Eksepsi Kasus Dugaan Penipuan Rp 5 Miliar, Terdakwa Sebut Dakwaan Jaksa Kabur

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Suasana sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin, 6 Juli 2026.
Suasana sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin, 6 Juli 2026.

i

SURABAYA PAGI, Surabaya – Dua terdakwa perkara dugaan penipuan investasi senilai Rp 5 miliar, Agustin Widyawati dan Ranto Hensa Barlin Sidauruk, mengajukan eksepsi atas surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Surabaya.

Dalam sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin, 6 Juli 2026, keduanya meminta majelis hakim menyatakan dakwaan batal demi hukum atau tidak dapat diterima.

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Pujiono dengan anggota Edi Saputra Pelawi dan M. Yusuf. Agenda persidangan mendengarkan keberatan para terdakwa terhadap dakwaan jaksa.

Penasihat hukum Agustin, Arief Budi Nugroho, menilai surat dakwaan mengandung cacat formil. Menurut dia, jaksa menggabungkan sejumlah peristiwa dan lokasi berbeda ke dalam satu tindak pidana tanpa menguraikan secara jelas peran terdakwa.

"Dakwaan hanya mengutip unsur pasal penipuan tanpa menjelaskan secara konkret bentuk kebohongan yang diduga dilakukan klien kami," kata Arief di persidangan.

Ia juga menilai dakwaan tidak menjelaskan keterlibatan Agustin sebelum 19 Februari 2019, namun seluruh rangkaian perbuatan dan kerugian justru dibebankan kepada kliennya.

Selain itu, tim kuasa hukum mempersoalkan dakwaan subsidair penggelapan yang dinilai memiliki uraian sama dengan dakwaan penipuan. Menurut mereka, penuntutan juga dilakukan terlalu dini karena tagihan atas dana investasi yang sama telah diproses melalui mekanisme Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Atas dasar itu, mereka meminta majelis hakim menghentikan pemeriksaan perkara, membebaskan Agustin dari tahanan, serta memulihkan hak dan nama baiknya.

Seusai sidang, Arief mengatakan kliennya membantah tuduhan penipuan investasi. Menurut dia, fakta perkara belum sepenuhnya terungkap karena persidangan masih berada pada tahap awal.

"Masih ada fakta-fakta penting yang akan kami sampaikan pada tahap pembuktian," ujarnya.

Arief menyebut berbagai dokumen dan komunikasi menunjukkan para pihak mengetahui mekanisme serta risiko produk investasi yang dipasarkan. Karena itu, menurut dia, seluruh tanggung jawab tidak dapat dibebankan kepada Agustin.

Ia juga mengingatkan agar asas praduga tak bersalah tetap dihormati hingga ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Secara terpisah, terdakwa Ranto Hensa melalui tim kuasa hukum Basuki Rakhmad & Associates menyatakan dirinya bersama Agustin hanya berstatus marketing freelance PT OSO Sekuritas Indonesia.

"Kami tidak pernah menerima, menguasai ataupun menikmati dana pokok investasi. Seluruh dana masuk ke rekening korporasi, bukan ke rekening pribadi kami," demikian isi eksepsi yang dibacakan di persidangan.

Perkara ini berawal dari laporan polisi Nomor LP/B/268/III/RES.1.11/2020/JATIM/RESTABES SBY tertanggal 13 Maret 2020 yang diajukan Salim Himawan Saputra terkait investasi REPO saham senilai sekitar Rp 5 miliar.

Dalam laporannya, selain dua terdakwa, sejumlah direksi perusahaan penerbit investasi, direksi PT OSO Sekuritas Indonesia, serta pihak lain juga turut dilaporkan. Penyidikan sempat dihentikan melalui surat perintah penghentian penyidikan (SP3) pada November 2020 karena dinilai belum cukup bukti. Perkara kemudian dibuka kembali hingga Agustin dan Ranto ditetapkan sebagai tersangka dan kini menjalani persidangan sebagai terdakwa.

