar “Sunan Mayang Madu”, sebagaimana tercatat dalam Babad Tuban. "Raden Fatah paring gelar Sunan Mayang Madu, amargi jasaipun ngluhuraken agami Islam wonten ing Jelag Tuban,”  

Pengakuan ini menegaskan bahwa dakwah Mayang Madu tidak hanya diakui secara spiritual, tetapi juga dilegitimasi secara politik oleh kerajaan Islam pertama di Jawa.  

Bukti Arkeologis dan Tradisi Lokal Selain gapura makam, terdapat bukti arkeologis lain berupa pecahan keramik Dinasti Tiongkok yang ditemukan di laut Jelag, dikenal sebagai karang beling. Temuan ini menunjukkan adanya interaksi maritim dengan armada Tiongkok, yang kemungkinan terkait dengan ekspedisi Cheng Ho pada awal abad ke-15.  

Di sekitar makam Sunan Mayang Madu juga terdapat Gunung Dampu Awang, sebuah bukit yang dalam tradisi lisan masyarakat dikaitkan dengan kisah pelaut Tiongkok. Legenda ini memperkuat memori kolektif masyarakat tentang kedatangan armada besar dari Tiongkok dan keterkaitannya dengan tokoh dakwah pesisir Jawa.  

Warisan Sejarah

Peran Sunan Mayang Madu menunjukkan bahwa Islamisasi Nusantara bukan hanya hasil dakwah individual, melainkan juga perpaduan antara genealogi, politik, arkeologi, dan tradisi lokal.  Sebagai mertua Sunan Drajat, Mayang Madu menjadi penghubung penting antara jaringan Champa–Jawa dan Wali Songo. Gelar “Sunan” yang diberikan oleh Raden Fatah menegaskan posisinya sebagai tokoh yang dihormati dalam sejarah Islam Jawa. jir

 

Berita Terbaru

Kesehatan Gigi Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak, Ketua TP PKK Madiun Ingatkan Peran Ibu

Kesehatan Gigi Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak, Ketua TP PKK Madiun Ingatkan Peran Ibu

Sabtu, 27 Jun 2026 20:14 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 20:14 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun - Kesehatan gigi dinilai menjadi salah satu faktor penentu untuk mencegah stunting dan mendukung tumbuh kembang anak. Karena itu K…

Komisi D Segera Turun Tangan Atasi Kelangkaan Solar di Tingkat Petani dan Nelayan

Komisi D Segera Turun Tangan Atasi Kelangkaan Solar di Tingkat Petani dan Nelayan

Sabtu, 27 Jun 2026 19:45 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 19:45 WIB

SURABAYAPAGI.COM, SURABAYA – Komisi D DPRD Jawa Timur memastikan akan turun tangan menyikapi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Solar yang t…

KAI Daop 7 Madiun Pastikan Jalur Aman dan Operasional Normal Pasca-Gempa Pacitan

KAI Daop 7 Madiun Pastikan Jalur Aman dan Operasional Normal Pasca-Gempa Pacitan

Sabtu, 27 Jun 2026 19:02 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 19:02 WIB

SURABAYAPAI.com, Blitar – Gempa berskala 5.6 SR di Pacitan sore tadi ( Sabtu 27 Juni 2026), pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun p…

Kode "PWL" Terungkap di Sidang, Saksi Sebut Proyek PL Dikonsultasikan ke Maidi

Kode "PWL" Terungkap di Sidang, Saksi Sebut Proyek PL Dikonsultasikan ke Maidi

Sabtu, 27 Jun 2026 16:33 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 16:33 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Sidang dugaan korupsi berkedok CSR yang menjerat Wali Kota Madiun nonaktif Maidi mengungkap adanya kode “PWL” atau Petunjuk Pak Wali…

Rochim Kerjakan Urugan TPA Tanpa Kontrak, Saksi Sebut Atas Petunjuk Maidi

Rochim Kerjakan Urugan TPA Tanpa Kontrak, Saksi Sebut Atas Petunjuk Maidi

Sabtu, 27 Jun 2026 15:27 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 15:27 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Maidi disebut memberi petunjuk langsung terkait pengerjaan urugan di TPA Winongo senilai Rp600 juta yang diklaim sebagai CSR dari PT…

DPRD Jatim Soroti Serapan APBD Tidak Maksimal di Proyek Infrastruktur dan BTT

DPRD Jatim Soroti Serapan APBD Tidak Maksimal di Proyek Infrastruktur dan BTT

Sabtu, 27 Jun 2026 12:01 WIB

Sabtu, 27 Jun 2026 12:01 WIB

SURABAYAPAGI.COM, SURABAYA – DPRD Jawa Timur menyoroti masih adanya anggaran daerah senilai Rp2,05 triliun tidak terserap hingga akhir Tahun Anggaran 2025. R…