Dalam eksepsinya, kedua terdakwa menyatakan persoalan yang terjadi merupakan gagal bayar korporasi setelah perusahaan terkait menjalani proses PKPU, bukan tindak pidana penipuan atau penggelapan oleh marketing freelance.

Mereka juga mengaku mengalami kerugian materiil dan immateriil selama proses hukum berlangsung, termasuk hilangnya kesempatan usaha dan rusaknya nama baik.

Menanggapi permohonan penangguhan penahanan Agustin, Ketua Majelis Hakim Pujiono mengatakan majelis belum dapat mengabulkannya.

"Setelah kami bertiga berunding, kami belum bisa mengabulkan permintaan tersebut. Nanti akan kami pertimbangkan lagi," kata Pujiono.

Sidang akan dilanjutkan dengan agenda mendengarkan tanggapan jaksa atas eksepsi para terdakwa. Setelah itu, majelis hakim akan memutus apakah keberatan tersebut diterima atau perkara dilanjutkan ke tahap pembuktian.bd

Tag :

Berita Terbaru

Perguruan tinggi di AS Perkuat Penggunaan Perangkat AI

Perguruan tinggi di AS Perkuat Penggunaan Perangkat AI

Selasa, 29 Sep 2026 07:09 WIB

Selasa, 29 Sep 2026 07:09 WIB

SURABAYAPAGI.com - Mahasiswa ilmu komputer Jack Zemke tidak kunjung mendapatkan hasil meski telah mengirim ratusan lamaran pekerjaan yang sebagian besar…

Nilai Tukar Rupiah Rp 18.000,-

Nilai Tukar Rupiah Rp 18.000,-

Selasa, 29 Sep 2026 07:05 WIB

Selasa, 29 Sep 2026 07:05 WIB

SURABAYAPAGI.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan ini, Senin (28/9/2026), dekati l…

CSR, Dibutuhkan Pembangunan Desa

CSR, Dibutuhkan Pembangunan Desa

Selasa, 29 Sep 2026 07:03 WIB

Selasa, 29 Sep 2026 07:03 WIB

SURABAYAPAGI.com - Wamendes PDT, Ahmad Riza Patria, menegaskan penyertaan dana CSR untuk berbagai program terkait pembangunan desa yang terarah sangat…

Diluncurkan Sedan Aeris di Pasar India Rp 90 Juta

Diluncurkan Sedan Aeris di Pasar India Rp 90 Juta

Selasa, 29 Sep 2026 07:00 WIB

Selasa, 29 Sep 2026 07:00 WIB

SURABAYAPAGI.com - Produsen otomotif Tata resmi meluncurkan sedan Aeris di pasar India. Untuk membuktikan kekuatan struktur bodi serta keamanan sistem CNG,…

IMF Akui Guncangan Ekonomi Global, Akibatkan Tingkat Utang Meningkat

IMF Akui Guncangan Ekonomi Global, Akibatkan Tingkat Utang Meningkat

Selasa, 29 Sep 2026 06:56 WIB

Selasa, 29 Sep 2026 06:56 WIB

SURABAYAPAGI.com - Lembaga keuangan yang berbasis di Washington mencatat negara-negara maju membayar bunga lebih dari US$ 3,3 triliun atas obligasi pemerintah…

NIAT JAHAT RADITYA TIDAK PERNAH DIURAIKAN JPU

NIAT JAHAT RADITYA TIDAK PERNAH DIURAIKAN JPU

Selasa, 29 Sep 2026 06:50 WIB

Selasa, 29 Sep 2026 06:50 WIB

Majelis Hakim Yang Mulia, Saya ini wartawan yang sangat sabar. Sejak saya rekam pengakuan Erik Wowor, di Lantai V Gedung Direskrimum Polda Jatim tanggal 23…